Tahun baru datang seperti lonceng yang dibunyikan pelan—tidak selalu menggembirakan, sering kali justru menggetarkan, setidaknya bagi saya. Ia bukan semata pergantian angka pada kalender, melainkan cermin panjang yang memantulkan wajah bangsa: retak-retak kecil yang kerap kita abaikan, luka besar yang berulang kali kita sebut biasa agar tak terlalu menyakitkan. Di titik itulah saya sempat berhenti membaca berita sejenak, menutup gawai, dan menyadari napas sendiri terasa lebih pendek dari biasanya.
Di ambang tahun ini, kembang api kembali menyala di langit. Padahal imbauan larangan sudah lama beredar. Tetap saja ada yang menyulutnya, seperti pembalakan liar yang terus berjalan meski berkali-kali dikecam. Sementara di bumi, suara letih rakyat belum sepenuhnya reda. Ia tertutup dentum pesta, tenggelam oleh sorak perayaan, seolah kelelahan juga harus menunggu waktu yang tepat untuk didengar.
Kasus-kasus korupsi kembali menyeruak seperti gulma di ladang harapan. Ia tumbuh di sela pidato moral, di balik kebijakan yang katanya demi kesejahteraan. Angka kerugian negara diperdebatkan di ruang-ruang resmi, tetapi rasa keadilan yang bocor jarang benar-benar ditambal. Korupsi bukan lagi sekadar kejahatan hukum; ia telah menjelma kebiasaan yang perlahan melumpuhkan nurani, dan yang lebih menyedihkan, kita kerap menerimanya dengan bahu turun.
Kebijakan pemerintah hadir silih berganti. Sebagian lahir dari niat baik, sebagian lagi tersandera kalkulasi kekuasaan. Rakyat sering kali hanya menjadi catatan kaki dalam laporan keberhasilan. Di meja perundingan, kepentingan dipoles menjadi visi. Di lapangan, ketimpangan tetap berdiri, tak terusik oleh istilah-istilah indah. Tahun baru semestinya memberi jeda untuk bertanya, meski pertanyaan itu tidak selalu nyaman: sejauh mana kebijakan benar-benar mendengar denyut kehidupan paling bawah?
Di sudut lain negeri, kasus bandara yang bermasalah mengajarkan satu hal yang terasa pahit: pembangunan tanpa kejujuran hanyalah monumen kesia-siaan. Beton bisa berdiri megah, tetapi makna runtuh bila ia dibangun di atas perencanaan rapuh dan kepentingan sempit. Infrastruktur seharusnya menjadi jembatan masa depan, bukan tugu peringatan bagi kegagalan tata kelola yang enggan diakui.
Sementara itu, alam kembali bersuara—kali ini dengan amarah yang tak bisa disangkal. Banjir bandang melanda Sumatra dan sekitarnya, menyeret rumah, harapan, dan kenangan. Air datang membawa pesan yang sebenarnya sudah lama kita dengar: hutan ditebang, sungai dipersempit, keseimbangan diabaikan. Setiap genangan adalah kalimat teguran. Setiap korban adalah bait duka yang semestinya menghentikan kita dari kebiasaan berpura-pura.
Gunung Padang pun tak luput dari hiruk-pikuk tafsir dan kepentingan. Ia menjadi arena tarik-menarik antara ilmu, ambisi, dan sensasi. Sejarah diperebutkan di bawah sorotan kamera, sementara kehati-hatian justru kerap ditinggalkan. Tahun baru seharusnya mengajarkan kerendahan hati: bahwa pengetahuan tumbuh dari kesabaran, bukan dari klaim tergesa; dari kerja sunyi, bukan dari kegaduhan yang cepat lupa.
Renungan kebangsaan di awal tahun bukanlah daftar keluhan semata. Ia adalah ajakan untuk jujur menatap diri. Bangsa ini tidak kekurangan kecerdasan, tetapi sering kekurangan keteladanan. Tidak miskin sumber daya, tetapi kerap miskin kesungguhan. Barangkali yang paling kurang adalah keberanian untuk berhenti sejenak dan mengakui kesalahan, tanpa segera mencari pembenaran.
Jika lipatan hari yang jadi tahun adalah sebuah diary yang utuh, maka halaman pertamanya menunggu ditulis dengan tinta keberanian. Keberanian untuk membersihkan yang kotor, memperbaiki yang bengkok, dan mendengarkan mereka yang selama ini dibungkam. Semoga tahun baru tidak hanya kita rayakan, tetapi kita maknai—sebagai sumpah sunyi untuk menjadi bangsa yang belajar dari luka dan berjalan lebih jujur menuju harapan, meski kita tahu langkah itu tidak pernah mudah. []









