PADANG: Ruang Kabuyutan dan Kosmologi Hyang

gunung padang

Menurut literatur kebahasaan, arti kata Padang pada hakikatnya tidak serta-merta bermakna “terang”, meskipun dalam penuturan dan ungkapan tertentu ia kerap disandingkan dengan kata caang atau mubyar. Hal ini tampak dalam ungkapan-ungkapan lama seperti “caang padang narawangan” dan “mubyar padang sasmitané”, yang dalam pemahaman modern sering dimaknai sebagai keadaan terang-benderang atau jelas terlihat.

Namun demikian, menurut Dr. Rony Hidayat Sutisna S.Sn., MPd., (Inoy), penautan makna Padang dengan cahaya tidak dapat diterima begitu saja sebagai makna asal. Di tatar Sunda sendiri, terdapat sejumlah tempat yang menggunakan kata Padang sebagai nama wilayah, antara lain Nagara Padang, Pasir Padang, Gunung Padang (Darmaraja), dan beberapa lokasi lainnya. Keberadaan toponimi ini menunjukkan bahwa Padang bukan sekadar istilah metaforis, melainkan kata yang memiliki kedudukan khusus dalam lanskap budaya dan kosmologi Sunda.

Secara kebahasaan, besar kemungkinan telah terjadi pergeseran makna, sehingga Padang kemudian dipahami secara sempit sebagai identik dengan “cahaya” atau “terang”, padahal makna asalnya jauh lebih tua dan bersifat kosmologis.

Dalam penuturan bahasa Para Hyang, kata Padang diyakini sebagai kata majemuk yang berasal dari rangkaian PA–DA–HYANG, yang dalam perjalanan bunyi dan waktu mengalami pemadatan menjadi Pada’ng, lalu dilafalkan sebagai Padang. Unsur PA bermakna tempat; DA menunjuk tanah, daratan, atau klan tanah yang berada di bawah kuasa Danghyang Guru; sedangkan HYANG merujuk pada yang gaib, sukma, atau ruh.

Dengan demikian, Padang dipahami sebagai tempat yang dipercaya sebagai wahana bersemayamnya Danghyang Guru Dewata. Ia bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang sakral yang menghubungkan daratan dengan dunia ruhani.

Dalam tradisi kepercayaan Nusantara, salah satu Danghyang yang termasyhur adalah Sabdo Palon dan Semar—yang juga dikenal sebagai Ismaya Jati. Keduanya sama-sama diyakini sebagai penguasa daratan. Sementara itu, wilayah lautan dipercayakan kepada tokoh perempuan sakral, Kangjeng Ratu Kidul. Di samping itu, terdapat pula tokoh kepercayaan perempuan yang diberi tugas menjaga gunung-gunung, yakni Dewi Rengganis. Pembagian peran ini menunjukkan adanya tatanan kosmik yang memisahkan, sekaligus menyelaraskan, wilayah darat, laut, dan gunung.

Musabab dari itu, tempat-tempat yang kemudian dinamai dengan kata Padang dan di dalamnya ditemukan jejak kabuyutan sangat mungkin merupakan lokasi interaksi antara manusia umum dan para Danghyang Guru, yang dalam kepercayaan lama kebanyakan bersemayam di wilayah perbukitan atau pegunungan. Hal ini mengingatkan pada masa kabataraan gunung-gunung sakral seperti Gunung Galunggung, Gunung Syawal, Gunung Lingga, dan Gunung Pancar.

Pada zaman Hyang, ketika manusia Nusantara menganut Ajaran Hyang sebagaimana diungkapkan oleh Profesor Undang dari Universitas Padjadjaran dalam kajiannya mengenai Agama Hyang dan Kapitayan Jawi, tempat-tempat bersemayamnya para Danghyang tersebut kemudian disebut Padang. Dari sinilah muncul penamaan Pasir Padang, Puncak Padang, Nagara Padang, Gunung Padang, dan sejenisnya. Hingga sejauh ini, Nagara Padang di Ciwidey, Bandung, serta Gunung Padang di Cianjur diduga sebagai dua situs Padang yang paling besar dan penting.

Tempat-tempat yang dinamai Padang dan memiliki kabuyutan, dengan demikian, dapat dipahami sebagai ruang pertemuan antara manusia dan Danghyang Guru. Pola ini berulang pada banyak wilayah, terutama di daerah perbukitan dan pegunungan, sebagaimana terjadi pada masa kabataraan Gunung Galunggung, Gunung Syawal, Gunung Lingga, dan Gunung Pancar. Penamaan tersebut bukan kebetulan, melainkan cerminan dari sistem kepercayaan dan cara pandang kosmologis masyarakat Nusantara pada zaman Hyang.

Gunung Padang di Cianjur sendiri tidak dapat disamakan dengan piramida yang dibangun di Mesir. Kendati memang terdapat sentuhan tangan manusia, seluruh bahan dasarnya telah tersedia secara alami di tempat tersebut. Batu-batu persegi yang ditemukan—sebagian berbentuk pentagonal dan heksagonal—bukanlah hasil pahatan manusia, melainkan bentukan alam. Peran manusia di sana lebih sebagai penyusun dan pemoles, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan ritualnya.

Fenomena serupa juga ditemukan di wilayah Sumedang, seperti di Batu Sela Reuma dan di daerah Buah Dua, di mana terdapat batuan-batuan berbentuk serupa dan identik dengan yang ada di Gunung Padang. Begitu pula dengan temuan di perbukitan daerah Cilacap. Batuan-batuan tersebut terbentuk dari muntahan lahar gunung api purba yang mengalami retakan—krek—ketika bersentuhan dengan air dalam proses pendinginan.

Dengan demikian, Padang bukanlah sekadar istilah geografis atau metafora cahaya, melainkan penanda ruang sakral yang lahir dari pertemuan antara bahasa, kepercayaan, dan alam. Ia adalah jejak kosmologi Hyang yang tertinggal dalam nama, tanah, dan batu-batu yang masih setia menyimpan ingatan zaman. []

CATATAN TAHUN 2025
Baca Tulisan Lain

CATATAN TAHUN 2025


Apakah artikel ini membantu?

2 thoughts on “PADANG: Ruang Kabuyutan dan Kosmologi Hyang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *