Paradoks dalam estetika seni Sunda (gerak, rupa, bunyi) terletak pada keseimbangan antara kesederhanaan lahiriah (siga) dan kedalaman makna simbolik/etis (waas), serta perpaduan antara ketaatan tradisi dan kreativitas kontemporer. Seni Sunda seringkali menampilkan kontras, seperti gerakan Jaipongan yang dinamis namun tetap berakar pada halus, atau suara Gamelan yang melankolis tapi ceria.
Dalam Siga (Teknik) vs. Waas (Pengalaman Estetik), Seni rupa dan gerak seringkali tampak sederhana atau meniru bentuk alam (siga), namun menyimpan pengalaman estetik yang mendalam (waas). Kalau dari sudut Etika sebagai Estetika, Keindahan (estetika) ini tidak terpisah dari moralitas (etika). Sebuah karya dianggap estetik jika selaras dengan karakter atau nilai kehidupan, bukan hanya visual semata.
Siger atau Sineger Tengah (Keseimbangan Kontras), dalam Estetika Sunda sering menggabungkan dua hal berlawanan menjadi seimbang, contohnya dalam kawih wanda anyaran yang memadukan struktur musik tradisional dengan nuansa modern. Harmoni dalam Dinamika dalam seni gerak, seperti Jaipongan, terdapat paradoks antara kelincahan yang energik dan kelembutan gerak dasar. Paradoks inilah yang mencerminkan kearifan lokal Sunda yang menekankan pada keseimbangan, baik dalam seni maupun kehidupan.
Dalam kultur seni Sunda, estetika paradoks adalah konsep inti yang menyatukan dua kutub berlawanan untuk mencapai harmoni. Berdasarkan pemikiran Prof. Jakob Sumardjo, keindahan Sunda lahir dari ketegangan antara hal-hal yang kontradiktif namun saling menghidupkan dalam “ruang antara”. Perwujudan paradoks tersebut ada dalam tiga pilar seni Sunda, yaitu Seni Gerak (Tari), Paradoknya dalam gerak terlihat pada perpaduan antara kehalusan dan kekasaran (sifat pundungan vs heureuy).
Dalam Wayang Golek, ini menampilkan pertentangan antara nilai estetika yang tinggi/tertib (tokoh bangsawan) dengan perilaku yang kasar/kacau namun jujur (tokoh Panakawan). Karakter Tokoh dalam Gerak tari sering kali menggabungkan kewibawaan yang kaku dengan kelenturan yang dinamis, mencerminkan keseimbangan antara kontrol diri dan kebebasan batin.
Dalam Seni Rupa (Visual), Estetika rupa Sunda berakar pada hubungan timbal-balik antara alam dan rekaan. Secara Siga Lukisan & Siga Enya Ada paradoks di mana objek alam yang indah disebut “seperti lukisan”, sementara lukisan yang bagus disebut “seperti nyata” (siga enya). Hal ini menunjukkan keindahan yang tidak mematikan fungsi, namun meniru esensi kehidupan.
Dalam Simbol Primordial, penggunaan simbol kuno seperti Kujang dalam konteks modern (seperti seni underground Bandung) menciptakan paradoks antara yang sakral/tradisional dengan yang profan/kontemporer.
Kalau kita tinjau Seni Bunyi (Karawitan) Musik Sunda (seperti dalam karya Mang Koko) secara sadar mengeksplorasi ketegangan antara tradisi dan modernitas. Contohnya dalam Kawih Wanda Anyaran karya Mang Koko, ada unsur menyatukan kepatuhan pada aturan konvensional (pupuh) dengan inovasi melodi yang eksperimental, menciptakan keseimbangan antara kesederhanaan dan kompleksitas.
Dalam Estetika Instrumental vs Normatif, Suara alat musik Sunda (seperti Tarawangsa atau Gamelan Degung) sering kali memberikan kesan Agung dan Sakral, namun dimainkan dengan teknik yang sangat atraktif dan rasa emosional. Jadi Paradoks Utama dalam Modernitas, Kesenian tradisional Sunda menghadapi dilema di mana inovasi diperlukan untuk bertahan di dunia modern, namun perubahan tersebut sering kali dianggap mengikis esensi dari seni tradisi itu sendiri.
Implementasi praktis estetika paradoks pada salah satu tokoh seniman Sunda:
Implementasi praktis estetika paradoks pada tokoh seniman Sunda dapat dilihat secara nyata pada karya Mang Koko (Koko Koswara). Berdasarkan teori Estetika Paradoks yang dirumuskan oleh Jakob Sumardjo, keindahan dalam budaya Sunda sering kali lahir dari penyatuan dua hal yang bertentangan (paradoks).
Implementasi praktisnya dalam karya Mang Koko, Penyatuan Elemen Tradisional dan Modern (Kawih Wanda Anyaran) dari kreasi Mang Koko menciptakan genre Kawih Wanda Anyaran yang menggabungkan struktur lagu tradisional Sunda dengan sentuhan harmoni modern yang tidak lazim pada masanya. Ini mencerminkan paradoks antara menjaga kemurnian tradisi dan melakukan inovasi radikal.
Struktur Musikal yang Kontradiktif, dalam gubahan karawitannya, Mang Koko sering menggunakan pola laras (tangga nada) yang berbenturan namun tetap menghasilkan harmoni yang indah. Hal ini sejalan dengan konsep Completio Oppositorum (penyatuan hal yang berlawanan) dalam estetika paradoks.
Dalam Kedalaman Makna di Balik Hiburan, Mang Koko dikenal melalui lagu-lagu jenaka (seperti lagu-lagu untuk grup vokal Ganda Mekar). Secara praktis, ia menggunakan paradoks “lucu namun serius”—lirik yang tampak sepele dan menghibur sebenarnya membawa pesan kritik sosial dan nilai filosofis yang dalam.
Estetika “Siga Enya” (Seolah Nyata) melalui instrumen kacapi, di sini Mang Koko mampu merepresentasikan bunyi-bunyi alam (seperti aliran air atau kicauan burung) yang dalam pandangan Estetika Sunda disebut sebagai proses peniruan yang paradoksal, sebuah rekaan manusia yang dirasakan “lebih nyata” daripada kenyataan itu sendiri.
Estetika paradoks pada tokoh lain dalam seni pertunjukan Wayang Golek (tokoh Cepot):
Estetika paradoks pada tokoh Cepot (Astrajingga) dalam wayang golek terletak pada kontradiksi visual dan karakternya, terlihat berwajah merah menakutkan dengan gigi tonggos, namun jenaka, bijak, dan menjadi ikon hiburan. Warna merah melambangkan keberanian atau watak keras, namun Cepot justru mewakili kerakyatan, kecerdasan, dan ajaran moral yang disampaikan secara komedi.
Kalau kita rinci estetika paradoks dari tokoh Cepot atau Astrajingga ini, secara Paradoks Visual (Fisik vs. Watak), Wajah merah menyala dan gigi tonggos biasanya melambangkan sifat angkara murka dalam pewayangan. Namun, Cepot adalah tokoh Punakawan yang kocak, ramah, dan jujur.
Di dalam Paradoks Peran (Rakyat Jelata vs. Penasihat Raja), Secara struktur, Cepot adalah rakyat jelata yang serba kekurangan. Paradoksnya, ia seringkali lebih bijak dan berani menegur ksatria atau raja yang salah dibandingkan bangsawan lainnya. Prinsip Paradoks Fungsi (Komedi vs. Edukasi), Cepot bertugas menghibur (lawak) dalam sesi goro-goro, namun di balik lawakannya, ia menyampaikan kritik sosial dan ajaran filosofi hidup yang mendalam bagi masyarakat Sunda.
Simbolisme Warna Merah ini, meskipun merah sering dikaitkan dengan bahaya atau emosi negatif, pada Cepot, warna ini dimaknai sebagai simbol keberanian dalam kebenaran dan menjadi ikon yang menarik perhatian. Estetika ini diciptakan oleh dalang (seperti Abah Asep Sunarya) untuk mendekatkan wayang golek dengan realitas kehidupan sehari-hari yang penuh kontradiksi, membuatnya dicintai semua kalangan. Estetika paradoks pada tokoh Cepot (Astrajingga) dalam wayang golek merujuk pada pertentangan antara penampilan fisik yang dianggap buruk atau tidak sempurna dengan kedalaman kualitas batin serta peran sosialnya yang luhur.
Elemen-elemen paradoks pada tokoh Cepot, Rupa “Buruk” vs. Hati Mulia, secara visual, Cepot digambarkan dengan wajah merah (simbol amarah/nafsu), gigi bawah yang menonjol keluar, dan bibir tebal. Namun, ia adalah sosok yang sangat sabar, setia, dan menjadi penasihat bijak bagi para ksatria. Warna Merah yang Ambivalen, ini Warna merah pada wajahnya secara tradisional melambangkan karakter buruk, sombong, atau pembuat onar. Paradoksnya, dalam lakon wayang, merah ini justru merepresentasikan keberanian untuk membela kebenaran dan menolong sesama.
Dalam aspek Humor di Tengah Krisis, si Cepot sering kali melontarkan banyolan (humor) di saat-saat paling genting atau menyedihkan dalam sebuah cerita. Ini menciptakan kontras estetika di mana tawa digunakan sebagai instrumen untuk menyampaikan pesan moral yang serius dan kritis.
Rakyat Jelata dengan Pengetahuan “Elite”: Meskipun berstatus sebagai rakyat jelata (punakawan), ia memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk mengkritik kaum elite atau penguasa demi kesejahteraan rakyat. Analisis mendalam mengenai nilai-nilai ini dapat ditemukan dalam Jurnal Panggung ISBI yang membahas simbolisme wayang golek. Selain itu, studi mengenai Anasir Sufistik pada Si Cepot menjelaskan bagaimana senyuman ikoniknya merefleksikan kesabaran spiritual di balik penderitaan hidup.
Cukup Sekian Terimakasih
Salam Sehat Bahagia senang Gembira…
Bandung, 03.Pebruari.2026









