Upaya merekam cerita rakyat, pantun, dan legenda ke dalam bentuk tulisan atau novel dilakukan untuk memastikan keberlanjutan tradisi agar tidak hilang ditelan zaman. Platform seperti LearningSundanese.com digunakan sebagai media pelestarian kearifan lokal Sunda agar tetap relevan dengan gaya hidup milenial dan Gen Z.
Tradisi tutur yang dulunya hanya mengandalkan ingatan kini direkam dan diperdengarkan melalui media digital. Di Bali, sastra lisan ditransformasikan ke dalam bentuk seni pertunjukan modern yang lebih menarik bagi generasi muda guna menumbuhkan rasa cinta dan kreativitas.
Sastra lisan kini diajarkan melalui mata pelajaran Bahasa Daerah di sekolah-sekolah untuk meningkatkan literasi budaya siswa. Universitas pun membuka program studi khusus, seperti Sastra Sunda, untuk mengkaji naskah dan tradisi lisan secara ilmiah. Zaman Kekinian di zaman Digitalisasi dan Formalisasi, atau di era modernisasi ini, mekanisme edukasi bergeser ke arah dokumentasi, adaptasi media, dan institusionalisasi.
Dalam Sastra Sunda Edukasi dilakukan melalui tradisi “Carita Pantun” yang dituturkan oleh seorang Juru Pantun dalam ritual tertentu. Cerita ini mengandung ajaran moral dan sejarah leluhur yang diserap secara intuitif oleh masyarakat.
Dalam Edukasi Sastra lisan Jawa, seperti Dongeng, Geguritan, dan Tembang diwariskan oleh orang tua atau tetua melalui proses menghafal. Nilai-nilai seperti kesabaran (sabar) dan pengendalian diri (bertapa brata) menjadi materi utama dalam interaksi sehari-hari.
Di Bali Pendidikan sastra lisan seringkali menyatu dengan Seni Pertunjukan dan ritual keagamaan. Anak-anak belajar melalui partisipasi langsung dalam mendengar penuturan cerita rakyat yang mengandung ajaran etika dan karakter di lingkungan keluarga atau komunitas adat.
Pada Zaman Dahulu Transmisi Komunal dan Ritual, yaitu pada masa lalu, sastra lisan berfungsi sebagai media utama pendidikan karakter dan pelestarian sejarah karena keterbatasan media tulis.
Mekanisme edukasi sastra lisan Sunda, Jawa, dan Bali bertransformasi dari penuturan informal berbasis komunitas dan tradisi lisan (dahulu) menjadi pengemasan ulang melalui seni pertunjukan, teknologi digital, dan pendidikan formal (kekinian). Dahulu, sastra lisan diajarkan secara lisan turun-temurun untuk menanamkan nilai moral, kearifan lokal, dan sejarah melalui media seperti dongeng sebelum tidur, kakawihan, macapat, atau wayang. Saat ini, sastra lisan dilestarikan melalui transformasi seni pertunjukan, dokumentasi, dan integrasi kurikulum sekolah untuk menjaga eksistensi dan karakter generasi muda.
Pergeseran mekanisme ini bertujuan agar sastra lisan tetap relevan, tidak terlupakan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, sekaligus sebagai upaya pendidikan karakter bagi generasi muda. Secara Pendekatan Holistik, Pembelajaran tidak hanya fokus pada teks/cerita, tapi juga pemahaman karakter, kreativitas, dan pelestarian budaya.
Pembentukan komunitas seni/sastra yang mengadakan workshop untuk mempelajari teknik penuturan sastra lisan seperti bekayat atau tembang. Pendokumentasian sastra lisan melalui YouTube, podcast, e-book, dan media sosial agar mudah diakses dan dipelajari di waktu kapan saja.
Pendidikan Formal dan Kurikulum dalam Sastra lisan diintegrasikan di dalam kurikulum mata pelajaran bahasa daerah di sekolah (Sunda, Jawa, Bali) sebagai bahan ajar untuk memahami kearifan lokal jati diri bangsa.
Mekanisme Edukasi Zaman Kekinian (Modern/Digital), dalam cara Transformasi Pertunjukan maka Sastra lisan harus dikemas ulang menjadi seni pertunjukan yang lebih menarik, dinamis, dan estetik untuk memikat para generasi muda, dalam Seni Gerak Rupa Bunyi seperti, Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Golek, Sendratari atau Cerita Pantun Sunda dan Teater Modern.
Seni Pertunjukan Tradisional Sunda, Dongeng, Kawih, Mamaos, Reak Dogdog Angklung Barong Landung, Kuda Lumping, Tarawangsa, Seni Kacapi Carita Pantun, dan pertunjukan wayang golek, dsb.
Dalam Sastra Lisan Jawa, ada Tembang Macapat (dinyanyikan), wayang kulit, wayang gedog, wayang beber, dan kethoprak yang memuat cerita-cerita sastra lisan lama. Di Bali ada Sastra “Sasuratan” (penulisan/pembacaan), “mabasan” (berbalas pantun), dan wayang kulit. Dalam cara
Konteks Adatnya, Sastra lisan terintegrasi dalam upacara adat, kelahiran, pernikahan, dan pemakaman, sehingga secara otomatis mendidik masyarakat tentang nilai-nilai kehidupan.
Untuk tempat belajar, di rumah, di pelataran, atau di tempat ibadah/pertemuan adat, ada kebebasan secara nonformal untuk berproses dan bisa fokus tanpa adanya metode formalitas.
Bentuk Cara – Ciri Karya Sastra Lisan Sunda Agraris
Di Sunda ada bentuk Sastra Jangjawokan, ini menurut para orang tua adalah Sastra Mantra Komunikasi Magis, digunakan untuk memohon keberhasilan saat bertani, yaitu dalam ngaseuk, tandur, panen dan agar hasil panen melimpah juga dijauhkan dari hama.
Contoh (Mantra saat ngaseuk/menanam benih):
Amit ampun nya paralun, neda Jembar HampuraNa ka parawanten,
Ka nu agung nya kasungkul,
Ka nu agung nya kasungkul,
Kuring rek ngaseuk paré,
Mugi ditéang ku Nyi Pohaci.
Sisindiran adalah Puisi Rakyat, yaitu karya sastra berbentuk syair pantun Sunda yang sering źdisampaikan saat bergotong royong di sawah, sering bertema sindiran, kasih sayang, atau nasihat. Salah satu Contoh (Sisindiran di sawah):
“Sisi sisi sisi galengan,
Ulah ulin di nu herang.
Mun henteu aya kasedihan,
Ulah poho kana paréang”.
Bentuk Kawih/Pupuh atau syair Nyanyian Agraris, Lagu rakyat yang dinyanyikan saat kegiatan pertanian. Contoh (Kawih “Kembang Gadung” – nuansa panen):
“Kembang gadung, paré asup kana leuit,
Kembang gadung, sing sahébat ka nu nampi…
Gagah sakti, poé ieu urang panén,
Loba hasil, haté bungah teu kapendét…”.
Ada syair “Susualan” , ini bentuk sastra Puisi/Nyanyian dari Banten Selatan, Jenis puisi yang dinyanyikan identik dengan masyarakat agraris, sering digunakan dalam upacara adat pertanian.
Mantra dan lagu ini mencerminkan keterikatan masyarakat Sunda agraris dengan jiwa alam (kumelendang dialam dunya) yang dianggap hidup.
Bentuk Sastra lisan yang hidup di lingkungan petani Sunda, yang berbentuk Mantra/Asihan, Kata-katanya yang dianggap memiliki kekuatan gaib untuk melindungi tanaman dari hama atau memohon kesuburan.
“Pupuisi” atau Puisi Rakyat, biasanya berupa rajah atau pantun singkat yang dibacakan sebagai pembuka ritual pertanian.
Kawih kakawihan/Tembang, Lagu-lagu yang syairnya dinyanyikan petani saat bekerja di sawah waktu /mangsa ngagaru, ngawuluku atau saat menumbuk padi yaitu “ngagondang”.
Contoh Karya Sastra Lisan, bentuk Mantra untuk meluluhkan Hama “Panyinglar”. Mantra ini diucapkan agar padi tidak diganggu oleh hewan perusak atau penyakit.
Syair Teksnya:
“Sato galak, sato lindeuk,
ulah deuk ngaganggu ka pepelakan kami,
poma siah bisi katarajang supata,
indit siah ka leuweung geledegan!”.
Artinya:
“Hewan galak, hewan jinak,
jangan mengganggu tanaman kami,
awas kamu terkena kutukan,
pergilah ke hutan rimba!”
Mantra Saat Menanam Padi yaitu untuk “Mitembeyan” (Awal memulai menanam padi), ini dibacakan saat pertama kali menanam bibit padi agar hasilnya melimpah.
Syaur Teksnya:
“Sulur luhur, akar handap,
sirung jangkung, buah lebat,
muga-muga Nyai Pohaci betah di dieu,
ngajaga lembur, ngariksa sawah.”
Artinya:
“Tumbuh tinggi, akar ke bawah,
tunas menjulang, buah lebat,
semoga Nyai Pohaci (Dewi Padi) betah di sini,
menjaga kampung, menjaga sawah.”
Ngagondang ini adalah Syair Menumbuk Padi, waktu atau “mangsa” saat menumbuk padi di “Sawung” di lisung/lesung secara bersama-sama, biasanya para wanita menyanyikan syair yang berirama mengikuti ketukan Halu/Alu.
Contoh teks Fragmennya:
“Ampih-ampih kebon jati,
di dieu tempatna ngaji,
muga berkah ieu paré,
jadi ubar keur sakabéh.”
Artinya:
“Pulang-pulang ke kebun jati,
di sini tempatnya mengaji,
semoga berkah padi ini,
menjadi obat (sumber hidup) bagi semua.”
Makna di Balik Syair
Karya sastra ini, bukan hanya sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan filosofi “Manusia, Alam, dan Tuhan”. Masyarakat Sunda agraris percaya bahwa padi adalah makhluk bernyawa yang harus disapa dengan lembut agar memberikan hasil yang baik.
Kesimpulannya, sastra lisan Sunda dalam budaya agraris sangat erat kaitannya dengan penghormatan kepada alam, khususnya kepada Dewi Sri (Pohaci Sanghyang Asri) sebagai simbol kesuburan padi.
Sastra lisan ini biasanya disampaikan dalam bentuk syair mantra, dengan sajian bentuk nyanyian Tembang, atau puisi yang dilantunkan disajikam saat proses bercocok tanam, mulai dari mengolah tanah hingga panen.
Dalam Sastra lisan Sunda agraris ini, karya sastra tradisi lisan yang lahir dari kebudayaan pertanian atau bercocok tanam padi, pada masyarakat Sunda buhun, bertujuan untuk harmonisasi menyatu dengan alam semesta, rasa syukur, atau penghormatan kepada Dewi Sri (pohaci). Bentuk utamanya meliputi mantra jangjawokan, jampe, puisi rakyat berwujud sisindiran, dan nyanyian rakyat berbentuk kawih/pupuh yang dinyanyikan pada saat waktunya menanam atau panen padi.
Cara – Ciri Sastra Lisan Agraris Jawa
Dalam cara-cirinya secara Religiusitas fokus pada pemujaan Dewi Sri dan Rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta. Ciri kolektifnya adalah milik bersama, tidak diketahui siapa pencipta awalnya yaitu Anonim. Sedangkan ciri dari simbolnya adalah menggunakan banyak personifikasi (menganggap padi sebagai manusia/Dewi). Sebagai ciri ritualnya adalah seringkali hanya diucapkan pada waktu-waktu tertentu yaitu pada musim Tanam/Panen.
Bentuk karya sastra lisan jawa agraris dan contoh syairnya
Karya sastra lisan dalam budaya Jawa agraris bukan sekadar hiburan, melainkan bagian integral dari sistem kepercayaan, doa, dan panduan bercocok tanam. Sastra ini biasanya diturunkan secara turun-temurun melalui nyanyian atau rapalan tanpa naskah tertulis yang kaku.
Karya sastra lisan Jawa agraris utamanya berbentuk tembang dolanan, mantra/doa tani, dan macapat, yang tumbuh dari budaya petani di pedesaan. Contohnya, Tembang Dolanan (seperti “Gundhul Pacul”) dan Tembang Macapat (seperti “Pocung”) sering menggambarkan siklus tanam, hubungan alam, dan rasa syukur.
Beberapa bentuk dan contoh syair sastra lisan Jawa agraris, yaitu: Tembang Dolanan artinya syukur/permainan, Contoh “Gundhul-Gundhul Pacul”:
“Gundhul gundhul pacul cul, gelelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul, petentengan
Wakul ngglimpang segane dadi saratan
Wakul ngglimpang segane dadi saratan”.
(Makna: Pemimpin yang amanah tidak boleh sombong agar usahanya/tanamannya tidak sia-sia).
Mantra/Doa Tani (Sastra lisan ritual),
Contoh (Jopo Winih/Doa Benih):
“Bismillah, ingsun amiwiti nandur
Sri sadana teka, dewi sri tumurun,
Aja ana suwe, aja ana keri,
Bakal dadi kanthong, bakal dadi wiji…”
(Makna: Mantra yang dibacakan saat menanam padi agar berkah dan berhasil).
Tembang Macapat Pocung – Petuah agraris),
Contoh (Pocung – tema kehidupan/tani):
“Bapak pocung, dudu watu dudu gunung
Sangkamu ing sabrang
Ngon-ingone sang bupati
Yen lumaku si pocung lembehan grana”.
(Ini Contoh filosofi hidup yang disisipkan dalam aktivitas bertani).
Karya-karya sastra ini diturunkan secara lisan dan berfungsi sebagai hiburan sekaligus panduan dalam kehidupan agraris sehari-hari.
Mantra dan Donga (Doa Agrikultur), yaitu Mantra agraris biasanya dibacakan oleh petani saat memulai tahapan penting, seperti menyebar benih (ngurit) atau memanen (wiwit). Tujuannya adalah memohon perlindungan kepada Tuhan dan menghormati Dewi Sri (Dewi Padi).
Contoh Syair (Mantra Wiwit):
“Mbok Sri Sedyono, kulo mboyong panjenengan saking sabin lumebet ing lumbung, mugi-mugi sageda mupangati, barokah, lan mboten kirang sandang pangan.”
Artinya:
“Ibu Sri Sedyono, saya memboyong Anda dari sawah masuk ke lumbung, semoga bisa bermanfaat, membawa berkah, dan tidak kekurangan sandang pangan.”
Dalam Tembang Dolanan atau Lagu Permainan,
Banyak lagu anak-anak di pedesaan Jawa yang bertema agraris. Lagu-lagu ini berfungsi untuk mengenalkan ekosistem sawah dan etos kerja petani sejak dini, ini ada
Contoh Syair (Ilir-Ilir).
Lagu ini menggunakan metafora tanaman padi dan alam untuk menyampaikan pesan spiritual dan kerja keras.
“Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir”
“Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar”.
Artinya:
“Bangunlah, bangunlah, tanaman (padi) sudah mulai bersemi, menghijau begitu indah, bagaikan pengantin baru.”
Dalam Gugon Tuhon atau Mitos dan Larangan, ini adalah bentuk sastra lisan berupa petuah atau larangan yang seringkali tidak masuk akal secara harfiah, namun memiliki tujuan praktis untuk menjaga ekosistem,
Contoh:
“Oja mateni kodok ing sawah, mengko dadi sethitik panene.”
(Makna: Larangan membunuh katak di sawah. Secara ekologis, ini masuk akal karena katak adalah predator alami hama serangga.)
Dalam “Pranata Mangsa” atau kearifan Musim, yaitu meskipun sering dianggap sebagai sistem penanggalan, “Pranata Mangsa” disampaikan secara lisan dalam bentuk peribahasa atau candra yaitu penggambaran alam, untuk menentukan waktu tanam,Contoh Ruçmusan Lisannya:
“Kasa: Sotya murca saking embanan.”
(Makna:
dalam Musim pertama di bulan Juli: “Permata yang lepas dari pengikatnya.” Ini menggambarkan daun-daun yang mulai berguguran karena musim kemarau, menandakan petani harus mulai membersihkan lahan namun belum boleh menanam).
Dalam segi Seni Pertunjukan, yaitu dalam Wayang dan Tayub, di dalam masyarakat agraris, pertunjukan seperti Wayang Purwa yaitu khususnya lakon Sri Sadana atau Tayub sering dipentaskan sebagai bentuk syukur atas hasil panen dalam “Bersih Desa”. Di sini, sastra lisan muncul melalui “suluk dalang” dan syair atau lirik sinden.
Bentuk Cara – Ciri karya sastra lisan bali agraris
Karya sastra lisan Bali yang berkaitan dengan masyarakat agraris biasanya terwujud dalam bentuk “Kesusastraan Bali Purwa” (tradisional) yang disampaikan secara turun-temurun.
Sastra lisan Bali agraris, yang berakar dari budaya bertani, umumnya berbentuk “Gegendingan” yaitu lagu rakyat/dolanan, wewangsalan atau syair pantun, dan mantra, yang diwariskan turun-temurun. Sastra ini mencerminkan kearifan lokal, pemujaan pada Dewi Sri, dan interaksi dengan alam, seperti lagu “Meyong-Meyong” atau lagu yang dinyanyikan saat menanam/memanen padi.
Beberapa bentuk dan contoh karya sastra lisan Bali agraris, yaitu bentuk Gegendingan (Lagu Rakyat/Dolanan): Meyong-Meyong (Lagu Anak-anak/Agraris)
Lirik:
“Meyong-meyong, alihang tiang be-be, tiang cicing-cicing, jalan ke pasih, ngalih be-be.”
Konteks: Sering dinyanyikan dalam suasana santai di perdesaan, mencerminkan kehidupan masyarakat Bali yang agraris dan dekat dengan alam.
Contoh: Ratu Anom (Lagu Pemujaan/Pertanian), Liriknya:
“Ratu anom, ratu anom, keneh tiange, saking nika, mebunga-bunga…”
Konteks: Kadang dikaitkan dengan ritual pemujaan Dewi Sri untuk memohon kesuburan tanah.
Dalam bentuk Wewangsalan (Pantun Bali), biasanya berupa dua baris pantun yang berisi sindiran, nasihat, atau humor kehidupan petani, Contoh:
“Gede-gede batan biu, ane gede masi maisi.”
Makna: Besar-besar batang pisang, yang besar juga berisi (kiasan untuk seseorang yang berpenampilan meyakinkan).
Bentuk Mantra/Sesontengan (Doa Pertanian), ini biasanya diucapkan saat menanam atau panen untuk memohon hasil yang melimpah, di sini menggunakan bahasa Bali alus atau Kawi, contoh: Doa saat Ngasab atau proses panen pada saat membawa padi ke lumbung (gedong).
Sekian Terimakasih
Salam Budaya, Cipta, Rasa, Karsa, Karya, Sastra Jendra Rahayu Ningrat, Hamemayu Hayuning Bhawana…
Pun Tabe Rahayu Jaya Waluya Sampurna SapapanjangNa…
Bandung, 17.Februari.2026









