foto karya Acep LDM. dok. LDM Tasikmalaya
KOTA TASIKMALAYA | Pada tanggal 27 Desember 2025, Pondok Pesantren Fajrul Islam yang didirikan pada tahun 2000 atas gagasan KH. Asep Ilyas FM dengan dukungan keluarga besar H. Dahlan, berlokasi di Rancabungur Legok, Bungursari, Kota Tasikmalaya. mengadakan acara dengan tema Sinau Kepesantrenan dan Reuni Akbar dengan menghadirkan pemantik Gus Sabrang Mowo Damar panuluh (Gus Sabrang), putra pertama dari Emha Ainun Najib (Mbah Nun) dengan moderator Aa Syaeful Milah.
Kilas Balik
Pada awalnya, pesantren ini mengembangkan pendidikan salafiyah yang menitikberatkan pada kajian kitab kuning, kegiatan keagamaan, serta dakwah melalui majelis taklim bagi masyarakat. Seiring meningkatnya kebutuhan pendidikan formal berbasis pesantren, pada tahun 2012 didirikan SMP Terpadu Fajrul Islam, disusul MA Fajrul Islam pada tahun 2015, sebagai wujud transformasi menuju sistem Salafy Modern yang mengintegrasikan kurikulum pesantren dan pendidikan nasional secara berjenjang dan berkelanjutan.
Secara visioner, Pondok Pesantren Fajrul Islam berorientasi pada pembentukan generasi muslim intelegensia yang berprestasi, berakhlak mulia, berwawasan global, dan mampu berkontribusi dalam kehidupan sosial. Pesantren ini menanamkan paradigma bahwa setiap santri adalah pendakwah melalui kompetensi, profesi, dan keteladanan hidup. Dengan struktur kelembagaan yang mencakup yayasan, pesantren, SMP Terpadu, dan MA, serta didukung program unggulan seperti integrasi kurikulum, talaran kitab kuning dan tahfidz Al-Qur’an, jurnalistik, serta kegiatan ekstrakurikuler seni, olahraga, dan mini riset, Fajrul Islam berkomitmen melahirkan lulusan yang unggul dalam ilmu agama dan pengetahuan umum, serta siap bersaing dan berperan aktif di era modern.
Tolok Ukur
Sinau Kepesantrenan Pondok Pesantren Fajrul Islam menghadirkan model pendidikan Islam komprehensif yang mengintegrasikan spiritualitas, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan berasrama. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui internalisasi nilai, pembiasaan adab, dan pendampingan berkelanjutan dalam keseharian santri. Kurikulum memadukan khazanah keilmuan klasik Islam (turats) dengan pendekatan pendidikan kontemporer, membekali santri dengan kompetensi keagamaan—seperti tahfidz Al-Qur’an, kajian kitab kuning, fiqih, aqidah, akhlak, dan tafsir—serta kemampuan berpikir kritis, literasi modern, komunikasi, dan kepemimpinan. Integrasi ini menempatkan Islam sebagai paradigma hidup yang mendorong pembaruan sosial dan kemajuan peradaban.
Sebagai agen transformasi sosial, Pondok Pesantren Fajrul Islam menargetkan lahirnya generasi berakidah kuat, berintegritas moral, berkepribadian beradab, kritis, solutif, serta siap berkontribusi di berbagai ranah profesi dan dakwah yang adaptif dalam bingkai Islam rahmatan lil ‘alamin. Melalui organisasi santri, halaqah ilmiah, latihan kepemimpinan, praktik dakwah, riset mini, dan aktivitas sosial, pesantren mentransformasikan nilai keislaman menjadi keterampilan praktis. Meski dalam perjalanannya dihadapkan pada tantangan manajerial, tumpang tindih pengelolaan, dan dinamika internal yang memengaruhi optimalisasi program, pesantren meyakini setiap persoalan memiliki solusi, serta terus berkomitmen membangun tata kelola berkelanjutan demi melahirkan generasi muslim beridentitas kuat dan berkontribusi bagi masa depan peradaban yang bermartabat.
Sebagaimana Ustadz Sidik Amin, selaku Ketua Yayasan Fajrul Islam Tasikmalaya, menyampaikan bahwa tujuan dan harapan diselenggarakannya kegiatan sinau dan reuni akbar ini adalah sebagai langkah awal untuk menggerakkan pesantren dalam bidang kesenian serta membangun keterpaduan antara dakwah kepesantrenan dan budaya lokal. Kegiatan ini diharapkan membuka cakrawala pesantren dalam menggali dan memahami tradisi serta budaya setempat sebagai bagian dari kekayaan peradaban yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperluas cakrawala pemikiran dan pengetahuan santri, sejalan dengan tujuan awal berdirinya pesantren, yaitu memahami dan membangun peradaban Islam. Ditekankan bahwa peradaban tidak mungkin terwujud tanpa landasan pengetahuan yang kuat, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan lainnya. Dalam pandangan pesantren, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, karena keduanya bersumber dari Allah SWT. Dengan demikian, kegiatan Sinau Kepesantrenan ini diharapkan menjadi sarana pembuka wawasan menuju pembentukan peradaban Islam yang utuh dan berkemajuan.
Santri, Pesantren dan Jalan Menjadi Manusia
Menurut KH. Asep Ilyas, selaku Pipinan Pondok Pesantren Fajrul Islam Tasikmalaya, dalam membuka acara Sinau Kepesantrenan menegaskan, bahwa: Santri pada hakikatnya tidak semata-mata dimaknai sebagai mereka yang belajar dan tinggal di pesantren. Dalam pengertian maknawiyah, santri adalah siapa pun—baik di dalam maupun di luar pesantren—yang memiliki akhlak Islami, moral yang baik, dan kesungguhan dalam menapaki jalan kebaikan. Sementara itu, santri dalam pengertian dhohiriyah adalah mereka yang secara formal menimba ilmu di pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Dari dua pengertian ini, santri sejatinya adalah identitas nilai, bukan sekadar status kelembagaan.
Pesantren sendiri, dalam perspektif klasik, merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional berbasis asrama, dengan kiai sebagai sentral figur, masjid sebagai pusat aktivitas, dan santri sebagai subjek pembelajaran yang mendalami ilmu agama. Namun, pesantren terus berevolusi menjadi sistem sosial yang dinamis: mengintegrasikan ilmu agama dengan sains, beradaptasi dengan tantangan zaman modern dan digitalisasi, serta berperan sebagai agen transformasi sosial dan pembentuk karakter moral-spiritual yang berintegritas. Dalam konteks ini, peran alumni pesantren menjadi penting sebagai perpanjangan nilai dan praksis pesantren di tengah masyarakat.
Sebagaimana dikemukakan Gus Sabrang, Indonesia adalah bangsa yang masih muda, lahir dari kesadaran kebangsaan sebelum menjadi negara. Secara etimologis, kata asrama berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tempat merebahkan diri, sementara sastri berarti orang berilmu atau melek huruf. Dari sinilah kata santri berakar, yakni orang yang belajar ilmu pengetahuan dan kitab suci di tempat yang disebut pesantren atau pesastrian. Maka, kesucian tidak berhenti pada kitab suci semata, melainkan tercermin dalam laku hidup manusia.
Tujuan utama seorang santri bukan sekadar menjadi pintar, melainkan mencari ridha Tuhan—hingga Tuhan “tersenyum” melihat dirinya. Akal diibaratkan seperti pisau: ia mampu membelah, menganalisis, dan melihat perbedaan, tetapi yang menyatukan dan menghadirkan kedamaian adalah kebijaksanaan. Pesantren hadir untuk membangun manusia seutuhnya. Belajar kepada orang kaya mungkin menjadikan seseorang kaya, tetapi belajar di pesantren menjadikan seseorang manusia—dan dari kemanusiaan itulah kekayaan sejati tumbuh.
Dalam dunia modern, perusahaan mencari individu yang mampu memecahkan masalah. Ilmu tidak semata untuk menjadi pandai, tetapi untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Inilah perbedaan mendasar pendidikan pesantren dan pendidikan akademik konvensional. Pesantren menempatkan akhlak sebagai fondasi utama—menjadi baik sebelum menjadi pintar—lalu mempelajari sejarah dan keilmuan, mengaplikasikannya dalam komunitas, serta belajar secara kontekstual agar seseorang menemukan jati dirinya. Tidak mengherankan jika banyak lulusan pesantren kembali ke komunitas asalnya dan menyebarkan ilmu, sementara sebagian besar lulusan pendidikan formal justru bekerja di luar bidang keilmuannya. Tegas Gus Sabrang.
Belajar sejati adalah menemukan prinsip, bukan sekadar menyalin perilaku. Pendidikan yang hanya meniru akan mematikan kreativitas. Pesantren mengajarkan berpikir kritis hingga melahirkan kreativitas yang berakar. Dari dialog, manusia bisa menguji ilmu atau justru belajar dengan rendah hati. Dalam perjalanan spiritual dan intelektual, kesalahan bukanlah akhir; tersesat berarti berhenti berjalan, sementara salah jalan cukup dengan kembali dan melanjutkan langkah. Lanjutnya.
Hidup adalah proses hijrah yang terus-menerus: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham. Semua makhluk berakal berpotensi tersesat jika terjebak pada kesombongan akal. Karena itu, kebijaksanaan berada di atas pengetahuan semata. Manusia hidup di dua alam: alam fisik dan alam akal, dan keduanya menuntut keseimbangan. Menilai orang dari tindakannya namun menilai diri dari niat semata adalah ketidakadilan yang sering luput disadari. Seni hidup itu strategi ; Berhitung. Gus Sabrang mengingat-tandaskan.
Di sisi lain, Amang S. Hidayat (Kang Amang), praktisi seni dan budaya Kota Tasikmalaya, menyampaikan pandangannya bahwa sejak dahulu kita sering mendengar riwayat dan kisah para kiai tentang bagaimana Kanjeng Nabi Muhammad SAW menerima wahyu. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa wahyu diterima dengan beban yang sangat berat, hingga seluruh tubuh beliau bergetar, merasakan panas dan dingin sekaligus, serta menanggung beratnya amanah dari Allah SWT untuk disampaikan kepada umat manusia.
Menurutnya, kondisi ini seharusnya menjadi cermin bagi kita saat ini. Banyak orang merasa sudah selesai belajar agama, merasa telah khatam mengaji, tamat membaca Al-Qur’an dan memahami ayat-ayat-Nya, namun justru terjebak dalam sikap ujub, ria, dan takabur. Kita membaca dan mengamalkan agama tanpa pernah benar-benar merasakan getirnya perjuangan, beratnya amanah, serta panas-dinginnya tanggung jawab spiritual. Bahkan, Amang S. Hidayat berpendapat, jika amanah wahyu itu diberikan kepada manusia biasa seperti kita, kemungkinan besar hanya menerima huruf “alif”-nya saja pun sudah cukup membuat kita limbung dan terjatuh, sampai masuk ke liang lahat, mungkin. Pandangan ini menegaskan pentingnya kerendahan hati, kesadaran diri, dan keikhlasan dalam menuntut serta mengamalkan ilmu agama.
Di satu sisi lainnya, kang Amang pun mengingatkan kepada para orang tua santri agar jangan lupa untuk tidak melupakan kewajibannya dari fardhu ain yang menjadi fardhu kipayah, guna ilmu yang diserap oleh anak-anaknya di pesantren bisa maslahat, serta barokah dalam roda hidup dan kehidupan dirinya (orang tua) dan anak-anaknya mendatang.
Simpul
Pada akhirnya, pesantren bukan hanya tempat mengaji, melainkan ruang pembentukan manusia dan peradaban. Seperti dikisahkan KH. Asep Ilyas FM, dalam kitab Uqul Al Majanin karya Abu al Qasim an-Nasaburi yang berisi kumpulan kisah-kisah inspiratif tentang orang-orang yang dianggap gila namun sebenarnya memliliki hikmah—dalam kitab tersebut ada sosok yang dianggap gila atas ucapannya: Bangunlah pada saat para pejuang bangun—padahal justru di situlah kesadaran dan keberanian dilahirkan.
Pesantren, dengan segala dinamika dan pergulatannya, tetap menjadi ruang sunyi tempat manusia belajar menjadi manusia, berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan. Kini soalnya adalah: Siapa membaca siapa? []









