DARI LAYAR MUNGIL MENUJU BINTANG!

mb 1

PAGI-PAGI, aku membuka jendela berita, yang keluar bukan cahaya matahari, tetapi aroma kecut industri film kita, yang dulu harum seperti minyak kasturi, kini lebih mirip minyak jelantah tiga kali pakai, ditanak di wajan berlubang.

Duhai negeri, dulu film kita seperti musim panen raya: aktor tertawa sampai gusi kelihatan, produser senyum sampai lupa bayar pajak, sutradara jalan menapak bumi tapi kepala melayang-layang, crew berteriak “rolling, action!” seolah dunia punya dua poros: Hollywood dan … Kampung Film Kebon Sirih.

Ah, masa itu, rumah dibeli tunai,
mobil diganti tiap Lebaran, pakaian mewah masuk laundry tiap dua hari, dan sikap sebagian insan film? ada yang melayang tinggi, sombongnya se-langit, padahal kalau hujan dikit saja, tetap cari tempat berteduh seperti manusia lain, tidak ada sayap, Bung!

Namun ada juga sebagian, yang meski bergelimang cahaya sorotan lampu, tetap menapak tanah, ngopi di warkop pinggir jalan, bertukar rokok dan tawa dengan rakyat jelata, bagai sedang berkata:

“kita ini sama, cuma nasib yang berbeda channel.”
Lalu datanglah zaman baru. Bukan zaman keemasan, bukan zaman kejayaan, tapi zaman cekot-cekot, seperti kipas angin murahan yang mau mati kapan saja.

DUNIA FILM, yang dulu seperti pasar ikan ramai pembeli, kini berubah seperti gudang sepi penjaga:.hanya debu yang konsisten hadir setiap hari. Produser pribumi?
Astaghfirullah …
modal pas-pasan, niat besar bak bendera upacara, tapi kantong menipis seperti uang kembalian ojek online. Baru syuting tiga minggu, eh sudah berhenti di tengah jalan, bukan karena kehabisan akting, tapi kehabisan saldo.
Film besar?
Film bersponsor?
Film modal segunung?
Cekot-cekot juga, Bung. Produsernya mulai pusing tujuh keliling, menatap grafik penonton seperti menatap nilai rapor merah, berharap keajaiban turun dari langit, tapi yang turun hujan cicilan.
Film-film digarap,
diedit,
dipoles, dipromosikan sampai mulut berbusa. Tayangan trailer meyakinkan, poster mentereng,
premiere meriah, tapi penonton di studio? lebih sepi dari mushola selepas Isya.

Meski begitu ….ada satu genre yang tak pernah mati, tak pernah pensiun, tak pernah absen dari laporan tahunan bioskop:

FILM HOROR.
Penontonnya? Mayoritas rakyat menengah ke bawah, yang mungkin di rumahnya sudah banyak setan ekonomi: harga beras naik, utang numpuk, gaji tak kunjung naik, kehidupan seram tanpa efek suara, jadi nonton horor di bioskop malah terasa seperti liburan batin.

Ironis, kan? Film horor tak pernah mati, tapi impian banyak pembuat film justru mati pelan-pelan. Itulah Indonesia: kadang-kadang tragedi menjadi komedi, komedi menjadi kenyataan pahit, dan kenyataan pahit, sering hanya bisa ditertawakan supaya tidak gila.
Sekarang, rakyat ekonominya ngos-ngosan, napasnya senin-kamis, jadi siapa yang mau beli tiket film harga 50—100 ribu? Pilihannya jelas: mending beli beras, bukan beli tawa atau tangis di bioskop.
Dampaknya?
Film nasional mengalami lesuh darah. Denyutnya lambat, nadinya melemah, dan industri ini seperti pasien ICU yang butuh donor, tapi donornya saling tunggu, saling pandang, takut ngeluarin biaya. Namun di tengah kerontang ini… masih ada satu figur, satu nama, yang tak mau menyerah begitu saja:

SOULTAN SALADIN.
Aktor senior, yang dulu mewarnai layar perak dari zaman Rhoma Irama, sampai film-film bermutu seperti Titian Rambut Dibelah Tujuh.
Namanya harum, wibawanya kuat, suaranya khas, senyumnya teatrikal, seorang seniman yang bukan sekadar bermain, tapi menghayati panggung hidup. Bahkan ia pernah terlibat film produksi China, memerankan tokoh besar, Presiden Sukarno.

Lihatlah, AKTOR SOULTAN SALADIN tidak main-main. Namun apa yang membuatnya berbeda? Bukan sekadar reputasi, bukan sekadar sejarah panjangnya di dunia film, tapi semangatnya yang tidak padam, bahkan ketika umur memasuki senja yang panjang. Sementara banyak yang mengeluh, membuka mulut lebih banyak daripada karya, SOULTAN SALADIN justru bangkit, berdiri, tapi justru menjemput masa depan meski jalannya berbatu dan terjal.
SOULTAN SALADIN tahu satu hal:

DUNIA BERUBAH.
MEDIA BERUBAH.
LAYAR BIOSKOP BUKAN SATU-SATUNYA PENTAS.

Zaman ini, bintang tak lagi lahir dari layar perak, tetapi dari layar kecil di telpon genggam. Platform pendek, video satu menit, serial mini, konten harian, itulah panggung baru. Sementara banyak aktor senior masih memandangi masa lalu, SOULTAN SALADIN memilih menatap masa depan, dan berkata:

“Kalau layar besar tutup pintu, aku masuk lewat layar kecil.”
PERGI KE DIGITAL.
PERGI KE PLATFORM BARU.
PERGI KE RUANG DI MANA PENONTON MASIH ADA …
meski uang mereka pas-pasan. Ia memberi nama pada cita-citanya:
“MENUJU BINTANG.”
Bukan bintang jatuh, bukan bintang nostalgia, tapi bintang yang lahir dari keberanian mencoba hal baru, meski usia tak lagi muda.
Dan begitulah …, dunia film Indonesia yang lagi mati-matian, masih punya lilin kecil bertahan, meski angin bertiup dari segala arah.

Lilin itu bernama Semangat.
Lilin itu bernama Perjuangan.
Lilin itu bernama SOULTAN SALADIN yang tak mau menyerah, yang tak mau tenggelam dalam kenangan, yang tak mau kalah oleh keadaan.

TAPI UNGKAPAN MURNI INI, BUKAN CUMA UNTUK MEMUJI. Ini juga TAMBAHAN TAMPAKAN, SEDIKIT SENGAK, SEDIKIT PEDAS, UNTUK MENGGUGAH, BUKAN MENGGURUI.

Sebab apa gunanya seni kalau hanya jadi pajangan? Apa gunanya film kalau hanya jadi kenangan? Apa gunanya industri kalau hanya jadi bahan rintihan?
Maka dengarlah wahai:
produser,
aktor,
sutradara,
penata kamera,
penulis skenario,
dan semua insan film negeri ini:
BANGKIT!
Jangan hanya menunggu investor. Jangan hanya mengandalkan nostalgia. Jangan hanya mengutuk penonton yang sepi. Jangan hanya memaki zaman digital yang tidak kalian pelajari. Kalau zaman berubah, ikutlah berubah. Kalau platform berpindah, datangi panggung barunya. Kalau penonton lari, kejar mereka, bukan memanggil dari kejauhan dengan gengsi tua yang tak laku lagi.

SENI FILM BUKAN TENTANG TEMPAT. SENI FILM ITU TENTANG NAFAS. SELAMA NAFAS MASIH ADA, PANGGUNG SELALU BISA KITA BUAT SENDIRI.

SOULTAN SALADIN sudah menunjukkan: usia bukan batas,
modal bukan alasan, keadaan bukan penghalang. Layar kecil pun bisa jadi galaksi asal kita punya cahaya yang terus menyala.

Maka untukmu,
wahai insan film Indonesia:
jangan menyerah.
Jangan kalah.
Jangan puas hanya mengulang cerita lama.
Ciptakan karya,
meski kecil,
meski sederhana,
tapi hidup!
Bersatulah,
kolaborasilah,
rangkullah teknologi,
buat studio mini di rumah,
buat film pendek berkualitas,
buat serial daring yang menggigit, buat karya dari hati, karena penonton selalu rindu kejujuran, bahkan ketika kantong mereka tipis. Dan untuk Soultan Saladin, yang masih tegap berjalan di jalan panjang seni peran:

Semoga langkahmu menyala terus sampai pagi baru. Semoga mimpimu menembus kabut industri yang melemah. Semoga karyamu menginspirasi generasi berikutnya. Dan semoga MENUJU BINTANG
bukan sekadar judul, tetapi takdir yang terwujud.
Akhir kata dari rangkai bahasa,.dari hati rakyat, dari nurani penyair:
SALAM LAYAR KECIL INDONESIA
Karena masa depan seni tak selalu di layar besar, tetapi di hati mereka yang tetap berkarya di tengah gelap.
HIDUP FILM INDONESIA!.
Hidup seniman yang tak menyerah.
Hidup SOULTAN SALADIN!
Dan hidup kita semua yang masih percaya bahwa cahaya kecil pun bisa menjadi bintang.

DARI LAYAR MUNGIL
MENUJU BINTANG!

Dari Timur Bekasi
Kamis, 20 Nov 2025
19.53


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *