IJAZAH PALSU

ip

Hidup ini seperti perangkap siklus hegemonik “Sisyphus” yang digulirkan “Camus’: perjuangan nampak sia-sia, cerita lama belum selesai muncul cerita baru.

Dugaan ijazah palsu pejabat tinggi kembali mengemuka, kali ini menyeret Hakim Konstitusi Arsul Sani ke Bareskrim Polri atas gelar S3 dari Collegium Humanum-Warsaw yang diragukan.

Ia buru-buru konferensi pers, membantah tuduhan itu palsu.

Ini bukan sekadar kronik Arsul, tapi mengapa ya bangsa ini kok seolah berlari dari skandal satu ke skandal yang lain, Tanpa berhenti di titik refleksi

bahwa kesalahan adalah portal pertobatan, di mana jiwa belajar transendensi menuju kebaikan harus ditempuh. Seperti yang direnungkan Socrates dalam “Apologia”:

“Kehidupan bukan direfleksikan untuk tak layak dijalani. Mungkin kita gagal di satu masalah, tapi harus belajar dari kegagalan”.

Dalam manajemen sistem, ini yang disebut “firefighting syndrome”: energi habis untuk memadamkan kebakaran sesaat, bukan membangun tembok pencegah kebakaran.

Peter Senge dalam “systems thinking” melihatnya sebagai gejala struktural: ijazah palsu bukan kesalahan, tapi modus yang dimainkan oknum, manifestasi dari perguruan tinggi yang main-main dengan gelar,

sementara lembaga negara rapuh dalam verifikasi, atau jangan-jangan sengaja ceroboh demi peluang kolusi Diperparah niat jahat dalam lembaga pendidikan bahwa; “lulus demi lulus” tanpa peduli proses.

Kasus yang menimpa Arsul Sani, rektor, DPR, hingga presiden hanyalah puncak gunung es; yang tersembunyi lebih masif.

Ironisnya: birokrasi punya andil besar, menerima ijazah tanpa validasi ketat, minim kolaborasi antar lembaga, hanya didorong mentalitas titel sebagai tiket kekuasaan.

Plato dalam “Republik” memperingatkan: penjaga negara harus berpengetahuan autentik, bukan bayangan palsu di gua gelap; jika tidak, keruntuhan tak terelakkan.

“Abai sanksi berat pada penerbit gelar abal-abal, domestik maupun asing, perpetuasi kegagalan total dalam.mengurus.negara”.

Struktur busuk ini tetap utuh dan selalu bermetamorfosis dengan wajah baru. Kita bangga ribut sesaat dan lapor polisi, tapi lalai jadi arsitek sistem preventif untuk selamanya.

Akar persoalan bukan pada semangat membongkar kasus, tapi membangun sistem yang memaksa setiap lembaga berlaku profesional dan transparan.

ingat, Indonesia tak kekurangan kaum intelektual yang lebih waras. Tapi tanpa perubahan kita terus terjebak dalam skandal gelap, cahaya kebenaran.

Yogyakarta, 18 November 2025


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *