REFLEKSI LIMA PILAR

refleksi 5 pilar

NKRI ini berdiri tentu ada yang menjadi pendorong dan pendukung utama. Nah yang harus kita pahami adalah Negara ini berdiri didukung oleh 5 pilar pokok.

Pertama adalah Rakyat. Rakyat yang kemudian hari menjadi petani dan banyak profesi bahkan sampai pedagang asongan merupakan bagian terpenting dalam menopang, membela dan memperjuangkan terbentuknya NKRI. Selain itu hampir di tiap-tiap sejarah kerajaan-kerajaan selalu ada rakyat mulai masa Nabi Sulaiman, Majapahit dan Sriwijaya hingga Nusantara menjadi NKRI, semua butuh rakyat. Rakyat tetap mengambil bagian penting dalam setiap momentumnya. Inilah inti yang dikelilingi pagar di tengah dari semuanya. Rakyat adalah puncak paling tinggi dari semua kepentingan.

Kedua, merekalah Kaum Negarawan-cendikiawan, maksudnya mereka adalah para tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan seperti Hatta, Muhamad Nasir, Ali Sastroamijoyo, Yamin, Soekarno dan angkatan mereka. Bisa dikategorikan kaum intelektual, ulil abshar atau ulin nuha. Kelompok inilah yang memiliki peran besar sebagai pejuang kemerdekaan dan pasca merdeka. Merekalah yang memberikan tonggak dasar sendi-sendi negara bahkan kebangsaan sekaligus pancasila.

Ketiga adalah Tentara Rakyat, mereka inilah yang memperjuangkan dan mempertahankan berdirinya NKRI. Dalam masa perjuangan membentuk NKRI, tentara rakyat memiliki peran besar yang pada pokoknya bertugas memikul persenjataan. Tentara rakyat pada masa berdirinya NKRI juga berperan mempertahankan setiap titik wilayah dari satu pulau ke pulau lainnya. Sampai pada akhirnya, hari ini kita kenal TNI dan Kepolisian.

Keempat adalah kebudayaan dan kerajaan-kerajaan yang disana terlahir raja-raja kerajaan dan identitas di seluruh nusantara yang rela meyerahkan kedaulatan mereka untuk NKRI. Mereka memiliki otonomi terhadap wilayah mereka, Sri sultan Hamengkubuwono IX rela menyerahkan kuasanya untuk NKRI belum lagi Ternate, Gowa, Kutai, Darusalam dan banyak lagi kerajaan di nusantara ini. Merekalah yang menyerahkan daerahnya bagi berdirinya NKRI, yang walau saat ini mereka dihina, diinjak-injak oleh NKRI, tetap bersabar dan tenang. Itulah otonomi sebenarnya dan persemakmuran gaya Inggris di Indonesia. Raja-raja inilah yang sampai saat ini ditinggalkan dan dilupakan Negara.

Kelima yaitu mereka kaum agama dan spiritualis, seperti Ulama dan kyai-kyai. Dalam konsepsi gerakan organisasi keagamaan di masyarakat, kita mengenal organisasi besar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, Masyumi sampai PSI dengan beberapa tokoh pendirinya yang juga sebagai pahlawan nasional. Agamawan inilah yang berjuang dalam menyatukan persepsi akan kemerdekaan dan hak-hak untuk merdeka melalui ajaran Islam. Hadirnya Islam sebagai jalan menuju kemerdekaan mampu mendorong semangat dan pengetahuan modern akan pentingnya ilmu pengetahuan dan modernitas. Semangat itulah yang berlanjut dari waktu ke waktu mulai awal ajaran ulama awal, yang lazim dikenal Wali Songo di Tanah Jawa, sampai pujangga di tanah Sumatera hingga Makassar dan Kalimantan.

Simpiulan: Rakyat adalah fondasi utama sebuah negara, seperti bangunan pokok yang menopang seluruh struktur. Mereka adalah sumber daya manusia yang bekerja, berkreasi, dan berinovasi untuk memajukan negara. TNI sebagai pertahanan negara, seperti tembok pelindung yang menjaga keamanan dan stabilitas. Mereka siap melindungi rakyat dan negara dari ancaman luar dan dalam. Intelektual, yang meliputi pelajar, seniman, akademisi, dan ahli di bidang spesifik lainnya, adalah otak negara. Mereka menciptakan, menginovasi, dan mengembangkan pengetahuan untuk memajukan negara. Adat dan budaya adalah identitas negara, seperti akar yang menopang pohon. Mereka membentuk karakter dan kepribadian bangsa, serta menjadi sumber inspirasi dan kreativitas. Kekuatan spiritual, seperti energi yang menggerakkan hati dan jiwa. Mereka memberikan makna dan tujuan hidup, serta menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi rakyat.

Ketika kelima elemen atawa pilar ini bersinergi, negara akan menjadi kuat dan maju. Rakyat yang sejahtera, pertahanan yang tangguh, intelektual yang cerdas, adat dan budaya yang kaya, serta kekuatan spiritual yang kuat, akan membentuk negara yang harmonis dan sejahtera. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *