Sudah tiga bulan lebih aku tak mengintip ragam grup di WA. Bukan berarti aku melupakan mereka dalam silaturahim. Akan tetapi ada hal-hal lain yang lebih utama untuk diselesaikan. Maklum, sebagai pekerja harus mendahulukan kewajiban yang membayar. Ditambah lagi tempat kerjaku itu dalam bidang advertising.
Secara kebetulan aku dipercaya sebagai kameramen. Bayangkan saja betapa padatnya jadwal pengambilan gambar, ditambah lagi dengan kejar tayang. Bisa dikatakan waktu luang nyaris tak pernah ada. Sibuknya orang lapangan sudah bisa dibayangkan, tapi gajinya tak seberapa.
Ya, seperti halnya guru honorer yang begitu padat dengan tugas-tugas tambahan yang sebenarnya bukan tugas mereka. Dan itulah dunia, selalu saja yang duduk manis dengan punya jabatan, sudah dipastikan bahwa merekalah yang memiliki penghasilan lebih besar plus dijamin dengan uang saku dan dana kesehatan segala, yang ditambah bonus wisata serta transpor kunjungan dan dana lainnya pula yang siap sedia kapan pun bisa dicairkannya; hanya bermodalkan dokumen spj saja.
Lagi pula, aku sudah cukup jenuh, sebab, sudah bisa kubayangkan, bahwa semua hubungan antara diriku dan mereka, atau mereka dengan yang lainnya akan berujung pada pangkal yang sama: kepentingan. Dan aku pun sudah bisa membayangkan pola yang sama yang akan mereka lakukan untuk mencapai kepentingan itu. Dan itulah mengapa aku tak lagi terlalu intens dalam menjalin komunikasi dengan siapa pun.
Akan tetapi, entah kenapa di ini malam, selepas meremajakan tubuhku selama tiga hari dalam asuhan istri — satu demi satu grup WA aku buka; dari mulai grup RT, RW, sampai grup alumni aku buka. Betapa penuhnya pesan singkat yang dituliskan mereka dan tak bisa dibaca semua. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, ada satu grup yang secara kebetulan ramai dalam percakapan di ini malam. Grup Alumni Kastrol. Singkatnya, semua percakapannya berdebat hal yang sama, perihal sah dan tidaknya ibadah:
Salah seorang dari mereka berkata bahwa bagaimana pun, ibadah itu tidak akan sah jika tanpa ilmu. Namun kawanku yang lain membalasnya bahwa jika demikian, kasihan juga orang yang bodoh. Tiba-tiba, kawanku yang lain mengalihkan topik pembicaraan, ia bertanya perihal apakah orang yang meminjam uang dari rentenir itu mendapatkan dosa?
Kawanku yang pertama menjawab, seolah melupakan pertanyaannya sendiri yang buntu: Bahwa peminjam dari rentenir juga sama-sama berdosa, sebab, ia sama dengan melestarikan usaha renten dan riba yang tengah diberlakukan, sebab usaha renten tidak akan pernah ada jika tak ada konsumen yang mengajukan pinjaman.
Sementara kawanku yang lain menjawab, bahwa semua tergantung kondisi peminjam, jika peminjam memang sudah terdesak dan tidak ada lagi tempat lain untuk berutang, maka ia tidak berdosa melakukan pinjaman kepada rentenir.
Tak lama, kawanku yang lain menjawab dengan pertanyaan sederhana, “Kalau begitu, uang infaq di saban kotak amal di masjid selama ini dihabiskan untuk apa?”
Dan kawanku yang lain pun bertanya: “Kalau kita galbay[1] pinjol yang bunganya selangit dan tak dibayar itu berdosa atau tidak? Apakah dengan cara galbay kita juga sudah melakukan kebaikan dengan membuat bangkrut usaha renten?”
Kawanku yang lain pun mengajukan pertanyaan: “Apakah para joki pinjol bisa dikatakan sebagai robin hood yang menolong orang-orang miskin?”.
Betapa mengerikan hidup di zaman kesempurnaan agama, data pribadi tak bisa benar-benar aman; bisa dijual belikan tanpa sepengetahuan kita. Tahu-tahu kita sudah punya hutang begitu saja, alias katempuhan buntut maung.
Selebihnya gara-gara nila setitik jadi selebritas dadakan, tersebar di setiap nomor gawai yang pernah berhubungan dengan kita. Putus hubungan asmara masih bisa disembuhkan. Putus kepercayaan siapa yang harus disalahkan? Kenapa pula aku buka grup WA kalau pada akhirnya jadi ketakutan begini?
Betapa mengerikan kala rusak susu sebelanga! []
[1] Galbay : Gagal Bayar








