Maraknya program sertifikasi, memicu anomali: dimana deretan inisial gelar misterius seperti CSP, CRMP, CSPRO, diselipkan di belakang gelar akademik, dan mengikis makna ilmu.
Seolah setara dengan gelar pendidikan formal S1 atau S3. yang lahir dari proses perjuangan panjang. Ini bukan soal reputasi sertifikasi kompetensi, karena memang diperlukan.
Tetapi kekhawatiran soal dalil penyamaran atau snapshot kemampuan teknis, dimana dalam tiga sampai lima hari, sebuah reputasi dipaksa berdiri sejajar dengan gelar yang ditempuh bertahun-tahun.
Aristoteles pernah mengingatkan bahwa ilmu (episteme) bukan sekadar “techne” keterampilan yang bisa diuji dalam sekejap, melainkan sebuah “phronesis”, kebijaksanaan praktis yang lahir dari kontemplasi panjang.
Socratic bilang; “I know that I know nothing”. Ketika sertifikat Lembaga Sertifikasi Profesi ditempatkan di belakang nama sebagai “gelar”, terjadi reduksi tragis, mengganti kontrak intelektual dengan kekosongan substansi.
Regulasi sudah tegas: UU Pendidikan Tinggi dan aturan ASN melarang penggunaan gelar di luar yang dikeluarkan perguruan tinggi. Para penggunanya bisa diduga telah melakukan pelanggaran pidana.
Namun negara ambivalen, membiarkan celah pelanggaran, sehingga praktik ini terus hidup karena nafas pasar, dan hasrat akan simbol status yang murah dan mudah.
Yang hilang adalah kesadaran bahwa martabat manusia terletak pada otonomi akal budi, bukan pada akumulasi simbol
Pada akhirnya, mencantumkan CSPRO di belakang nama bukan sekadar pelanggaran administratif tapi juga pengkhianatan filosofis terhadap pendidikan.
Ilmu menuntut perjuangan tanpa akhir dan keberanian mengakui batas. Sertifikasi, sekredibel apapun, hanya menawarkan “kompetensi dalam durasi pendek”.
Maka mari berhenti berpura-pura. Kembalikan sertifikasi ke tempatnya, dan biarkan gelar akademik tetap menjadi saksi perjuangan panjang sebuah capaian.
Karena negeri ini lebih butuh orang yang jujur terhadap ketidaktahuan daripada kolektor gelar yang sibuk menutupi kehampaan.









