Di era post-truth, fakta sering kali menjadi tawanan opini yang lihai berubah rupa. Kebohongan direproduksi secara masif perlahan menjelma menjadi “kebenaran baru”. Di tengah jutaan orang berebut “amplifier” di ruang digital, untuk menyuarakan narasi yang sama: kritik tajam yang sayangnya sering kali tuna-solusi.
Kebijakan publik memang wajib dikritisi. Meminjam gagasan Jürgen Habermas, public sphere (ruang publik) idealnya menjadi laboratorium pertukaran argumen rasional demi mencapai konsensus.
Namun, realitas hari ini menunjukkan ruang publik kita lebih sering menjadi arena caci maki daripada ruang dialektika.
Demokrasi memang memberikan kita “mesiu kebebasan”, namun harus tetap diarahkan untuk meruntuhkan kebuntuan, bukan sekadar meledakkan kebisingan yang menguras emosi tanpa menawarkan jalan keluar.
Kita menghadapi paradoks sosiologis yang getir. Sebagai bangsa yang mengklaim diri beradab, kita kerap sangat mahir menunjuk lubang di jalanan yang rusak, namun enggan mengotori tangan untuk membawa semen guna menambalnya.
Terjebak dalam lingkaran setan “protes tanpa progres”.
Perangkap Modal Simbolis
Secara terminologis, kritik di ruang publik telah bergeser dari alat koreksi menjadi alat validasi diri.
Pierre Bourdieu menyebut fenomena ini sebagai upaya meraih “modal simbolis”. Banyak orang melontarkan kritik bukan karena ingin memperbaiki keadaan, melainkan demi citra otoritas moral atau intelektual di mata pengikutnya.
Di era algoritma, kritik telah menjadi komoditas. Semakin pedas serangan, semakin besar engagement yang diraih. Fenomena ini berkelindan dengan teori “Simulasi” Jean Baudrillard: citra kepedulian sosial dianggap lebih nyata daripada tindakan nyata itu sendiri.
Inilah yang kita kenal sebagai aktivisme performatif. Seseorang merasa telah berbakti pada negara hanya dengan mengunggah status sinis, tanpa pernah menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya.
Erosi Gotong Royong
Mentalitas ini seolah mencerminkan sisa-sisa “mentalitas inlander” yang belum tuntas tersembuhkan.
Jika dahulu kritik adalah senjata melawan penindasan, kini menjadi katarsis dari rasa rendah diri (inferiority complex). Kita sedang mengalami erosi “budaya gotong royong pikiran”.
Bayangkan jika ada atap tetangga yang bocor. Di masa lalu, warga akan membawa tangga dan memperbaikinya bersama. Kini, budaya itu bergeser secara digital: orang lebih memilih memotret kebocoran tersebut, membubuhkan caption satir, dan menunggu dunia menertawakan si pemilik rumah.
Kritik tanpa solusi adalah bentuk kemalasan berpikir yang dibungkus retorika destruktif. Menghancurkan bangunan jauh lebih mudah daripada menyusun bata demi bata untuk mendirikannya.
Kegagalan Literasi Konstruktif
Akar masalah ini bermuara pada kualitas literasi dan sistem pendidikan. Selama puluhan tahun, pendidikan kita lebih menekankan kepatuhan dan hafalan ketimbang analisis kritis. Paulo Freire menyebutnya sebagai “Pendidikan Gaya Bank”, di mana siswa hanya menjadi wadah kosong informasi tanpa dilatih memecahkan realitas problematis.
Akibatnya, kita melahirkan individu yang hanya mampu melihat gejala (symptoms), bukan penyakit (disease), apalagi obatnya (cure). Jika merujuk pada Taksonomi Bloom, tingkat berpikir tertinggi adalah Creating (Mencipta).
Sayangnya, diskursus publik kita masih mandek di level evaluasi (mengkritik), namun gagal mencapai puncak kreativitas dalam merumuskan alternatif.
Menuju Kritik Kontributif
Membangun bangsa tidak bisa dilakukan hanya dengan kelincahan jempol di layar ponsel. Kita membutuhkan perubahan paradigma dari bangsa pengkritik menjadi bangsa pemikir. Tom Nichols dalam The Death of Expertise mengingatkan bahwa akses internet tidak otomatis membuat seseorang menjadi pakar. Kritik yang berbobot memerlukan tanggung jawab pembuktian dan penguasaan data.
Kritik tetaplah instrumen vital sebagai rem bagi kebijakan yang menyimpang.
Namun, solusi adalah mesin yang membawa roda bangsa ini bergerak maju. Setiap kali kita menunjuk satu kesalahan, setidaknya kita harus menyiapkan satu kemungkinan jalan keluar.
Bangsa ini tidak lagi kekurangan orator yang pandai mencari celah; kita sedang krisis inovator yang sanggup menutup celah tersebut. Sudah saatnya kita naik kelas. Tanpa solusi, kritik hanyalah kebisingan. Dan dalam kebisingan yang pekak, suara jernih kemajuan mustahil akan terdengar.









