CACAR MONYET DAN PERINGATAN WHO: Catatan dari Tebing Pangandaran untuk Indonesia

CACAR

“Leuweung lain warisan, tapi titipan nu kudu dijaga ku rasa jeung ukur.” Sebuah pepatah buhun peninggalan karuhun yang masih tersimpan dengan baik di hardist ingatan, tapi saya lupa siapa penulisnya. Lepas dari hal tersebut:

Tulisan ini saya catat di Pangandaran, di tengah perayaan Tahun Baru untuk Indonesia, tanah airku tercinta. Selayaknya perayaan Tahun Baru, di mana pun itu letak lautnya: Laut menyala oleh kembang api, musik berdentum dari berbagai arah warung, café, hotel, dan kendaraan sewaan, akan tetapi hutan di atas tebing berdiri sunyi, seperti tidak termasuk dalam perayaan. Sebagaimana angin laut, tetap saja berbau garam. Bangku beton—tempat saya duduk memandangi ombak—masih dingin oleh sisa air laut, dari hempasan ombak yang dilayarkan angin purba. Dan bulan timbul tenggelam dalam selimut awan tebal.

Di batas itulah—antara pesta manusia dan diam alam—monyet-monyet turun perlahan, menyusuri jalur hidup yang kian menyempit. Ya, di Pangandaran, hutan lindung atawa cagar alam tidak berdiri jauh dari laut. Ia menempel pada tebing, menjaga perbatasan rapuh antara darat dan air. Di sanalah monyet-monyet hidup dan berkembang biak—di bawah kanopi hutan lindung, di sela batu karang, di lorong-lorong alami yang tidak pernah tercantum dalam rencana induk pariwisata.

Boleh jadi, monyet di Pangandaran bukan pendatang. Mereka ada jauh sebelum negara atawa pemerintahan setempat menamai tempat ini sebagai destinasi wisata unggulan, sebelum angka kunjungan dijadikan tolok ukur keberhasilan, sebelum ruang hidup dihitung sebagai potensi ekonomi. Hutan dan laut pernah memberi mereka jarak yang wajar. Kini jarak itu dipersempit oleh keramaian yang dirancang. Ada juga kijang-kijang yang berkeliaran, sepertihalnya monyet-moyet yang mengorek-ngorek sisa-sisa makanan manusia atawa wisatawan.

Harus diakui bahwa kesunyataannya pariwisata massal di ini negeri bekerja dengan logika percepatan. Target ditetapkan, akses dilebarkan, interaksi didekatkan. Alam diposisikan sebagai latar, satwa sebagai pengalaman, dan jarak dianggap penghambat. Monyet-monyet dibiarkan turun, wisatawan didorong mendekat. Hubungan yang seharusnya dijaga berubah menjadi tontonan yang dinormalisasi.

Di tepi tebing, banyak sudah monyet kerap duduk menghadap laut. Tatapannya kosong, tetapi tubuhnya menyimpan kedekatan purba dengan manusia: gerak, naluri, dan daya bertahan yang nyaris serupa. Kedekatan ini bukan sesuatu yang perlu dirayakan tanpa batas, sebab manusia, alam dan hewan itu tanpa disadari senantiasa menyimpan konsekuensi yang bekerja begitu pelan, nyaris tak terasa—sebagaimana detik jam yang mampu menciptakan ruang sunyi, dan sering kali baru dipahami setelah terlambat.

Katakanlah: Organisasi Kesehatan Dunia, dalam peta kewaspadaan global 2024–2027, berulang kali mengingatkan bahwa dunia yang memperluas pertemuan manusia dan satwa—tanpa jeda ekologis dan kehati-hatian kebijakan—sedang menumpuk risiko. Penyakit tidak lagi berdiri sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai gejala dari cara hidup yang terlalu rapat, terlalu cepat, dan terlalu yakin bahwa alam akan selalu menyesuaikan.

Di Pangandaran, dan atau bahkan di tempat-tempat wisata lainnya seperti di Kawasan Gunung Galunggung, yang mana monyet-moyet berkembang biak dengan murni sesuai habitatnya, katakanlah—peringatan itu tidak hadir sebagai grafik atau laporan teknis. Ia menjelma rutinitas. Wisatawan datang berombongan. Sampah tertinggal. Monyet-monyet mendekat. Konflik kecil terjadi, lalu dianggap biasa. Semua tampak sepele, bahkan lucu. Namun pengulangan itulah yang mengikis jarak lama—jarak yang oleh karuhun disebut pamali alias etika tak tertulis untuk tidak melampaui batas hidup.

Karuhun menyebut hutan sebagai leuweung titipan. Ia bukan milik, bukan pula komoditas semata. Ia dijaga dengan rasa sungkan karena diyakini menyimpan keseimbangan yang tidak selalu terlihat. Dalam bahasa kebijakan hari ini, kebijaksanaan semacam itu sering dianggap penghambat investasi. Padahal justru di sanalah daya tahan hidup disimpan.

Tahun 2026 disebut sebagai Tahun Kuda Api—tahun yang ditandai gerak cepat, panas, dan dorongan berlebih. Arah kebijakan pariwisata kita terasa sejalan dengannya: Agresif, ekspansif, dan minim jeda refleksi. Negara merayakan pertumbuhan, sementara alam diminta menyesuaikan. WHO mencatat bahwa dalam dunia dengan mobilitas tinggi, iklim yang berubah, dan ruang hidup yang saling tumpang tindih, tubuh manusia, tubuh satwa, dan tubuh lingkungan tidak lagi bisa dipisahkan oleh sekat administrasi.

Di malam pergantian tahun 2025 ke tahun 2026 ini, ketika musik mereda dan sisa kembang api jatuh ke pasir, sebagian monyet-monyet kembali naik ke hutan lindung. Ombak tetap memukul tebing. Dan angin laut tetap saja tak henti-hentinya membawa bau asin—senantiasa setia melarungkan sisa-sisa pesta ke ruang-ruang yang tak terduga dalam peta. Pemandangan itu tampak damai. Namun damai sering kali hanyalah jeda sebelum konsekuensi menyusul.

Sekali lagi: Hutan Lindung Pangandaran sebagai salah satu contoh mutlak dari destinasi wisata yang ada di Indonesia—bukanlah satu-satunya objek wisata yang sekaligus tempat habitatnya monyet berkembang biak, alias bukan sekadar objek wisata biasa, melainkan ujian bagi cara negara memandang alam. WHO telah menyusun peta kewaspadaan dari tahun 2024 hingga tahun 2027, dan alam telah lama memberi tanda-tandanya sendiri. Sebagaimana Tahun Kuda Api (2026), yang telah mengingatkan pada kita semua, bahwa percepatan tanpa kebijaksanaan hanya akan mempercepat kelelahan. Pembangunan yang mengabaikan batas ekologis bukanlah kemajuan, melainkan penundaan tanggung jawab.

Lepas dari itu semua, saya kembali teringat pada pepatah karuhun:“Lamun ukur hayang rame jeung untung, tapi mopohokeun wates, alam moal ngambek—inyana ngan ukur ngitung.” Sebagaiman banjir di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor atau banjir bandang yang masih hangat melanda Sumatra dan sekitarnya. Lantas, peringatan dari WHO perihal kekhawatiran akan penyebaran internasional dari varian virus cacar monyet yang lebih mematikan ini, yang bersumber dari monyet sendiri bagaimana?

Tentu saja, jawabannya bukan berarti destinasi wisata seperti itu harus ditutup, melainkan ada banyak cara untuk sedia payung sebelum hujan, seperti memperketat pengawasan di pintu masuk internasional, dan menyiapkan fasilitas kesehatan berlapis, sebagai respons terhadap situasi global ini. Jangan sampai seperti kasus bandara hantu yang ngabuntut bangkong. []

TRINITAS PENDIDIKAN
Baca Tulisan Lain

TRINITAS PENDIDIKAN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *