BELAJAR MENIKMATI SUARA

cemas

Makan bersuara. Belajar bersuara. Ibadah bersuara. Tidur bersuara. Jalan bersuara. Napas bersuara. Merokok bersuara. Minum bersuara. Mandi bersuara. Masak bersuara. Luka bersuara. Patah bersuara. Nyanyi apa lagi. Apanya yang tak bersuara, sampai hubungan intim pun mengeluarkan suara.

Kita terkadang dibisingkan oleh suara. Apalagi kalau sedang sakit gigi. Apalagi kalau kaum terkuat di bumi sedang pms, konon katanya bawaan suara-suaranya itu dengan tangga nada marah-marah. Jika sedang sumilangen enggan mendengarkan suara, tapi bersuara sampai terjungkal-jungkal.

Suara-suara jadi masalah bagi hati yang gundah ditambah gelisah dan resah. Kala rasa cemas melanda pun inginnya bersuara-suara. Kenapa hidup dipusingkan dengan suara-suara, seolah kita tak butuh suara untuk menyuarakan segenap keperluan atau kebutuhan kita sehari-hari?

Kenapa pula suara jadi masalah? Bukankah hidup itu masalah? Jika tak ingin diribetkan dengan suara, sebaiknya mati saja. Tapi mati pun bersuara. Dimanakah tempat yang tidak bersuara? Pikiran pun bersuara. Angan juga bersuara. Imaji sekali pun bersuara. Suara-suara alam beraneka nada. Lupa: menyelesaikan masalah sekalipun diperlukan suara.

Jika masih dirungsingkan dengan suara-suara, tandanya Anda masih manusia untuk terus belajar menikmati ragam suara, sehingga Anda terbiasa dalam menghadapi masalah dari segenap perihal yang berhubungan denga isi narasi suara. Maka perbanyaklah syukur dalam wujud sujud syukur kepada Yang Maha Kuasa, bahwasannya Anda masih diberikan kesempatan untuk beristighfar kala terganggu oleh suara-suara! []

SURAT LINGKAR
Baca Tulisan Lain

SURAT LINGKAR


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *