Qobiltu Hatedu: Panggung Sunyi di Tengah Dunia yang Bising oleh Perang

Ihatedu

instalasi hatedu, di ngaosart. karya Are Pekasih.

Di saat dunia dipenuhi oleh dentuman konflik dan ketegangan geopolitik yang tak kunjung reda, sebuah ruang kecil di Tasikmalaya justru menawarkan hal sebaliknya: keheningan, pertemuan, dan kemanusiaan. Di Studio Ngaos Art, para seniman berkumpul, bukan untuk melawan dengan senjata, melainkan dengan panggung—tempat manusia kembali belajar menerima, memahami, dan merasakan.

TASIKMALAYA, 27 Maret 2026 | Suasana kebersamaan tampaknya belum benar-benar pergi dari relung jiwa. Cahaya Ramadan memang mulai meredup, gema Lebaran pun perlahan menjauh, tetapi kehangatannya masih tinggal dan terasa nyata. Di sudut Studio Ngaos Art, aroma kakaren yang menggoda dan tawa yang belum sepenuhnya reda menciptakan suasana akrab yang sulit dilupakan. Dalam ruang sederhana itu, para seniman, komunitas, dan penikmat seni kembali bertemu, merajut persaudaraan hingga menyatu dalam satu rasa—sebuah ruang tempat manusia saling hadir dan saling mengakui.

Suasana yang hangat tersebut mengantar peringatan Hari Teater Dunia (Hatedu) pada makna yang lebih dalam. Perayaan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan tumbuh sebagai ruang kesadaran yang dijalani bersama. Setiap 27 Maret, panggung-panggung di berbagai penjuru dunia kembali menyala sebagai bentuk penghormatan terhadap teater yang terus berbicara tentang zaman, mempertanyakan realitas, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh konflik dan kekerasan, perayaan seperti ini tidak lagi sekadar seremoni budaya, melainkan pernyataan sikap bahwa kemanusiaan masih memiliki ruang untuk dirawat.

Di saat yang sama, di luar ruang-ruang perayaan itu, dunia sedang berada dalam ketegangan yang tidak sederhana. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus memanas, menghadirkan kekerasan, ketakutan, dan kehilangan di berbagai wilayah. Dalam lanskap global yang penuh kegelisahan ini, ruang-ruang kecil seperti panggung teater justru menjadi tempat penting untuk merawat kesadaran, kemanusiaan, dan harapan. Ketika berita dunia dipenuhi dentuman senjata dan retorika kekuasaan, panggung-panggung kecil seperti ini hadir sebagai suara tandingan yang sunyi, tetapi bermakna.

sma 9
pentas dari Teater 9 & Kresenter. dok. Galih

Di tengah suasana itu, Ngaos Art Foundation bersama berbagai kelompok teater menghadirkan perhelatan bertajuk “Qobiltu Hatedu”. Sore itu, pasca deras hujan dan kilatan petir, Studio Ngaos Art tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pertunjukan. Ruang tersebut berubah menjadi ruang bersama—tempat seni dan pengalaman batin bertemu tanpa jarak.

Perhelatan ini lahir dari kebersamaan yang telah terbangun sejak pertemuan-pertemuan sederhana di bulan Ramadan. Dari percakapan ringan dan kehangatan yang tumbuh perlahan, muncul gagasan untuk merayakan teater sebagai ruang hidup bersama. Sejak pukul 16.00 WIB, suasana mulai dipenuhi energi yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa kuat. Tidak ada sekat yang membatasi dan tidak ada jarak antara pelaku dan penonton—yang hadir hanyalah keinginan untuk terhubung, berbagi, dan merayakan kehidupan melalui seni—di sinilah teater bekerja dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling kuat, yakni mempertemukan manusia tanpa prasangka.

Menjelang waktu maghrib, suasana perlahan berubah menjadi lebih hening dan khidmat. Para peserta menghentikan sejenak aktivitas artistik untuk mengikuti tahlil bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur teater yang telah lebih dahulu menapaki jalan kesenian. Doa-doa dilantunkan dengan penuh kekhusyukan, dipimpin oleh Ustadz Aan, tidak hanya untuk mereka yang telah tiada, tetapi juga sebagai ikhtiar bersama memohon kebaikan bagi negeri ini. Ritual tersebut menghadirkan lapisan makna yang lebih dalam, seolah menegaskan bahwa panggung bukan sekadar ruang ekspresi, melainkan juga ruang ingatan—tempat sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan bertemu dalam satu kesadaran yang utuh.

Pemilihan kata “Qobiltu”—yang berarti “aku menerima”—mengandung makna yang mendalam. Istilah ini dikenal dalam prosesi ijab kabul sebagai simbol penerimaan dan komitmen. Di panggung ini, makna tersebut dihidupkan kembali sebagai pernyataan batin para seniman untuk menerima proses, perjalanan, serta dinamika kehidupan yang mereka jalani. Dari pemaknaan tersebut, setiap unsur pertunjukan memperoleh kedalaman baru. Tubuh tidak lagi sekadar bergerak, melainkan menjadi bahasa yang jujur. Kata-kata tidak hanya menjadi dialog, melainkan berubah menjadi doa. Panggung tidak hanya menjadi tempat tampil, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan kesadaran bersama. Dalam dunia yang kerap menyelesaikan konflik dengan kekerasan, teater justru menawarkan bahasa lain—bahasa rasa yang tidak melukai, tetapi menyentuh.

Berbagai kelompok teater kemudian menghadirkan pertunjukan dengan pendekatan yang beragam. Sebagian memilih gaya eksperimental, sebagian lain menyampaikan cerita secara puitis. Keberagaman ini memperkaya cara pandang tentang manusia dan kehidupannya. Kelompok muda seperti Teater 9 dan Kresenter membawa energi baru. Kelompok seperti Lesbumi, GWS, Teater Bolon, serta UKM Teater 28 Universitas Siliwangi menghadirkan perspektif yang lebih luas. Karya seperti “Itu Panggung, Noni” dan “Kita Jadi Siapa” mengajak penonton merenungkan kembali peran manusia di tengah dunia yang penuh tuntutan.

Di sela perhelatan, tokoh teater senior Nur Rahmat SN menyampaikan pesan sederhana yang mengena, “Seniman itu harus ngahiji, jangan asa aing pang jagona.” Ucapan tersebut disambut tawa hangat, tetapi maknanya terasa dalam. Dunia seni bukan ruang untuk meninggikan ego, melainkan ruang untuk saling menguatkan. Kebersamaan menjadi fondasi agar seni tetap hidup dan berkembang. Pesan ini terasa semakin penting di tengah dunia yang terpecah oleh kepentingan dan identitas yang saling berhadapan.

lonbo
pentas dari Teater Bolon

Di sisi lain, dalam satu dialog monolognya yang berjudul Nyanyian Angkot, Pongkir Widjaya dari Lesbumi berkata: “Teater di Tasik mah alus ngahiji,” Dalam situasi global yang dipenuhi konflik, teater tidak lagi sekadar menjadi ruang ekspresi. Ia hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap kekerasan—perlawanan yang tidak dilakukan dengan senjata, melainkan melalui empati, kejujuran, dan keberanian untuk memahami. Ketika kekerasan memisahkan manusia, teater justru mempertemukan. Ketika konflik membungkam suara, teater memberi ruang bagi manusia untuk berbicara dan didengar. Ia mungkin tidak menghentikan perang, tetapi ia menjaga sesuatu yang jauh lebih mendasar: kemanusiaan itu sendiri.

Di tengah perhelatan, refleksi serupa juga mengemuka dalam pidato kebudayaan yang disampaikan oleh Dwi Feb. Ia mengingatkan bahwa peran teater sering kali disalahpahami ketika dihadapkan pada persoalan besar yang dihadapi negara. Kalau negara sedang kacau, apa yang bisa dilakukan teater? Teater tidak bisa menurunkan harga beras, tidak bisa memperbaiki gejolak yang terjadi, apalagi menghentikan korupsi hanya dengan satu adegan. Teater memang bukan jawaban atas semua persoalan itu. Akan tetapi, teater memiliki sesuatu yang tidak selalu dimiliki oleh negara: kejujuran. Di atas panggung, seseorang tidak bisa berbohong terlalu lama. Tubuh akan gemetar, suara akan melemah, dan penonton akan segera tahu apakah yang ditampilkan itu palsu atau sungguh-sungguh. Di luar sana, kebohongan bisa saja merajalela, tetapi di atas panggung, kebenaran selalu menemukan caranya untuk hadir.

Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi oleh teknologi dan distraksi digital, pengalaman seperti ini menjadi semakin berharga. Teater menghadirkan kehadiran yang utuh—kedekatan yang nyata serta hubungan antarmanusia yang tidak dapat digantikan oleh layar. Dalam ruang ini, teater terasa sebagai “jalan pulang”, tempat manusia dapat kembali memahami dirinya sendiri, berdamai dengan keadaan, dan merayakan hidup. Ketika dunia luar terasa semakin jauh dan asing, teater justru mendekatkan yang paling dekat: diri kita sendiri.

Di penghujung perhelatan, suasana tidak ditutup dengan kemeriahan yang berlebihan. Keheningan justru memberi ruang bagi makna untuk tumbuh lebih dalam. Setiap pertunjukan, setiap jeda, dan setiap perjumpaan menjadi bagian dari pengalaman yang utuh. “Qobiltu Hatedu” mengingatkan bahwa panggung bukan hanya tempat untuk tampil, tetapi juga ruang untuk mengalami dan menghidupi. Panggung menjadi tempat manusia mengucapkan janji—bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri. Selama manusia masih bersedia hadir dengan kesadaran penuh, seni akan tetap menjadi kekuatan yang mengubah dunia—pelan tetapi pasti, lembut sekaligus mengakar, sunyi tetapi tetap terasa.

Di tengah dunia yang terus bergejolak, mungkin justru ruang-ruang kecil seperti inilah yang diam-diam menyelamatkan makna menjadi manusia. Pada titik inilah, teater mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi mendasar: menjadi manusia, dan tidak kehilangan kemanusiaan.

Qobiltu Hatedu
“Kami menerima panggung ini—dengan segala luka, cinta, dan kejujurannya.”


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *