‎MENYINGKAP KEDALAMAN SUNARYO : Dari Patung Sudirman hingga Selasar Seni

lukisan sunaryo

“When The Dancers Stay At Home”, karya Sunaryo yang dipamerkan dalam ARTJOG: Resilience. Foto tangkapan layar dari ig selasarsunaryo oleh Mohammad Rohamudin. dok. selasarsunaryo.

Proses, Material, dan Kesetiaan pada Sikap

‎Dalam sejarah seni rupa Indonesia modern, Sunaryo menempati posisi bergengsi bahkan penting. Nilai-nilai karya mahal dan top. Reputasi Sunaryo dibentuk oleh kesadaran menjadikan seni sebagai proses berpikir yang adiluhung: mulia atau bermartabat. Sunaryo sendiri pernah menegaskan bahwa seni baginya bukan soal gaya, melainkan soal sikap. Ini tercermin dalam seluruh praktiknya, dalam cara ia memperlakukan material, dalam pilihan tematik yang tidak mudah, dan dalam keengganannya untuk menyederhanakan makna demi kenyamanan penonton.

‎Karya-karyanya sering terasa berat, bahkan sulit dicerna. Namun kesulitan itu dijadikan pintu masuk menuju pengalaman estetis yang tahan lama alias long lasting. ‎Lahir di Banyumas pada 1943 dan dididik di Institut Teknologi Bandung, Sunaryo berasal dari generasi yang mengalami langsung pergolakan sejarah Indonesia. Pengalaman tersebut tidak ia terjemahkan secara naratif atau ilustratif. Dalam pandangannya, seni tidak berkewajiban menjelaskan segalanya.

‎Seni membuka ruang tafsir, bukan menutupnya dengan pesan yang terlalu jelas. Karena itulah banyak karyanya mengajak penonton untuk berhenti sejenak, meraba, dan berpikir. Itu wajib bagi setiap orang yang sedang menikmati karya-karya Sunaryo.

‎Pengalaman dan Penghargaan

‎Pengalaman belajar memahat marmer di Carrara, Italia, memperkuat cahaya Sunaryo sebagai seniman yang serius secara teknis. Yang lebih penting lagi bahwa pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap material. ‎Ia pernah menyatakan bahwa material memiliki karakter dan kehendaknya sendiri.

Sunaryo 1
Sunaryo. Foto tangkapan layar oleh Mohammad Rohamudin.

Seniman tidak seharusnya memaksakan bentuk, melainkan berdialog dengan bahan. Prinsip ini tampak dalam patung-patungnya yang mempertahankan tekstur kasar, bekas kerja tangan, dan ketidaksempurnaan yang disengaja.

‎Keindahan dalam karya Sunaryo adalah gelombang kemesraan hati yang lahir secara alamiah dan “perawan”

‎Keberhasilan Sunaryo tumbuh perlahan. Ia dikenal sebagai pelukis, pematung, dan salah satu maestro seni grafis Indonesia. Karya grafisnya pernah masuk dalam publikasi internasional dan dipamerkan bersama seniman dunia, menempatkannya dalam percakapan seni global.

‎Ia menerima berbagai penghargaan dan undangan pameran penting, baik di dalam maupun luar negeri. Namun pencapaian-pencapaian itu tidak pernah menjadi pusat narasi dirinya. Sunaryo tampak lebih tertarik pada kerja itu sendiri daripada pada pengakuan yang mengikutinya.

Monumen dan Patung Ikonik sebagai Bukti Integritas

‎Kepercayaan negara terhadap Sunaryo terlihat jelas melalui karya-karya monumentalnya di ruang publik. ‎Ia dipercaya mengerjakan berbagai patung dan monumen tokoh nasional, sebuah pengakuan atas kapasitas artistik dan integritasnya. Namun berbeda dari banyak monumen yang bersifat glorifikatif, karya-karya Sunaryo justru menghadirkan kesan berat dan reflektif.

‎Salah satu contoh paling menonjol adalah Patung Panglima Besar Jenderal Sudirman di kawasan Dukuh Atas, Jakarta. Patung perunggu monumental ini menggambarkan Sudirman berdiri tegak memberi hormat, tanpa gestur heroik berlebihan. Pose tersebut terasa tenang namun tegas, lebih menekankan keteguhan dan disiplin batin daripada kemegahan fisik.

‎Setiap hari, ribuan orang melintas di hadapan patung ini, sering kali tanpa menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan karya seorang seniman yang memandang sebagai arus sejarah yang harus direnungkan.

Pendidik dan Pembentuk Ekosistem Seni

‎Di luar praktik berkarya, kontribusi Sunaryo terhadap seni rupa Indonesia justru semakin luas melalui perannya sebagai pendidik dan pembangun ekosistem seni. Selama puluhan tahun mengajar di ITB, ia dikenal menuntut keseriusan berpikir dari mahasiswa. Ia tidak mendorong pencarian gaya secara instan, tetapi menekankan pentingnya proses, kegagalan, dan disiplin intelektual.

sunaryo sudirman
Patung Soedirman karya Soenaryo. Foto tangkapan layar oelh Mohammad Rohamudin.


‎Banyak seniman generasi setelahnya mengakui pengaruh Sunaryo dalam cara berpikir dan bersikap terhadap seni. Komitmen tersebut mencapai bentuk paling konkret melalui pendirian “Selasar Sunaryo Art Space” di Bandung pada akhir 1990-an. Galeri ini merupakan ruang hidup bagi seni.

‎Di sana berlangsung pameran, diskusi, pertunjukan, dan kegiatan edukasi yang mempertemukan seniman lintas generasi dan publik luas. Selasar Sunaryo memperkuat reputasi Sunaryo sebagai seniman yang tidak berhenti pada produksi karya, tetapi juga membangun ruang dialog dan pemahaman.

‎Dalam lanskap seni rupa Indonesia yang semakin dipengaruhi oleh kecepatan, pasar, dan citra visual instan, posisi Sunaryo terasa semakin kontras. ‎Ia tidak menolak perubahan zaman, tetapi menolak penyederhanaan gagasan. Ia percaya bahwa seni yang terlalu mudah sering kali cepat habis, sementara seni yang menuntut kesabaran justru memiliki umur panjang.

‎Sikap ini membuatnya tidak selalu populer, tetapi justru relevan dalam jangka panjang.

Penutup

‎Secara jujur, tidak semua orang akan merasa dekat dengan karya-karya Sunaryo. Banyak karyanya menuntut waktu, perhatian, dan kesiapan untuk berhadapan dengan ketidakjelasan. Namun di situlah kekuatannya. Sunaryo tidak berusaha menyenangkan semua orang. Ia memilih setia pada kegelisahan dan pertanyaan yang ia anggap penting, meski harus berjalan lebih lambat dari arus utama.

‎Pada akhirnya, Sunaryo adalah contoh seniman yang membangun keberhasilan dan reputasi tanpa kehilangan integritas. Ia menua bersama karyanya, tetap relevan. Dalam sejarah seni rupa Indonesia, Sunaryo bukan hanya nama besar, melainkan harus lurus bahwa seni masih bisa menjadi ruang berpikir yang dalam dan berbeda.

In Memoriam Masjidi
Baca Tulisan Lain

In Memoriam Masjidi



Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *