Jika kamu mendengar suara petasan yang meledak menggelegar, lantas kamu uring-uringan mencari siapa yang menyulutnya, bukan menggali tentang siapa pembuatnya. Loh kenapa? Padahal dia lebih harus diketahui karena kehebatannya membuat petasan yang menganggetkanmu. Bukan begitu?
Jika kamu melihat pertandingan tim sepakbola pavoritmu yang kalah, pasti yang akan pertama disalahkan itu pelatihnya? Hanya karena gegara strategi yang gak jitu? Bukankah ranah pelatih itu sebatas usaha? Seterusnya yang disalahkan adalah pemainnya.
Lebih heran lagi yang menjadi sasaran caci maki adalah wasit. Kenapa harus pemain? dan kenapa harus wasit? Heran tidak? Mengapa disalahkan harus pemain? Apa karena dia yang menjadi aktor utamanya? Loh dia dipilih juga kan karena dia memenuhi kualitas untuk bertanding saat itu. Apalagi wasit? Ikut maen juga engga loh ko bisa ikut disalahkan? Apa karena penyebabnya tidak adil dalam keputusannya?
Ga masuk akal. Kita terbiasa menjadi pencaci bukan pencuci. Kita tidak terbiasa menggarap, apalagi meruat dan sedikit kemungkinan menjadi seorang perawat. Kita terlalu sibuk menganiaya pikiran kita dan berkutat pada koruptor bukan kontruktor.
Sehingga kita tidak bisa membedakan mana proklamator mana propokator, mana produser mana aktor, mana baju mana kaen, mana kursi mana kayu, mana terasi mana bau, mana darah mana getah dan mana busur mana panah. Di mana diri kita yang sebenarnya? []









