Refleksi Taun 2025, Resolusi taun 2026

iustrasi air1

Kisah kehidupan setiap orang tentu berbeda-beda selain ada persamaan. Beda situasinya, beda kondisi kejadiannya, beda cara menanggapinya, beda dampak yang terjadi dari setiap masalah yang terjadi, tapi semua tidak lepas seputar nuansa kesenangan, kegembiraan, kesedihan, keputusasaan, perjuangan, dan tentang cinta dalam beragam rupa.

2025 kalau berbicara tentang kondisi kebangsaan, saya kira terjadi suatu perputaran pola ikatan batin politik di masyarakat yang cukup signifikan. Hal ini terjadi karena masyarakat sudah cukup tanggap dan melek informasi dari dampak teknologi informasi sebagai bagian dari media “senjata culture of war” di era 4.0 dan 5.0 ini. Memang masih beredar berita hoax yang masih berdampak pada keresahan sosial dan kegaduhan politik di masyarakat, namun bertahap masyarakat pun sudah mulai mahir sebagai “nitizen journalist” yang sigap mengoreksi setiap berita hoax, tidak perlu menunggu dulu lembaga penyiaran atau lembaga pemberitaan resmi, alih-alih mereka para lembaga itu mestinya cepat tanggap tapi sering lambat tetapi cukup penting sebagai lembaga legitimasi berita. Masyarakat tidak begitu mudah lagi “dibodohi” oleh berbagai berita hoax atau berita yang “diframing” demi kepentingan politik penguasa atau sekelompok elite.

2025 harus disadari bahwa terjadi transisi demokrasi rakyat dalam dunia media menjadi “panggung front stage” untuk mengupas dan menguliti bahkan sebagai media kontrol demokrasi yang lebih tajam dibandingkan lembaga dewan perwakilan rakyat yang notabene mestinya lebih pro aktif, tajam dan membumi. Namun kenyataanya justru mereka pun “dikuliti” oleh “dewan perwakilan media rakyat” yang dikenal sebagai “nitizen journalist” sehingga publik bisa melihat hitam dan putihnya lembaga ini dengan jelas. Begitu juga terhadap kinerja pemerintahan dari pusat hingga daerah, dengan beragam polemik intrik politik nepotisme, post power sindrome, money politic, pencucian uang, drama pengadilan dan sebagainya. Namun di balik itu masyarakat masih berharap adanya kesadaran dan perubahan yang signifikan dari dalam (internal individual) para elite negri ini karena memang modal kapital berputar dan terkendali oleh mereka. Rakyat hanya bisa berharap apapun dinamika terjadi tetap dalam kondisi kondusif dan damai.

2026, babak drama yang masih berdentangan dan bergemuruh di beragam media di tahun 2025 masih akan berlanjut. Berakhir di 2026 atau tidak itu tergantung pada “pawang politik kekuasaan” memainkan instrumen drama politik di panggung “front stage media”. Karena rakyat tidak selalu tahu apa cerita dan bagaimana sikap mereka di balik layar atau “back stage”. Karena kembali rakyat sudah mulai cerdas informasi dengan perkembangan “nitizen journalist” mulai dari emak-emak, petani, orang masyarakat adat, kaum pengamen jalanan, nelayan, pengangguran sekalipun dan sebagainya. Bisa jadi ke depan “politik people power” tidak selalu harus dengan cara “demo turun ke jalan” tapi cukup dengan “demo besar-besaran dalam media sosial”. Why not ?

2026, tahun yang sedunia menyepakati sebagai “Titi mangsa” budaya mendunia yang berdampak pada kinerja dan kehidupan sosial masyarakat dunia. Selain tentunya ada tradisi kelender budaya tiap bangsa, seperti kalender Imlek, Hijriyah, Masehi versi kelompok lain, Kala Sunda, Kala Jawa, Kala Batak, Kala Bali, Kala Hindu dan sebagainya. Namun yang jelas 2026 berkaitan dengan tahun tutup buku semua lembaga dalam menata dan mengelola pembukuan keuangan dan administrasi lembaga negara dan swasta. Dengan demikian di 2026 perlu menata dan mengelola semua pembukuan dan administrasi kelembagaan lebih baik agar semua orang yang terikat dengan pengelolaan yang terukur dengan waktu tahun masehi ini bisa lebih baik lagi kehidupannya.

Resolusi di tahun 2026, dengan banyaknya kejadian bencana alam di berbagi belahan bumi Nusantara dan dunia, mengingatkan kepada kita semua bahwa :

(1) Alam dan semesta punya sistem tersendiri yang konstan, jika manusia mengubah semena-mena maka alam dan semesta pun akan bereaksi kembali menjaga kekonstanannya itulah bencana alam. Bagaimana menyikapi ini, tiada lain manusia harus hidup selaras dan harmoni dengan alam, karena manusia hanya bagian kecil sekali dari semesta ini, namun terkadang ego manusialah yang menyebabkan alam ini rusak.

(2) Wariskan Mata Air untuk generasi masa datang bukan Air Mata kesedihan. Mata air sumber kehidupan dan indikasi kesuburan alam, indikasi kelestarian alam. Mata air yang mengalir jernih dari hulu ke hilir harus diusahakan oleh semua umat manusia. Memanfaatkan air dari Mata Air, bukan dengan cara memonopoli sumber mata airnya oleh sekelompok pemegang investasi dan bukan dengan cara mengkondifikasi sumber mata air gratis menjadi komersil bagi umat manusia. Setidaknya, menjaga sumber air berarti menyelamatkan bumi dan kepunahan makhluk bumi.

(3) Gunakan perkembangan dunia IT (Informasi dan Teknologi) bagi kepentingan kebaikan dan pembangunan kesejahteraan sesama makhluk bumi dan menjaga lingkungan alam.

(4) Jangan lupakan budaya dan tradisi leluhur lokal yang kontributif untuk menjaga dan merawat bumi dan yang mendiaminya dari kehancuran. Ciptakan kedamaian di muka bumi dengan aktivitas budaya yang berakar dari budaya bangsa sendiri namun inovatif, kreatif dan edukatif untuk meningkatkan derajat kemanusiaan semua umat manusia agar tercipta tatanan harmoni dengan konstanta sistem hukum alam itu sendiri.

(Bandung. 2 Januari 2026)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *