Seni Sastra, Seni Rupa, Seni Gerak dan Seni Bunyi dalam Karawitan Gending Wayang Golek dan Wayang Kulit

waygol kosapoin.com

Kesenian wayang merupakan perpaduan berbagai cabang seni yang menyatu secara utuh dalam satu kesatuan pertunjukan, meliputi seni pertunjukan, seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, hingga seni perlambang yang sarat makna simbolik. Dalam khazanahnya, Wayang Kulit dikenal sebagai salah satu bentuk wayang yang paling masyhur dan berkembang kuat dalam budaya Jawa serta Bali, sementara Wayang Golek tumbuh dan berakar di Tatar Pasundan, Jawa Barat, dengan ciri khas boneka kayu tiga dimensi. Wayang sendiri merupakan karya sastra dan kebudayaan asli Indonesia yang sangat tua, bahkan diperkirakan telah hadir sejak kurang lebih 1500 tahun sebelum Masehi dari nenek moyang yang mendiami Pulau Jawa. Dalam perjalanan sejarahnya, wayang bukan sekadar tontonan yang menghadirkan hiburan estetik, melainkan juga tuntunan yang memuat ajaran moral, filosofi kehidupan, serta nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga keberadaannya tidak hanya memperkaya tradisi seni, tetapi juga membentuk jati diri dan pandangan hidup masyarakat Nusantara.

Wayang Golek adalah bentuk seni pertunjukan teater rakyat yang menggunakan boneka kayu sebagai media utama. Perkembangannya berlangsung pesat pada abad ke-19 hingga abad ke-20. Kata “golek” sendiri berarti boneka yang terbuat dari kayu. Wayang golek sebagai seni pertunjukan tradisional khas Tatar Sunda memiliki ciri utama berupa boneka tiga dimensi. Tokoh-tokohnya yang konon berjumlah sekitar 104 karakter digerakkan oleh seorang dalang yang sekaligus mengisi suara, menyampaikan cerita, serta mengatur iringan gamelan sepanjang pertunjukan.

Secara teknis, terdapat perbedaan yang jelas antara wayang kulit dan wayang golek. Pada wayang kulit, dalang duduk di belakang layar atau kelir dan memainkan wayang sehingga bayangannya dipantulkan ke layar. Adapun pada wayang golek, dalang memegang boneka kayu secara langsung, menggerakkan tangan dan kepala wayang di atas panggung sehingga wujud tiga dimensinya terlihat nyata oleh penonton. Perbandingan karawitan gending pada Wayang Golek Sunda dan Wayang Kulit Jawa sangat menarik untuk dikaji. Keduanya memiliki akar filosofis yang sama, tetapi berkembang dengan etika, estetika, energi, serta karakter instrumen yang berbeda.

Dalam unsur seni sastra yang meliputi prosa seperti janturan atau nyandra dan puisi seperti kakawen atau suluk yang dibawakan dalang, Wayang Golek menggunakan bahasa Sunda dengan tingkatan lemes dan kasar, sedangkan Wayang Kulit menggunakan bahasa Jawa dengan tingkatan kromo dan ngoko. Dalam sastra klasiknya, Wayang Golek memanfaatkan kosakata Kawi-Sunda, sementara Wayang Kulit menggunakan Kawi-Jawa. Pesan moral pada Wayang Golek cenderung lebih lugas, humoris, serta kontekstual dengan isu sosial, sedangkan Wayang Kulit lebih simbolis, filosofis, dan kaya sanepa atau perumpamaan. Suluk dalam Wayang Golek disebut kakawen yang melodis dan ritmis, sedangkan dalam Wayang Kulit suluk sangat menekankan kedalaman rasa dan suasana pathet.

Dalam unsur seni rupa, bukan hanya bentuk wayangnya yang diperhatikan, melainkan juga estetika visual waditra atau instrumen gamelan. Pada Wayang Golek digunakan gamelan laras salendro dengan warna kayu alami atau merah khas Priangan dan ukuran perangkat yang relatif lebih ringkas. Pada Wayang Kulit, perangkat gamelan Jawa tampak lebih megah dengan jumlah instrumen yang lebih banyak, bahkan dapat mencapai lebih dari tujuh puluh lima dalam satu set lengkap. Ukiran pada rancakan atau dudukan instrumen biasanya sangat detail dengan motif tumbuhan atau naga.

Dalam unsur seni gerak, karawitan mengikuti dinamika sabetan dalang. Wayang Golek memiliki dinamika yang ekspresif dan lincah, dipengaruhi dominasi kendang Sunda yang kompleks sehingga musik mengikuti gerak silat atau tari yang patah-patah dan enerjik. Sebaliknya, Wayang Kulit memiliki dinamika yang lebih halus dan mengalun. Perubahan tempo berlangsung secara bertahap melalui instruksi kendang yang presisi, dengan penekanan pada harmoni kolektif.

Pada unsur seni bunyi sebagai inti perbedaan karakter suara, Wayang Golek menggunakan gamelan salendro dengan lima nada, menempatkan rebab sebagai pemangku lagu dan kendang sebagai pengatur dinamika dominan. Wayang Kulit menggunakan gamelan slendro dan pelog dengan gender dan gambang sebagai instrumen kunci yang membangun resonansi khas. Vokal sinden Sunda memiliki teknik geol atau vibrato yang unik serta improvisasi yang dinamis, sedangkan sinden Jawa menekankan kemurnian suara, ketepatan nada, dan keselarasan dengan rebab serta gender.

Secara singkat, karawitan gending dalam Wayang Kulit membentuk orkestra yang meditatif, agung, dan penuh ketenangan. Adapun karawitan gending dalam Wayang Golek menghadirkan pertunjukan yang dinamis, spontan, dan sarat energi kehidupan. Karawitan gending dalam kedua jenis wayang tersebut merupakan kesenian kompleks yang memadukan sastra berupa lakon dan cerita, rupa berupa bentuk dan tatahan, gerak berupa tari dan sabetan dalang, serta bunyi berupa gamelan dan vokal. Perpaduan ini menciptakan teater bayangan atau boneka yang sarat makna, etika, dan estetika, dipandu oleh dalang sebagai pengatur seluruh unsur.

Dalam seni sastra cerita dan tutur, wayang bersumber pada kisah Ramayana, Mahabharata, maupun babad setempat yang sarat ajaran moral dan filosofi hidup. Dalang menuturkannya melalui candraan atau nyandran sebagai deskripsi, pocapan sebagai dialog, serta janturan sebagai narasi. Dalam seni rupa, Wayang Kulit berbentuk dua dimensi yang dipahat detail dari kulit sapi atau kerbau untuk menonjolkan bayangan pada kelir, sedangkan Wayang Golek berbentuk tiga dimensi dari kayu dengan busana kain dan riasan menyerupai manusia atau makhluk halus.

Dalam seni gerak, sabetan dalang menyesuaikan watak tokoh, mulai dari gerak halus hingga kasar. Dalam seni bunyi, gending gamelan mengiringi suasana adegan, baik sedih, tegang, maupun perang. Karawitan bukan sekadar pengiring, melainkan nyawa pertunjukan yang menyatukan keempat unsur seni tersebut. Antawacana, sulukan, wangsalan, dan sindenan menghadirkan kedalaman makna. Wanda wayang, tata rakit gamelan, dan gunungan menghadirkan simbolisme visual. Irama kendang memimpin gerak, sementara laras dan pathet menentukan suasana waktu pertunjukan.

Dalang menjadi sutradara, konduktor musik, sekaligus sastrawan dalam satu waktu. Tokoh seperti Asep Sunandar Sunarya dikenal tidak hanya piawai mendalang, tetapi juga terampil menyungging dan mengukir wayang golek. Secara etimologis, kata wayang diyakini berasal dari “ma hyang” yang berarti perjalanan menuju negeri spiritual, dan juga dimaknai sebagai bayangan dalam bahasa Jawa. Dalam perkembangannya, wayang golek terbagi menjadi tiga jenis, di antaranya Wayang Cepak yang mengisahkan babad Cirebon dan sejarah Jawa dengan ajaran Islam, serta Wayang Golek Purwa yang mengangkat kisah Ramayana dan Mahabharata.

Konon pada sekitar tahun 1584 Masehi di Jawa Tengah, salah satu anggota Wali Songo yaitu Sunan Kudus disebut-sebut sebagai pencipta wayang golek pertama. Pada awalnya pertunjukan wayang golek dilaksanakan di lingkungan kaum bangsawan sebelum kemudian berkembang luas di masyarakat. Dalam pertunjukan Wayang Golek dan Wayang Kulit, karawitan gamelan mengiringi secara utuh. Namun ketika dalang berbicara sambil menabuh cempala, gamelan berhenti sejenak kecuali bunyi kecrek atau gemerincing yang menegaskan pernyataan tertentu. Para nayaga kemudian merespons secara intuitif sesuai narasi yang disampaikan dalang.

Cukup sekian, terima kasih.
Salam Budaya Lokal Jati Diri Bangsa.

Bandung, 26 Februari 2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *