TENTANG FESTIVAL TEATER JAKARTA 1986 | MELAWAN MEKANISME FESTIVAL MELALUI EKSPRESI TOTAL

jos

PEMBUKA

 Babak Final Festival Teater )Remaja) Jakarta ke XIII akan berlangsung mulai tanggal 19 s/d 28 Februari 1986. Diikuti oleh 20 grup peserta. Dari wilayah Jakarta Pusat diwakili oleh Kelompok Anak Panggung, Teater Kartun, Teater Belia ARH, Sanggar Kita Yunior dan Teater Remaja Adinda. Dari wilayah Jakarta Utara diwakili oleh Bandar Teater Jakarta, Teater Sunda Kelapa dan Teater Resura. Dari wilayah Jakarta Selatan diwakili oleh Teater SS, Teater Tetas, Teater Aquila dan Teater Buncit. Dari Wilayah Jakarta Barat diwaili oleh Teater Kuman, Teater 24 dan Rombongan Tonil Dewa Ruci. Dari wilayah Jakarta Timur diwakili oleh Teater Pelangi, Teater CB dan Teater Kubur. Ditambah dengan 2 grup pemenang tahun lalu, yaitu; Teater Gelut dari Jakarta Utara dan Teater Enhakam dari Jakarta Selatan, bertempat di Teater Tertutup, pada pukul 17.00 WIB dan di Teater Arena, pada pukul 20.00 WIB, Taman Ismail Marzuki.

NASKAH DAN PERATURAN

 Ada 2 hal yang menggembirakan dalam Festival Teater kali ini. Pertama, dibukanya kembali Lomba Penulisan Naskah Lakon Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta (setelah dibekukan selama kurang lebih tujuh tahun). Semoga saja maksud baik dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini mendapat tanggapan yang baik pula dari pengarang-pengarang Indonesia (terutama yang muda-muda), yang kreatif dan berorientasi pada kebudayaan dan kesenian tradisi atau kesenian rakyat yang tersebar di seantero nusantara ini. Dengan begitu diharapkan lahirnya gairah baru bagi perkembangan Teater Modern Indonesia di masa mendatang. Dan yang kedua, diwajibkannya setiap grup peserta festival untuk mementaskan naskah-naskah lakon yang ditulis oleh pengarang-pengarang Indonesia, baik untuk babak penyisihan maupun untuk babak final. (Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, antara lain, ketika festival ini dilaksanakan, tahun 1973). Langkah yang diambil oleh DKJ, yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Pusat Kesenian Jakarta- Taman Ismail Marzuki dan Gelanggang-gelanggang Remaja Jakarta ini, bukan suatu kemunduran, melainkan, adalah langkah ke arah peningkatan. Karena setelah melalui evaluasi selama tujuh tahun (antara tahun 1978 sampai dengan tahun 1984) di mana setiap grup dibebaskan untuk memilih atau menentukan naskah sendiri, banyak grup-grup yang kedodoran dan salah kaprah ketika mereka mengangkat naskah lakon asing untuk dipentaskan. Ini disebabkan, antara lain, karena mereka tidak mengenal kultur kebudayaannya. Baik adat istiadat, lingkungan hidup, maupun kebiasaan-kebiasaannya. Di samping itu, tokoh-tokoh dari lakon yang mereka mainkan itu ternyata jauh lebih cerdas dan jauh lebih matang pengalaman hidupnya dibandingkan pemain-pemain itu sendiri. Kesenjangan ini begitu menyolok. Sehingga timbul kesan, bahwa grup-grup semacam ini hanya kepingin gagah-gagahan! Padahal di bumi ini begitu beragamnya kesenian-kesenian inspiratif yang bisa dijadikan sumber ide. Dan jauh lebih kongkrit kehadirannya! Namun, mengapa luput dari pengamatan? Mengapa luput dari penghayatan? Apakah sudah dianggap sebagai barang kuno yang perlu dilestarikan sebagai benda museum? Atau karena takut dianggap tidak modern? Pertanyaan serupa membentur-bentur batin saya. Dan jawabnya selalu mengambang di awing-awang pikiran.

GRUP TAHUNAN

 Ketika gong Festival Teater (Remaja) Jakarta yang pertama (1973) menggema ketika itulah grup-grup teater bermunculan, bagai tumbuhnya jamur di musim hujan. Saya terkesima! Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa 111 grup akan ambil bagian dalam peristiwa itu. Karena sebelumnya saya hanya mengenal beberapa nama saja yang memang betul-betul berlatih teater. Mereka-mereka itu antara lain; kakak beradik, Noorca Marendra dan Yudhistira M. Massardi Massardi dari Jakarta Selatan, Sudibyanto dan Singgih Suroso dari Jakarta Timur, Aldisar Syafar dan Torro Margen dari Jakarta Pusat, Nasri Chepy dari Jakarta Barat, Ibnu Saleh Barnaba dari (almarhum) dari Jakarta Utara. Tokoh-tokoh muda inilah yang sudah berteater sebelum gong festival dicanangkan. Lalu bagaimana dengan grup-grup teater yang kemudian bermunculan? Apakah tuntutan mereka berteater juga disebabkan karena menghayati; kehidupan dan mengembangkan bakat? Apakah tujuan mereka berteater juga , karena ingin mengekspresikan nilai-nilai yang gejalanya mereka tangkap dari lingkungan, masyarakat dan kehidupan? Ataukah hanya karena ingin kongkow-kongkow? Dan menganggap grup teater sebagai tempat untuk pacaran sebagai pengisi waktu luang? Tetapi yang pasti, tujuan mereka yang gambliang adalah ingin menang dan mendapat kesempatan untuk berpentas di Taman Ismail Marzuki. 

 Tigabelas tahun sudah usia Festival Teater (Remaja) Jakarta ini, tetapi sikap mereka dalam berteater masih saja berselimut kabut remaja, yang kenes, genit manja, ingin selalu diperhatikan dan senang dibombong! Itulah sebabnya, mengapa grup-grup teater serupa ini selalu timbul tenggelam dalam percaturan festival. Sepanjang tahun selalu muncul grup-grup baru, sementara grup-grup terdahulu menghilang dari peredaran. Karena tujuan mereka turut berfestival hanya kepingin menang (tanpa dilandasi oleh kepekaan artistik dan kerja kreatif). Maka apa yang mereka peroleh adalah kekecewaan ketika kalah. Kemudian setelah kalah mereka tidur untuk bangun lagi pada festival berikutnya. Atau tidur untuk selama-lamanya! Namun begitu ada juga grup-grup yang menganggap, bahwa Festival Teater hanyalah salah satu media ekspresi bagi kesenian yang mereka geluti, guna menangkap misteri kehidupan, kemudian mengolahnya di dapur grup sehingga lahir kepekaan terhadap alam dan lingkungan. Meskipun kalah mereka terus berlatih. Mereka akan terus berlatih. Mereka akan terus berproses. Mereka akan terus mengasah kesadaran. Mereka akan terus memupuk kesadaran. Dan mendudukkan kekalahan sebagai suhu. Jadi, seandainya grup teater serupa ini nantinya menang, itu adalah karena suatu proses yang panjang. Yang melibatkan segenap darah dan daging, dalam menciptakan kemandirian! Grup-grup yang saya sebut belakangan ini, memang tidak pernah banyak jumlahnya. Tetapi grup-grup serupa ini akan tetap bertahan jaya, meskipun badai kehidupan menghantamnya dari segenap penjuru. Dan grup-grup serupa inilah yang akan menentukan perkembangan Teater Modern Indonesia di masa mendatang!

KEGIATAN RUTIN

 Suatu peristiwa kesenian yang berlangsung setiap tahun, jika tidak diimbangi dengan kesadaran kreatif akan berubah menjadi suatu kegiatan rutin biasa. Kesadaran kreatif, jika tidak terus dirangsang dengan tantangan-tantangan kehidupan akan menjadi mandeg dan mandul. Tantangan-tantangan kehidupan, jika tidak digodok di dapur kelompok kesenian akan melahirkan kegairahan semu dan sumpeg! 

Sekarang bagaimana dengan grup-grup teater (remaja) Jakarta yang kadung terjerat oleh lembaga festival? Dapatkah mereka, membebaskan diri dari belenggu kegiatan rutin itu? Dan beranikah mereka menggali nilai-nilai (baik yang tersurat maupun yang tersirat) dari kehidupan sebagai sumber inspirasi bagi pementasan-pementasannya? Jika grup tersebut terjerat oleh lembaga festival, asyik dengan kegiatan rutin tahunan, dan terlena oleh harapan-harapan fatamorgana? Maka kelangsungan grup tersebut akan kehilangan makna dalam kehidupannya. Dan jika suatu grup sudah kehilangan makna, bisa dibayangkan, karya-karya plagiat macam apa yang mampu dia lahirkan demi keberlangsungan hidupnya! Tetapi, jika grup-grup tersebut dianggap mampu membebaskan diri dari jerat lembaga festival, mampu meluluhkan lingkaran setan kegiatan rutin, dan berani menggali nilai-nilai yang tersurat dan tersirat dari kehidupan dan lingkungannya.

 Mengapa hanya grup-grup teater (remaja) yang mementaskan naskah-naskah lakon yang baru saja dipentaskan oleh para seniornya? Bahkan ada grup teater yang mementaskan naskah yang sama selama dua tahun berturut-turut untuk babak penyisihan, kemudian untuk ketiga kalinya naskah lakon itu dipentaskan lagi pada babak final. Padahal sang sutradara pada tahun 1974 dan tahun 1976 pernah juga memainkan naskah tersebut. Kenyataan serupa ini benar-benar memalukan! Sayang, Dewan Kesenian Jakarta sebagai Pembina yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Pusat Kesenian Jakarta, dan Gelanggang-gelanggang Remaja Jakarta (demikian juga para Juri festival) tidak segera tanggap terhadap keadaan buruk serupa ini, sehingga grup teater impoten serupa ini terus saja berkokok setiap kali gong festival ditalu!

TEATER SUTRADARA

 Adalah kenyataan bahwa kehadiran seorang sutradara sangat dominan dalam suatu grup. Di abad 20 ini tidak ada teater tanpa sutradara. Terkecuali pementasan Monolog atau monodrama. Ini disebabkan karena sang sutradara adalah sumber pengarahan bagi terciptanya sebuah pementasan! Dan di dalam percaturan Teater Modern Indonesia kehadiran seorang sutradara sangat dominan. Begitu dominannya sehingga kehadiran Teater Modern Indonesia sangat terkenal dengan sebutan Teater Sutradara. Rupanya keadaan istilah tersebut telah mempengaruhi grup-grup teater (remaja) yang lahir kemudian. Tetapi fungsinya bergeser setelah sampai di tangan sutradara-sutradara muda (Teater Remaja) tersebut. Kehadiran sutradara menjadi multi fungsi. Karena kerjanya (Sutradara Teater Remaja) menjadi begitu gado-gado, sehingga tidak ada peluang bagi pemain untuk urun-rembug. Semua pekerjaan dia kerjakan sendiri dan semua kehendaknya harus dituruti. Begitu juga perintahnya, harus dipatuhi. Sehingaga kehadiran pemain dan pekerja tak ubahnya sebagai robot yang dapat disetel.

 Gagasan-gagasannya begitu mutlak tanpa kompromi! Padahal gagasan-gagasannya itu sangat lemah dan rendah nilai artistiknya. Sehingga menimbulkan peluang bagi pemain dan pekerja untuk mengajukan kritik. Tetapij apabila pemain atau pekerja tersebut mengajukan kritik, maka dengan wibawa raksasa sang sutradara akan langsung memecatnya!

Working Real Japanese Man
Baca Tulisan Lain

Working Real Japanese Man


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *