Dari Godot ke Prodo Imitatio

foto bode riswandi

pentas monolog Prodo Imitatio karya Arthur S Nalan, aktor dan sutradara Nur Achmad SN. dok. foto Bode Riswandi

Suasana ruang terasa akrab sejak awal. Pertemuan diawali dengan makan prasmanan bersama seluruh penonton yang hadir, yang difasilitasi oleh Yayasan Farhatul Muflihin. Momen ini bukan sekadar pembuka acara, melainkan ruang temu kangen yang hangat bagi para praktisi dan pekerja panggung teater. Percakapan mengalir santai, tawa saling bersahut, menghadirkan nuansa kekeluargaan yang kental sebelum pertunjukan dimulai. Atmosfer yang tercipta pun tidak eksklusif bagi kalangan teater semata; berbagai lapisan masyarakat turut hadir, mulai dari pegiat seni tari, anggota DPRD, ustadz dan santri, hingga masyarakat umum. Keberagaman ini menjadikan ruang pertunjukan sebagai titik temu lintas komunitas, memperkuat kesan bahwa malam itu bukan hanya peristiwa artistik, tetapi juga peristiwa sosial dan kultural.

Aktor legendaris pementasan Menunggu Godot (karya Samuel Beckett, ditulis tahun 1952; disutradarai Rachman Sabur) yang pernah menggemparkan publik Bandung pada tanggal 1 dan tanggal 2 Juli 1991, Nur Rachmat SN—yang kala itu memerankan tokoh Vladimir—kembali menunjukkan kepiawaiannya pada malam 11 April 2026 di Marbes, Sanggar Teater Bolon. Pada masa itu, pementasan Menunggu Godot mendapat perhatian luas, dengan belasan koran arus utama menulis dan mengulasnya, termasuk ulasan penting dari Suyatna Anirun yang membedah pertunjukan tersebut secara kritis.

Kini, dalam kesempatan terbarunya, ia membawakan monolog Prodo Imitatio karya Arthur S. Nalan. Nur Rachmat SN, kelahiran tahun 1960, menunjukkan bahwa usia bukanlah batas bagi vitalitas artistik di panggung, melainkan justru menjadi ruang akumulasi pengalaman yang memperkaya kedalaman tafsir dan kekuatan ekspresi. Berbekal pengalaman lebih dari 45 tahun berkecimpung di dunia teater, Nur Rachmat SN telah melanglang buana di berbagai kelompok teater ternama, di antaranya Prasasti, Studi Club Teater Bandung, Sanggar Kita Bandung, Teater 81 Bandung, Studio Teater ASTI/STSI/ISBI Bandung, Teater Payung Hitam Bandung (1981–1991), hingga Teater Koma (1992–2005). Jejak panjang ini tidak hanya membentuk ketangguhan teknis, tetapi juga membangun kepekaan batin dan kecerdasan artistik yang tampak nyata dalam setiap detail permainannya.

Meski teks tidak dibawakan secara utuh, malam itu menyuguhkan pelajaran berharga. Sebuah “kecelakaan panggung” justru menjelma menjadi konsep artistik yang kuat: pencahayaan yang dinakhodai Orock Kapas tiba-tiba padam akibat keterbatasan daya listrik. Namun, alih-alih menghentikan pertunjukan, interaksi spontan antara aktor dan penonton—yang menyalakan senter gawai mereka—berubah menjadi spektakel dramatis yang menghidupkan ruang pertunjukan. Penonton pun diajak terlibat secara langsung, bahkan dalam satu momen mereka bersama-sama menyanyikan lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” sebagai bagian dari adegan saat menghitung laba dari praktik penjualan ijazah palsu—dan seluruh hadirin larut, ikut bernyanyi dalam suasana yang jenaka sekaligus satir. Momen ini memperlihatkan keluwesan dan kecerdasan artistik yang tidak mudah dimiliki oleh kebanyakan aktor, sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan artistik panggung justru dapat menjadi kekuatan estetik ketika diolah dengan kecerdasan kreatif.

Dengan gestur, vokal, dan mimik yang tetap terjaga, meskipun usia telah menua secara fisik, Nur Rachmat SN justru memancarkan gairah yang tetap muda di atas panggung. Ia mampu menjaga intensitas permainan sekaligus merespons situasi tak terduga secara kreatif, menjadikan setiap momen sebagai peluang artistik, bukan hambatan. Secara esensial, teks, konteks, dan interteks Prodo Imitatio berhasil dibawakan dengan kuat. Naskah karya Arthur S. Nalan ini hadir sebagai satir tajam terhadap fenomena “demam gelar” dalam masyarakat—mengkritik praktik instan dan komersialisasi pendidikan yang menjadikan gelar sebagai komoditas, bukan capaian intelektual. Tokoh Prodo Imitatio merepresentasikan sekaligus mengolok sistem yang tergelincir dalam absurditas tersebut.

Dalam lapisan yang lebih luas, monolog ini juga membuka dialog dengan realitas sosial: tentang krisis nilai, relasi kuasa antara uang dan status, hingga merosotnya makna pengetahuan. Bahkan, dalam pembacaan yang lebih reflektif, pertunjukan ini dapat dilihat sebagai cermin kegelisahan zaman—di mana legitimasi sering kali dibangun di atas simbol, bukan substansi. Melalui interpretasi yang matang, Nur Rachmat SN tidak sekadar memainkan teks, tetapi menghidupkan kritik sosial yang terkandung di dalamnya, menjadikan pertunjukan sebagai ruang tafsir yang hidup antara aktor, teks, dan penonton.

Tanggapan pun mengalir dari para apresiator. Nina Minareli secara spontan melontarkan kesan yang menohok, “Edan euy, energina jeung sorana ge bedas keneh, yie” menggarisbawahi daya ledak energi dan kekuatan vokal yang masih prima. Sementara itu, Amang S Hidayat selaku tuan rumah membuka ruang diskusi yang hangat dan interaktif bersama penonton, dengan secara langsung meminta Nur Rachmat SN mengulas proses kreatifnya di atas panggung, yang sarat pengalaman dan kejutan artistik. Diskusi ini tidak hanya memperkaya pengalaman pertunjukan, tetapi juga mempertemukan perspektif artistik dengan respons apresiatif secara langsung yang dikemukakan oleh Ashmansyah Timutiah, Teten, Bode Riswandi, Ab Asmarandana, Kido dan Kang Haji Hana Kusmana. Dalam suasana yang penuh keakraban tersebut, publik Tasikmalaya pun seolah menyampaikan pesan kolektif: sebuah ucapan “wilujeng sumping deui” kepada putra daerah yang kembali ke tanah kelahirannya, sekaligus harapan besar agar kehadiran Nur Rachmat SN dapat kembali menghidupkan geliat perteateran di Tasikmalaya, dengan segudang pengalamannya yang diyakini mampu dibagikan sebagai ilmu bagi generasi muda dan komunitas teater setempat.

Hal ini mencapai puncaknya ketika aktor muda berbakat dan potensial, Kido, mengajak segenap hadirin untuk berdiri dan memberikan tepuk tangan selama satu menit sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pencapaian Nur Rachmat SN dalam perjalanan panjang proses kreatifnya di dunia teater. Momen tersebut menjadi penegasan emosional bahwa kehadiran dan karya yang ditampilkan malam itu tidak hanya diapresiasi, tetapi juga dimaknai secara mendalam oleh para penonton. Malam itu menjelma menjadi suguhan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menggugah, menyentak kesadaran, dan meninggalkan jejak pemikiran yang panjang bagi para penontonnya. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *