SEKELUMIT SEJARAH MUSIK BAMBU DUNIA.

suling

Musik bambu memiliki sejarah panjang dan kaya di berbagai belahan dunia, terutama di Asia Tenggara dan Timur, di mana bambu melimpah dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal. Penggunaan alat musik bambu berakar kuat dalam kehidupan sehari-hari, upacara adat, dan pertunjukan seni di banyak masyarakat tradisional.

Sejarah Penting Musik Bambu di Dunia

Di Tiongkok Kuno, penggunaan instrumen bambu di Tiongkok sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Dinasti Tang (618-907 M) menandai kemajuan signifikan dalam pembuatan instrumen bambu, mengukuhkan posisinya dalam budaya Tiongkok dan memengaruhi tradisi musik di seluruh dunia.
Seruling bambu seperti “Dizi” adalah contoh realita klasik dari warisan ini.

Asia Tenggara (Indonesia, Filipina, Vietnam), Bambu sangat penting di kawasan ini.
Di Indonesia, berbagai alat musik bambu seperti angklung, suling, calung, dan rindik berkembang di berbagai daerah, masing-masing dengan memiliki cara ciri keunikan dan fungsi budayanya.

Masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara juga memiliki tradisi musik bambu yang sudah ada jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Kepulauan Pasifik (Bougainville dan Solomon), Masyarakat di wilayah ini juga memiliki alat musik bambu khas yang digunakan dalam ritual dan kegiatan sosial dengan makna budaya yang berbeda-beda.

Alat Musik Bambu Bersejarah Terkenal

Beberapa alat musik bambu yang paling bersejarah dan diakui secara global yaitu meliputi:

Angklung, Alat musik tradisional dari Jawa Barat, Indonesia, yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan. Angklung telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan sejak tahun 2010, menegaskan pentingnya secara global.

Suling Bambu, juga ditemukan dalam berbagai ragam bentuk di seluruh dunia, salah satunya adalah Suling Bambu instrumen tiup tertua dan paling luas penyebarannya, dari Asia Tenggara hingga Amerika Selatan.

Rindik, yaitu Alat musik xilofon bambu dari Bali yang terdiri dari sepuluh tabung bambu yang digantung dan dimainkan dengan cara dipukul, digunakan dalam pertunjukan seni tradisional.

Dari Tiongkok ada “Sheng atau Lu Sheng”, sebuah Instrumen mulut bambu kuno dari Tiongkok, yang sering terdengar di desa-desa etnis minoritas, ini menunjukkan keragaman penggunaan bambu dalam musik.

Musik bambu tidak hanya menjadi alat ekspresi dan hiburan, tetapi juga berperan penting dalam upacara keagamaan, kegiatan sosial, dan menjaga serta menyampaikan nilai-nilai adat dari generasi ke generasi di seluruh dunia.

Menurut dia, berkurangnya minat terhadap seni yang kemudian semakin sekarat ini karena blokade militer PNG dan Australia di wilayah Bouganville, disambut dengan keras oleh orang-orang Kieta dan Nagovis sejak 1989 dengan teriakan dan syair dalam bermain musik bambu dan tari sulaiman.

Jayapura, Jubi- Musik bambu gaya seniman Kepulauan Solomon dan Bougainville baru saja tampil dalam Festival Seni dan Budaya Melanesia di Port Villa, 19-30 Juli 2023. Bambu bambu disusun rapi sesuai dengan nada. Lalu ada seorang menabuhnya dengan memakai alat tabuh menyerupai sandal jepit.

Sambil menyanyikan lagu lagu khas saat Bougainville dan Kepulauan Solomon tampil dalam Festival Seni dan Budaya Melanesia .

Berbeda dengan Kepulauan Solomon, bagi masyarakat wilayah Daerah Otonom Bougaiville musik bambu lahir karena penindasan dan tekanan militer dalam operasi pemberantasan pemberontakan Bougainville Red Army (BRA) pimpinan Sam Kaouna.

Leonard Fong Roka dalam artikelnya berjudul, “Bamboo Band—war time music and dance in Kieta, Bougainville” menyebutkan sebagian besar wilayah Kieta di Bougainville tengah, tahun-tahun sebelum krisis tidak banyak terlihat alat musik khas Solomon yang terbuat dari bambu yang dikenal oleh orang Kieta dan Nagovis sebagai “Kabaki” dan gerakan tariannya yang semarak umumnya disebut sebagai “Tari Sulaiman”.

Menurut dia, berkurangnya minat terhadap seni yang kemudian semakin sekarat ini karena blokade militer PNG dan Australia di wilayah Bouganville, disambut dengan keras oleh orang-orang Kieta dan Nagovis sejak 1989 dengan teriakan dan syair dalam bermain musik bambu dan tari sulaiman.

Lebih lanjut Roka menulis masa-masa genting tahun 1989 di Bougainville mengubah orang Bougainville menjadi genre musik lokal yang perlahan terhapus oleh kejayaan tambang Panguna.

Instrumen bambu sering memainkan peran penting dalam ritual budaya, festival, dan praktik spiritual, yang semakin menonjolkan pentingnya budaya dan simbolisme mendalam yang terkait dengan bambu.

Musik yang dihasilkan bukan sekadar alunan bunyi, melainkan juga menciptakan saluran ekspresi budaya, koneksi spiritual, dan pengingat kuat akan hubungan abadi yang sangat mengikat antara manusia dan alam semesta.

Lebih lanjut, sifat berkelanjutan bambu sebagai material ini, memberikan alternatif ramah lingkungan bagi instrumen tradisional berbasis kayu.

Penggunaan bambu adalah merupakan sebuah bentuk komitmen untuk menciptakan musik secara bertanggung jawab, dan menyelaraskan mengharmonikan ekspresi artistik dengan kesadaran ekologis.

Bandung, 25.November.2025
Salam Seni Budaya Kearifan lokal Jati diri bangsa…
Dody Satya Ekagustdiman


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *