foto kiri Prof. Pande Made Sukerta sedang bermain rebab. foto kanan Karya Monumental dari Pande Mande Sukerta.
Dunia karawitan kontemporer Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sosok Pande Made Sukerta. Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si. dikenal sebagai tokoh sentral yang menjembatani pakem tradisional Bali dengan inovasi modern melalui karya, riset, dan pemikiran konseptualnya. Sebagai akademisi di Institut Seni Indonesia Surakarta, ia menempatkan karawitan tidak hanya sebagai praktik artistik, tetapi juga sebagai disiplin ilmiah yang terbuka terhadap eksplorasi dan pembaruan.
Pemikiran dan Metode: Fondasi Kreativitas Terstruktur
Kontribusi penting Sukerta terlihat pada konsep-konsep seperti “Evolusi” dan “Kulawarga Pencon” yang kerap dijadikan acuan dalam penciptaan karawitan kontemporer. Melalui buku Metode Penyusunan Karya Musik: Sebuah Alternatif (2011), ia merumuskan pendekatan sistematis yang menjadi panduan bagi seniman dalam merancang komposisi baru. Metode tersebut berfokus pada tiga tahapan utama: (1) menyusun gagasan isi (ide dasar), (2) menentukan ide garapan (pengembangan ide), dan (3) melakukan garapan (realisasi teknis).
Namun secara lebih luas, alur penciptaan yang ia tawarkan sering dirangkum dalam tahapan eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan, yang mencakup proses ideasi hingga evaluasi akhir. Pendekatan ini menegaskan bahwa kreativitas bukan sekadar kebaruan, melainkan kedalaman rasa terhadap materi serta pemahaman instrumen sebagai subjek yang memiliki karakter unik.
Karakteristik Karya: Kebaruan Berakar Tradisi
Karya-karya Sukerta menekankan kebaruan struktur dan eksplorasi bunyi gamelan tanpa tercerabut dari akar tradisi. Ia membedah bentuk-bentuk klasik seperti Gong Gede dan Gong Kebyar secara analitis agar dapat didekonstruksi dan dikembangkan kembali dalam konteks kekinian. Pemikiran dan hasil penelitiannya kerap dipublikasikan dalam jurnal seni, termasuk Ghurnita.
Dalam ranah literasi, ia menulis Ensiklopedi Karawitan Bali, dokumentasi fundamental mengenai instrumen dan teknik permainan tradisional agar tetap relevan di era kontemporer. Upayanya juga terlihat dalam kampanye pengaktifan kembali instrumen rebab di Bali, yang menurutnya mulai kurang diminati generasi muda, padahal memiliki posisi penting dalam khazanah karawitan.
Eksplorasi Kreatif dan Fenomena Sosial
Sebagai kreator, Sukerta terlibat dalam penciptaan komposisi baru seperti “Maduswara” serta karya “Loak” yang terinspirasi dari suasana pasar. Ia juga mengkaji estetika karawitan Bali melalui konsep Rwa Bhinneda, mempertemukan dualitas sebagai prinsip keseimbangan musikal. Karya-karyanya tidak terpaku pada tradisi, tetapi juga mengangkat fenomena sosial dan eksperimentasi bunyi.
Salah satu pendekatan khasnya adalah analogi musikal, yakni menerjemahkan fenomena non-musikal ke dalam struktur karawitan. Misalnya, fenomena “Kamuflase” pada bunglon atau gurita diterjemahkan ke dalam variasi ombak akustik gamelan dan fleksibilitas saih (sistem tuning). Struktur Tri Angga—kawitan, pangawak, pengecet—digunakan untuk menggambarkan proses adaptasi atau evolusi subjek. Perubahan warna atau ancaman dalam fenomena biologis dianalogikan melalui perubahan dinamika dan intensitas permainan gamelan.
Pendekatan ini melibatkan korelasi intramusikal, seperti menyamarkan melodi pokok dengan permainan instrumen pemangku (ceng-ceng, kantil). Analogi musikal tersebut diterapkan melalui empat pendekatan utama: bentuk, nada, melodi, dan ritme. Fenomena alam atau sosial diterjemahkan menjadi pola musikal yang memiliki kemiripan struktur maupun sifat.
Contoh penerapan teori ini dapat ditemukan pada karya inovatif seperti “Dancing in The Storm”, di mana fenomena badai ditransformasikan menjadi elemen komposisi terukur melalui ritme, dinamika, dan struktur.
Analogi Musikal dan Musikal Suasana
Dalam teori penciptaannya, Sukerta membedakan dua pendekatan konseptual: analogi musikal dan musikal suasana.
Analogi musikal bersifat deskriptif atau mimetik, meniru karakteristik bunyi fisik objek non-musikal, seperti gemuruh ombak atau desiran angin. Fokusnya pada bentuk dan pola suara.
Sebaliknya, musikal suasana bersifat ekspresif dan emosional. Pendekatan ini tidak meniru bunyi fisik, melainkan membangun kesan rasa atau jiwa dari suatu situasi. Misalnya, penggunaan tempo lambat dan tangga nada tertentu untuk menciptakan suasana sedih atau magis.
Perbedaan keduanya terletak pada orientasi: analogi meniru bentuk bunyi, sedangkan musikal suasana membangun rasa. Keduanya menjadi perangkat konseptual penting dalam penciptaan karawitan Bali maupun Jawa masa kini.
Tahapan Metode Penciptaan
Secara rinci, tahapan metode Sukerta dapat dipahami sebagai berikut:
- Tahap Ideasi (Pencarian Gagasan)
Gagasan dapat bersumber dari fenomena alam/sosial, auditif (ketertarikan pada bunyi), maupun visual (gerak tari atau arsitektur). - Eksplorasi (Penjelajahan Bunyi)
Melakukan eksperimen teknik permainan instrumen, mengumpulkan serpihan melodi dan ritme tanpa langsung membentuk komposisi. - Improvisasi (Pengembangan Motif)
Mengembangkan materi melalui variasi tempo, dinamika, dan ritme untuk menguji potensi musikalnya. - Pembentukan (Forming/Komposisi)
Menyusun struktur awal, tengah, akhir; menentukan transisi; serta menyeleksi materi agar utuh dan organik. - Evaluasi dan Reorganisasi
Meninjau ulang karya secara kritis; jika diperlukan kembali ke tahap sebelumnya untuk penyempurnaan.
Dalam praktiknya, proses kreativitas juga melibatkan pendekatan seperti nguping (mendengar), menahin (memperbaiki), ngelesin (mengembangkan), dan ngungkap rasa (menjiwai). Seluruh proses ini menegaskan pentingnya riset dan pengembangan sistematis dalam penciptaan seni, baik tradisi maupun pengembangan.
Pengaruh Akademik dan Lintas Budaya
Sebagai pengajar di ISI Surakarta, Sukerta membimbing banyak mahasiswa dalam menciptakan karya inovatif yang menggabungkan elemen lintas budaya. Pendekatan akademis dan artistiknya yang inovatif menjadikan ia figur penting dalam perkembangan karawitan kontemporer Indonesia.
Melalui metodologi terstruktur, eksplorasi analogi musikal, literasi karawitan, serta keberanian eksperimentasi, Pande Made Sukerta menunjukkan bahwa tradisi bukanlah ruang statis, melainkan ladang dialog kreatif antara masa lalu dan masa depan.
Sekian dahulu Terimakasih
Salam Kreativ Binangkit
Bandung, 26 Februari 2026








