Kita sedang menghadapi perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan. Teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah peran sekolah dan guru sebagai penyampai utama ilmu pengetahuan. Saat ini, sebuah aplikasi di telepon genggam anak kelas 5 SD sudah mampu menjelaskan teorema Pythagoras, dasar-dasar kalkulus, sejarah Perang Dunia II, dan menerjemahkan lebih dari 100 bahasa dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Pertanyaan besar muncul: jika fungsi menyampaikan pengetahuan sudah dapat dilakukan oleh mesin dengan lebih cepat dan murah, apa yang seharusnya menjadi tugas utama pendidikan formal?
Tujuan pendidikan Indonesia ke depan bukan lagi “mengisi kepala dengan informasi”, melainkan “menyalakan semangat belajar”. Pendidikan harus beralih dari sekadar mengajar (teaching) menjadi membekali siswa dengan kemampuan belajar mandiri dalam konteks nyata (learning to learn in context). Siswa perlu dilatih untuk membaca situasi, memahami permasalahan secara mendalam, berpikir kritis, dan bertindak secara bertanggung jawab.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran para ahli pendidikan dunia saat ini. Yong Zhao, pakar pendidikan dari University of Kansas dan University of Melbourne, menyatakan bahwa di era kecerdasan buatan super, satu-satunya keunggulan manusia yang tidak dapat digantikan mesin adalah pola pikir wirausaha (entrepreneurial mindset) dan kemampuan menciptakan nilai baru dari situasi yang kompleks dan kacau. Sekolah masa depan harus menjadi tempat anak belajar mengenali masalah nyata, merancang solusi, dan bertanggung jawab atas hasilnya, bukan hanya menghafal jawaban ujian.
Pasi Sugata Mitra, penerima TED Prize 2013, melalui percobaan Self-Organised Learning Environments (SOLE), membuktikan bahwa anak-anak di desa terpencil, tanpa guru formal, dapat mempelajari materi tingkat universitas hanya dengan akses internet dan dorongan berupa pertanyaan besar. Ia mengatakan, “Masa depan pembelajaran adalah ancaman dan dorongan, bukan pengajaran langsung.” Peran guru bukan lagi sebagai pemberi ceramah, melainkan sebagai pemandu di sisi siswa, bahkan sebagai perancang rasa ingin tahu.
Pasi Sahlberg, ahli pendidikan dari Finlandia, memperingatkan bahwa negara yang masih bertahan dengan kurikulum kaku, ujian bertekanan tinggi, dan peringkat sekolah akan tertinggal jauh. Kita sedang mempersiapkan anak-anak untuk pekerjaan yang sudah tidak ada lagi, menggunakan teknologi yang belum diciptakan, untuk menyelesaikan masalah yang belum kita ketahui. Solusinya adalah pembelajaran berbasis fenomena (phenomenon-based learning), di mana siswa mempelajari satu isu besar dunia dengan menggabungkan berbagai bidang ilmu, misalnya perubahan iklim atau dampak kecerdasan buatan.
Di Indonesia, model pembelajaran berbasis peristiwa (event-based learning) sedang diwacanakan. Satu peristiwa dunia nyata dianalisis secara mendalam dari berbagai sudut pandang. Misalnya, konflik Palestina-Israel tidak hanya dipelajari sebagai sejarah atau agama, tetapi juga mencakup geopolitik, ekonomi, sumber daya, hukum internasional, propaganda media, dan etika penggunaan teknologi militer.
Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengetahui fakta, tetapi memahami pola sejarah, melatih empati, dan belajar berpikir secara terhubung. Namun, perubahan ini membutuhkan transformasi besar: Guru berubah dari penceramah menjadi fasilitator dan perancang pengalaman belajar. Kurikulum menjadi fleksibel, berbasis proyek jangka panjang, dan terkait langsung dengan isu dunia saat ini.
Penilaian tidak lagi berupa angka, tetapi portofolio dampak nyata yang berhasil diciptakan atau dicegah siswa di lingkungannya. Masyarakat secara keseluruhan harus menjadi masyarakat pembelajar sepanjang hayat, bukan hanya menganggap pendidikan selesai setelah lulus sekolah atau kuliah.
Jika kita tidak melakukan perubahan ini, bukan hanya guru yang kehilangan pekerjaan, tetapi bangsa ini berisiko kehilangan relevansi di panggung dunia. Pendidikan masa depan bukan lagi tentang siapa yang paling pintar menghafal, tetapi siapa yang paling mampu beradaptasi, berkontribusi, dan tetap manusiawi di tengah perubahan yang sangat cepat.









