Haul ke-64 KH. Muhammad Sudja’i Digelar, Mengenang Keteladanan Ulama Multitalenta Tanpa Sekat Ormas

pamplet haol

Kota Tasikmalaya — Yayasan Asy Syuja bersama Pesantren Kudang akan kembali menggelar Haul ke-64 KH. Muhammad Sudja’i atau yang lebih dikenal dengan Mama Kudang, Ahad (15/6/2025) mendatang. Acara yang rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Dzulhijjah ini, akan berlangsung mulai pukul 07.30 WIB hingga Dzuhur dan terbuka untuk umum dari semua golongan.

KH. Muhammad Sudja’i merupakan salah satu ulama sepuh yang berkiprah di awal abad ke-19. Ia dikenang bukan hanya sebagai penyebar nilai-nilai ajaran Islam, namun juga sebagai tokoh pergerakan sosial keumatan yang menghubungkan ulama, umara, dan para Aghnia (dermawan) dalam memperjuangkan martabat bangsa dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

“Keteladanan beliau tampak dari ketegasan dalam akidah, akhlak, dan ibadah, terutama kepada putra-putri dan keturunannya. Namun, beliau juga sangat bijaksana dalam mengambil keputusan,” ungkap H. Heres, Ketua Yayasan Asy Syuja.

Menurut Heres, salah satu nilai luhur KH. Muhammad Sudja’i adalah keterbukaan dalam pilihan metode ibadah dalam Islam, sehingga pemikiran dan perilakunya diterima oleh berbagai kalangan. Hal itu tercermin dari keberagaman jamaah pengajian bulanan di Kudang, yang datang dari berbagai latar belakang ormas Islam dan pesantren.

Cicit beliau Ihsan Farhanuddin menambahkan, bahwa sang eyang tidak pernah mengejar popularitas atau pun ingin dikultuskan; “Rasa malu beliau di hadapan Allah dan Rasul, jauh lebih tinggi daripada gelar, pangkat, atau jabatan. Hal ini menjadi wasiat beliau kepada kami. Nilai keteladanan ini yang kami pegang sampai saat ini bahkan menjadi wasiat eyang sebelum eyang meninggal.”

“Nilai inilah yang menjadi ciri blue print kami yang wajib kami jaga dan pelihara supaya kami selaku dzurriyah tidak sombong, jumawa atau kalau peribahasa Sunda itu agul ku payung butut, merasa turunan sosok tokoh legenda ulama besar, sehingga sikap Kita malah besar kepala, nauzubillah. Kita sangat menjaga hal itu, supaya kami tidak kualat.”

“Wasiat eyang perlu kita jaga dan lakukan sebab ini blue print peradaban keluarga kami yang menjadi ciri utamanya. Kalau sampai ada yang mengatasnamakan dzurriyah eyang tetapi prilakunya adigung sombong, jumawa, mengejar pengakuan orang lain dan popularitas, maka itu sudah melanggar wasiat eyang. Hati-hati kualat. Para Muhibbin eyang juga wajib untuk saling mengingatkan dan menegur sebagai bentuk cinta kita kepada ulama dan orang-orang sholeh.” Jelas Ihsan.

Sebagai tokoh nasional, Mama Kudang pernah dipercaya Presiden Soekarno untuk menjadi Ketua Dewan Konstituante pertama sekitar tahun 1955. Meskipun tidak berafiliasi langsung dengan organisasi atau partai tertentu, ia dipilih melalui Partai Masyumi. Ini menunjukkan kebijaksanaan beliau dalam menempatkan kepentingan bangsa di atas identitas politik atau keormasan.

Tak hanya itu, Mama Kudang juga dikenal sebagai konseptor pendirian organisasi Idzharul Bai’atil Muluk Ulama wal Umaro (IBMA) pada awal 1900-an. Organisasi tersebut mempersatukan kekuatan ulama, umaro, dan Aghnia untuk menjaga stabilitas sosial di masa penjajahan Hindia-Belanda. Meski menjadi pelopor, nama beliau tidak dicantumkan sebagai tokoh utama, karena lebih memilih mengangkat Mama Aon (K.H. Rd. Abdul Majid), Mangunreja), sahabat sekaligus saudara yang dituakan pada saat itu.

“Beliau ahli silaturahmi, menjalin hubungan dengan para ulama sepuh, sehingga wajar jika corak pemikiran dan langkah-langkahnya sangat multidimensional dan multitalenta,” tambah Heres.

Acara haul tahun ini mendapat dukungan penuh dari para ulama dan umaro setempat serta terbuka untuk seluruh kalangan masyarakat. [dmn]

Screenshot 2025 06 13 19 01 39 46 c37d74246d9c81aa0bb824b57eaf7062

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *