NU tergontai! Turbulensi pencopotan Gus Ipul dari jabatan Sekjen PBNU oleh Gus Yahya pada 28 November 2025 menjadi titik krusial di internal NU. Momen ini menandai pecahnya ketegangan dan menjadi sinyal bahwa stagnasi pengelolaan organisasi tidak lagi dapat ditoleransi.
Akar ketegangan bermula dari dinamika pasca-rapat PWNU se-Indonesia pada 22–23 November 2025 di Surabaya, yang menekan pentingnya konsolidasi, ketertiban gerak, dan meredam eskalasi melalui islah para tokoh inti.
Rapat itu memang tidak mengeluarkan rekomendasi formal “sowan bersama”. Tetapi pesan moralnya sangat gamblang: para pemimpin diminta kembali pada adab sowan bersama ke Lirboyo.
Namun Gus Ipul memilih sowan lebih dulu ke Lirboyo pada 25 November 2025,
Langkah itu oleh sebagian pihak dibaca sebagai isyarat goodwill, tetapi oleh sebagian lain dianggap sebagai sinyal ketidakteraturan internal—bahwa koordinasi pusat tidak lagi solid dan keputusan strategis mulai bergerak sendiri-sendiri.
Sebagian pihak menafsirkan langkah tersebut sebagai ikhtiar pribadi untuk meredakan ketegangan, sebagian lain melihatnya sebagai ketidaksinkronan dengan ritme kolektif yang dirumuskan dalam forum resmi PWNU.
Gus Yahya kemudian menyusul sowan pada 27 November 2025. Sekembalinya dari Lirboyo, ia mengambil keputusan tegas: pencopotan.
Ia tidak bersedia membiarkan simpul-simpul birokrasi yang dianggap menghambat menguasai jalannya organisasi. Dengan AD/ART sebagai legitimasi, keputusan ini menjadi pemutus kemacetan yang sudah lama berdesis di tubuh PBNU.
Sikap Gus Ipul sepanjang proses ini menarik dicatat. Ia memilih menahan diri dari konfrontasi terbuka.
Saat sowan ke Lirboyo, Gus Ipul memohon doa restu agar NU mendapat jalan keluar terbaik. Gestur ini menunjukkan kehati-hatian dan keinginannya untuk tetap berada dalam koridor etika jamiyah—meski di balik ketenangan itu, jelas terdapat kegelisahan atas dinamika internal yang bergerak begitu cepat dan keras.
Kronologis
Secara kronologis, ketegangan PBNU juga diperkeras oleh isu terakhir soal konsesi tambang.
Perbedaan pilihan investor membuat relasi dua pucuk pimpinan menegang dimana Gus Yahya mendukung investor yang direstui pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sementara Gus Ipul ingin mempertahankan investor lama dari era Presiden Joko Widodo.
Ketua Pengurus Besar PBNU, Ulil Abshar Abdalla bahkan menyebut Rais Aam KH Miftachul Akhyar sempat mendapat dorongan untuk mempertimbangkan pencopotan Gus Yahya. Namun langkah itu dinilai tidak sah karena hanya muktamar yang dapat mengganti ketua umum.
Perselisihan tambang inilah yang menjadi latar faktual yang memperkeras dinamika sebelum terjadinya sowan ke Lirboyo.
—
Pesan Lirboyo
Pesan dari Lirboyo menjadi penyeimbang penting. Para masyayikh menegaskan agar para pengurus dan alumni tidak memihak, tidak ikut memperuncing perdebatan, dan menjaga ukhuwah.
Nasihat ini adalah rem moral yang diberikan tepat ketika tensi elite nyaris menetes ke akar rumput. Jelas bahwa para kiai tidak ingin NU menjadi korban manuver elite yang kehilangan kendali.
Di tengah kekisruhan ini, pencopotan Gus Ipul membuka dua kemungkinan.
Pertama, NU dapat memasuki fase pembenahan struktural jika keputusan ini diiringi kedewasaan semua pihak dan dipandu oleh nasihat ulama. Dengan ketegasan yang benar, keputusan ini bisa menjadi awal pembersihan jalur komando yang selama ini tersumbat.
Kedua, jika ego pribadi dan tarik-menarik kepentingan mengalahkan pesan Lirboyo, maka NU terancam memasuki babak fragmentasi yang lebih dalam.
Situasinya rapuh; sedikit saja salah langkah, polarisasi bisa merembet ke struktur bawah dan memicu luka organisasi yang lebih panjang.
Pada akhirnya, pencopotan ini bukan akhir dari konflik, tetapi awal dari pertarungan arah.
Jalan keluar NU tidak semata ditentukan oleh ketegasan Gus Yahya atau kesabaran Gus Ipul, melainkan oleh sejauh mana seluruh elemen NU mematuhi wejangan para kiai: tenang, netral, dan menjaga persaudaraan. Dari titik inilah masa depan NU sedang dipertaruhkan—antara pulih atau pecah.

SENGKARUT PENDIDIKAN








