Bunga di Atas Awan-Awan Atawa Cinta Dibalut Hitam

TEATER ALIT 1 scaled

Nur Rahmar SN., seorang seniman teater yang lahir di tasikmalaya pada 19 Agustus 1966. Ia dikenal sebagai aktor gaek yang bergabung dengan berbagai grup teater, termasuk dengan Studiclub Teater Bandung, Teater Payung Hitam, dan Teater Koma. Ia memiliki pengalaman luas dalam dunia teater, baik sebagai aktor maupaun pengajar dan sutradara. Ia juga kerap terlibat dalam berbagai proyek kreatif dan kini membangkitkan kembali komunitas teater yang didirikannya di Tasikmalaya, TEATER ALIT.

nur e1753513224346

Dalam garapan terbarunya yang bertepatan dengan menginjak usianya di angka 59 tahun lebih 21 hari, ia akan kembali mementaskan lakon monolog dengan judul “Bunga di Atas Awan-Awan Atawa Cinta Dibalut Hitam” karya Taufan S. Chandra Negara., naskah drama monolog yang ditulis pada tahun 2005 ini bertitik tumpu pada tawaran kritik sosial yang tajam terhadap masyarakat modern. Bagaimana cinta dan moralitas diperlakukan dalam konteks kapitalisme dan komodifikasi.

Teks lakon drama monolog ini ditulis dengan menggunakan gaya bahasa yang lirikal dan puitis dengan struktur yang tidak linear alias prismatik (loncat-loncat). Hal ini menambah kesan surreal (surealis) dan dreamlike (mengawang-awang) pada teks tersebut, sesuai dengan tema cinta dan moralitas yang kompleks.

Sedangankan peran media dan teknologi di tubuh teks naskah monolog tersebut digambarkan sebagai sarana yang mempermudah komodifikasi cinta dan moralitas. Sehingga tokoh tunggal dalam lakon monolog itu merasa bahwa media masa dan teknologi telah mengubah cara orang memahami dan mengalami cinta. Hingga ia mempertanyakan makna cinta dan bagaimana cinta dapat menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

Adakah situasi tersebut imbas dari sistem kapitalisme yang mengubah segala sesuatu menjadi komoditas, termasuk cinta dan moralitas, sehingga tokoh tunggal merasa bahwa cinta telah menjadi sekadar label dan promosi? Hal ini dipertegas dengan hadirnya bunga plastik yang ada sebuah dijambangan, yang dapat diartikan sebagai simbol cinta yang palsu atau tidak tulus. Sebab tokoh tunggal merasa bahwa cinta yang ia alami telah menjadi seperti bunga plastik, yang tidak memiliki keaslian dan kehangatan.

Sehingga tokoh tunggal mengalami konflik batin antara keinginan untuk mencintai dan dikasihi dengan realitas bahwa cinta telah menjadi komoditas. Hingga ia mempertanyakan makna cinta yang sebenarnya dan bagaiman cara mencintai dengan tulus itu?

Sebuah tawaran kritik sosial yang kompleks dan multi-layered ini akan kembali dimainkannya di Pusat Penelitian Seni Budaya (PPSB) – Gedung Kisam Bi Djiun – JL. H Naman No. 17 Pondok Kelapa – Jakarta Timur. Pada hari Sabtu tanggal 30 Agustus 2025. Pukul 20.50 WIB. Namun sebelum mentas di PPSB akan dipentaskan juga di ELINGO Hall Resto Organizer pada tanggal 23 Agustus 2025. Pukul 20.00 WIB. Tanah Baru, Kota Bogor.

Tentu saja, sebagai jebolan akademisi STSI Bandung (kini ISBI), eksplorasi yang akan disuguhkan oleh Nur Rahmat SN., sekaligus selaku empu di dunia teater yang sudah mumpuni : Di kala setiap pementasannya, ia tak sebatas berhenti dalam menerjemahkan pemaknaan teks, konteks, dan interteks isi naskah monolog tersebut. Akan tetapi, ia selalu hadir dengan tawaran-tawaran estetika baru di luar prediksi.

Selamat mengapresiasi! []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *