Menunggu Senja dan Merawat Makna: Jejak Sejarah Ngabuburit dalam Ingatan Kolektif

ngabuburit kosapoin.com

Setiap Ramadan datang, selalu ada transisi waktu yang terasa memiliki nadinya sendiri. Ia hadir pada jam-jam terakhir sebelum azan maghrib, ketika matahari mulai merendah di cakrawala, tapi sisa panasnya masih memantul di permukaan jalan. Pada saat seperti ini, kehidupan tidak berhenti karena lelah, melainkan berubah iramanya. Pedagang menata deretan gorengan dengan sigap, anak-anak berlari sambil tertawa tanpa beban, dan orang-orang memenuhi ruang publik tanpa agenda yang terlalu pasti. Di tengah rasa haus yang perlahan mengeringkan tenggorokan, justru terbuka ruang bagi percakapan, kebersamaan, dan kehangatan sosial yang kita kenal dengan satu sebutan: ngabuburit.

Kata itu tumbuh dari rahim bahasa Sunda. Burit menunjuk pada senja, waktu ketika terang mulai memberi jalan kepada gelap. Secara kebahasaan, istilah ini menggambarkan aktivitas menyambut datangnya sore. Pada awalnya, ia lentur dan tidak terikat pada bulan puasa. Ngabuburit hanyalah cara mengisi waktu menjelang petang. Namun ketika ajaran Islam berkelindan dengan budaya masyarakat setempat, sore di bulan Ramadan memperoleh lapisan makna baru. Menunggu tidak lagi sekadar jeda di antara siang dan malam, melainkan proses menahan diri yang sarat nilai spiritual. Dari situ, maknanya menyempit sekaligus menguat, menjelma identitas kolektif yang lekat dengan ritus berbuka.

Jejak sejarahnya barangkali tak mudah ditemukan dalam dokumen resmi atau prasasti lama. Ngabuburit tidak lahir dari keputusan formal, melainkan dari kebiasaan yang berulang dan diwariskan. Islam yang hadir di Nusantara tidak datang untuk meniadakan tradisi, tetapi berbaur dan memberi arah baru. Puasa menghadirkan disiplin waktu yang tegas; sore menjadi momen paling genting ketika daya tahan diuji. Dalam situasi itulah masyarakat merumuskan cara yang khas untuk menyikapi penantian. Alih-alih terjebak dalam keluhan, mereka memilih menghidupi waktu dengan kegiatan yang menyegarkan batin.

Pada masa yang lebih sederhana, praktiknya bersandar pada kedekatan manusia dengan lingkungan sekitar. Orang-orang tua bercengkerama di beranda rumah, para pemuda berjalan menyusuri pematang sawah, anak-anak berkumpul di halaman surau sambil mendengarkan nasihat ringan dari kiai. Hampir tak ada catatan tertulis tentang itu, tetapi ingatan kolektif menyimpannya dengan kuat. Kesahajaan tersebut justru menegaskan esensi kebersamaan yang menjadi ruhnya.

Memasuki periode urbanisasi yang semakin pesat pada paruh kedua abad ke-20, lanskapnya berubah. Ruang publik di kota mengambil alih peran halaman rumah dan pelataran surau. Taman, alun-alun, hingga pusat perbelanjaan menjadi arena baru tempat orang-orang menunggu azan. Media massa turut menyebarkan istilah ini ke berbagai daerah, hingga akhirnya ia diterima luas sebagai bagian dari kosakata nasional. Dari istilah lokal, ia menjelma kebiasaan bersama yang dipahami di berbagai penjuru Indonesia.

Perkembangan tersebut membawa dinamika yang menarik untuk dicermati. Ngabuburit kini tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang nyata. Pasar takjil yang bermunculan saban sore memberi peluang bagi pelaku usaha kecil. Di sana, batas-batas status sosial terasa memudar. Orang-orang yang mungkin tak pernah bertegur sapa dalam rutinitas harian mendadak berdiri dalam antrean yang sama, menunggu waktu yang sama, merasakan kegelisahan yang sama terhadap detik yang berjalan lambat.

Kekuatan tradisi ini terletak pada kemampuannya menjawab kebutuhan batin manusia. Puasa adalah latihan menata hasrat, dan sore hari menjadi ujian terakhir sebelum kelegaan datang. Dengan berkegiatan bersama, kegelisahan fisik dialihkan menjadi interaksi yang bermakna. Ngabuburit menjadi cara masyarakat memelihara kesabaran secara bersama-sama, sebuah solidaritas yang sering kali tak diucapkan, akan tetapi terasa nyata di bawah langit yang perlahan menggelap.

Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu berada dalam posisi saling menegasikan. Agama menghadirkan orientasi nilai dan tujuan, sementara budaya lokal memberi bentuk dan rasa agar ajaran itu menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Bahasa Sunda menghadirkan istilahnya, praktik puasa menyediakan konteksnya, dan masyarakat luas merawatnya sebagai identitas. Dari situ terlihat bahwa keberagaman latar dapat bertemu dalam satu tradisi yang terasa akrab dan meneduhkan.

Pada simpul akhirnya, ngabuburit dapat dipahami sebagai cerminan pengalaman manusia yang lebih luas. Hampir sepanjang hidup, kita berada dalam proses menanti: menunggu kesempatan, kabar baik, atau kepastian yang belum datang. Dan sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, bahwa tidak semua penantian terasa ringan, meski tradisi ini mengajarkan bahwa waktu tunggu tidak harus kosong. Ia bisa diisi dengan percakapan, refleksi, atau langkah kecil yang membuatnya berarti.

Ketika azan maghrib akhirnya terdengar, rasa lega yang muncul bukan semata karena dahaga terhapus oleh seteguk air. Ada kepuasan batin karena penantian itu dilalui bersama. Ngabuburit tidak menjadi usang sebab ia menyediakan ruang bagi kita untuk tetap merasa terhubung sebagai manusia di ambang senja. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, ia mengingatkan bahwa bahkan dalam menunggu, ada kehidupan yang utuh dan layak disyukuri. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *