Monolog “Prodo Imitatio” dalam Kakaren Lebaran: Satir Gelar dan Ruang Silaturahim Budaya

bolon teater prodo

Di dalam ruang panggung yang minimalis, kehadiran seorang laki-laki dengan koper besar tidak sekadar menjadi pembuka peristiwa dramatik, melainkan penanda dimulainya sebuah konstruksi makna. PRODO IMITATIO sebenarnya akronim dari Profesor Doktor Imitasi (bahasa Latin Imitatio), yang menunjukkan secara langsung satir terhadap demam gelar. Koper itu bukan hanya properti, tetapi metafora—sebuah arsip yang menyimpan praktik, hasrat, dan penyimpangan dalam dunia pendidikan. Dari sinilah monolog Prodo Imitatio, karya Arthur S Nalan, bergerak sebagai teks yang tidak hanya performatif, tetapi juga reflektif dan kritis.

Naskah ini ditulis sekitar tahun 2004, ketika Arthur S Nalan mengamati fenomena orang “haus gelar”, terutama gelar akademik, dan praktik memperoleh gelar secara instan, mudah, atau bahkan palsu. Fenomena tersebut memunculkan individu yang menawarkan gelar dengan berbagai cara tidak akademik, mulai dari plagiarisasi hingga penjualan gelar. Satire ini menjadi dasar lahirnya monolog Prodo Imitatio, yang menggambarkan demam gelar sebagai praktik sosial yang terus bergulir seperti bola salju. Berdasarkan catatan Arthur S Nalan, Teks Drama Monolognya ini pernah dipentaskan di beberapa kota dan negara (dengan rentang tahun yang berbeda): Bandung, Tasikmalaya, Yogyakarta, Surabaya, Singapura, dan Mesir, menegaskan relevansi naskah dalam konteks lokal maupun internasional.

Pementasan monolog Prodo Imitatio yang akan digelar ini merupakan hasil kolaborasi antara Teater Gembol dan Teater Bolon, yang difasilitasi oleh Yayasan Farhatul Muflihin. Selain menyajikan pementasan monolog, penyelenggara juga menghadirkan diskusi budaya melalui tajug Ngabedus dengan menghadirkan dua pembicara, yakni Dr. Fauz Noor dan Dudy R.S., serta menunjuk Abah Iwan sebagai moderator. Berdasarkan keterangan dari Pupuhu Teater Bolon, Amang S. Hidayat, kegiatan ini diselenggarakan bertepatan dengan momentum Kakaren Lebaran sebagai ajang silaturahim bagi seluruh anggota Teater Bolon pasca-Lebaran. Dalam konteks tersebut, silaturahim tidak hanya dimaknai sebagai pertemuan fisik semata, tetapi juga sebagai ruang penyambung rasa, pertukaran gagasan, serta penguatan kembali ikatan kultural dan emosional di antara para pelaku seni.

Senada dengan hal itu, Nina Minareli, selaku aktivis seni dan budaya Kota Tasikmalaya, menegaskan bahwa monolog Prodo Imitatio tidak hanya berbicara sebagai kritik sosial atas fenomena gelar, tetapi juga menjadi medium refleksi budaya yang mempertemukan kembali kesadaran kolektif melalui ruang kebersamaan seperti Kakaren Lebaran. Dengan demikian, pementasan ini tidak hanya menjadi peristiwa artistik, melainkan juga peristiwa sosial yang mempertemukan kembali jejaring kebersamaan yang sempat terpisah oleh waktu dan kesibukan. Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026, pukul 19.30 WIB hingga selesai, dan bertempat di Sanggar Teater Bolon (Komplek Masjid Jami Farhatul Muflihin), yang beralamat di Jalan Situgede I, Sukajaya, RT/RW 013.

Secara konseptual, karya ini dapat dibaca sebagai bentuk dekonstruksi terhadap wacana pendidikan modern yang mengalami pergeseran nilai. Pendidikan, yang secara ideal berfungsi sebagai ruang pembentukan intelektualitas dan etika, dalam teks ini direpresentasikan telah mengalami reduksi menjadi komoditas. Dalam kerangka pemikiran Pierre Bourdieu, gelar akademik yang semestinya merupakan bentuk modal kultural (cultural capital) mengalami distorsi menjadi modal simbolik yang diperoleh melalui transaksi ekonomi. Akibatnya, legitimasi sosial tidak lagi ditentukan oleh kompetensi, melainkan oleh kemampuan ekonomi dalam “membeli” pengakuan.

Tokoh Prodo Imitatio hadir sebagai figur liminal—berada di antara dua kutub: otoritas dan absurditas. Ia mengenakan atribut akademik, tetapi sekaligus meruntuhkan legitimasi atribut tersebut melalui perilaku dan tuturannya. Dalam perspektif relasi kuasa ala Michel Foucault, tokoh ini memperlihatkan bagaimana kuasa tidak selalu bekerja secara represif dari luar, melainkan produktif dari dalam sistem itu sendiri. Ia bukan sekadar pelaku penyimpangan, tetapi sekaligus efek dari jaringan kuasa yang membentuknya. Dengan demikian, ironi dalam teks ini berfungsi sebagai strategi diskursif untuk membongkar mekanisme legitimasi yang selama ini dianggap mapan.

Struktur naratif monolog ini menunjukkan pergerakan dialektis. Pada tahap awal, teks membangun ilusi melalui humor dan hiperbola—sebuah strategi yang membuat penonton berada dalam posisi reseptif. Namun secara bertahap, lapisan-lapisan ilusi itu dibongkar melalui pengakuan tokoh, kilas balik biografis, hingga akhirnya mencapai situasi degradasi sosial ketika tokoh menjadi narapidana. Transformasi ini tidak semata-mata bersifat dramatik, tetapi juga epistemologis: penonton diajak untuk memahami bahwa penyimpangan bukanlah anomali tunggal, melainkan hasil dari proses sosial yang panjang dan berlapis.

Lebih jauh, teks ini mengajukan kritik struktural melalui pembalikan logika moral. Dalam praktik jual beli gelar, tokoh mempertanyakan posisi subjek yang selama ini luput dari sorotan, yakni pembeli. Dalam konteks ini, praktik tersebut dapat dibaca sebagai arena (field) dalam terminologi Pierre Bourdieu, di mana agen-agen sosial berkompetisi memperebutkan legitimasi melalui berbagai bentuk modal. Kritik yang diajukan teks menegaskan bahwa keberlangsungan praktik tersebut tidak hanya ditopang oleh produsen, tetapi juga oleh konsumen yang secara aktif mereproduksi sistem nilai yang menyimpang.

Simbol curut dan kecoa yang muncul dalam bagian penjara memperlihatkan konstruksi semiotik yang berlapis dan oposisional. Dalam perspektif semiotika Charles Sanders Peirce, kedua entitas ini dapat dibaca sebagai tanda yang mengalami proses pemaknaan bertingkat. Curut berfungsi sebagai ikon dari gangguan kecil yang bersifat kasuistik—ia hadir, mengganggu, lalu dapat diusir tanpa meninggalkan jejak struktural. Sebaliknya, kecoa bertransformasi dari indeks lingkungan kumuh menjadi simbol yang dimaknai secara reflektif oleh tokoh. Ketika kecoa dinamai “kepala baja”, terjadi proses simbolisasi yang mengaitkan daya tahan biologis dengan kondisi eksistensial tokoh. Oposisi ini menegaskan pembedaan antara persoalan permukaan dan persoalan sistemik: curut sebagai gangguan yang dapat dikendalikan, sementara kecoa sebagai representasi praktik menyimpang yang resisten terhadap pemusnahan. Dengan demikian, teks secara implisit mengkritik kecenderungan sosial yang lebih fokus pada penanganan gejala daripada pembongkaran struktur yang melahirkannya.

Pertunjukan ini akan diinterpretasikan oleh Nur Rahmat SN, yang menghadirkan dimensi performatif melalui eksplorasi tubuh, vokal, dan ritme dramatik. Dalam konteks teater monolog, tubuh aktor menjadi medium utama produksi makna—sebuah ruang di mana teks tidak hanya dibacakan, tetapi diwujudkan sebagai kendaraan imajinasi yang menghubungkan dunia fiksi dengan kesadaran penonton. Dalam hal ini, yang “berbicara” bukan semata-mata tokoh Prodo Imitatio sebagai karakter, melainkan juga suara pengarang, Arthur S Nalan, yang dimediasi melalui tubuh aktor. Dengan demikian, ujaran dalam monolog menjadi ruang pertemuan antara teks, aktor, dan realitas sosial yang direpresentasikan. Musabab itulah, performativitas aktor menjadi elemen krusial dalam mentransformasikan gagasan abstrak menjadi pengalaman estetis yang konkret.

Sebagai sebuah karya teater, Prodo Imitatio menempati posisi penting dalam wacana kritik sosial melalui seni pertunjukan. Ia tidak menawarkan resolusi, melainkan membuka ruang kontemplasi yang berkelanjutan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak dimaksudkan untuk segera dijawab, tetapi untuk terus dinegosiasikan dalam kesadaran individu maupun kolektif. Pada penghujungnya, monolog ini berfungsi sebagai refleksi kritis atas realitas yang lebih luas—sebuah cermin yang memantulkan kondisi sosial dengan segala kompleksitas dan kontradiksinya. Dalam pantulan tersebut, penonton tidak hanya melihat tokoh Prodo Imitatio, tetapi juga jejak-jejak sistem nilai yang mungkin, secara sadar atau tidak, turut mereka hidupi.

Kini pertanyaan besarnya adalah: bagaimana Nur Rahmat SN sebagai aktor kawakan akan memanggungkan tokoh Prodo Imitatio? Akankah pementasan ini dibawakan dengan konsep yang benar-benar baru, atau justru kembali menghadirkan kekuatan khas yang telah teruji? Satu hal yang pasti, Nur Rahmat SN hampir selalu menghadirkan kejutan di luar dugaan setiap kali mementaskan tokoh dalam pertunjukan monolognya. Selamat menyaksikan. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *