Sejarah musik Eropa penuh dengan karya-karya inovatif yang tidak hanya mengubah arah perkembangan musik, tetapi juga memicu kontroversi hingga kericuhan. Salah satu karya paling ikonik adalah Le Sacre du printemps (The Rite of Spring) karya komposer Rusia, Igor Stravinsky. Karya ini terkenal karena berhasil mengejutkan penonton dan mencatatkan dirinya sebagai tonggak penting musik modern abad ke-20.
Pertunjukan perdana Le Sacre du printemps di Théâtre des Champs-Élysées, Paris, pada 1913 menimbulkan kekacauan. Penonton terkejut oleh harmoni yang sangat disonan, ritme yang menghentak dan tidak beraturan, serta koreografi Vaslav Nijinsky yang dianggap aneh dan primitif. Akibatnya, perkelahian fisik terjadi di antara penonton, kursi-kursi dilempar, dan polisi harus turun tangan menenangkan massa.
Sebelum Stravinsky, opera La Muette de Portici karya Daniel Auber pada 1830 di Brussels, Belgia, juga memicu kerusuhan. Opera yang mengisahkan pemberontakan rakyat Napoli melawan penguasa Spanyol ini menimbulkan reaksi hebat ketika duet patriotik “Amour sacré de la patrie” dimainkan. Penonton menyerbu keluar gedung teater, memulai kerusuhan, dan akhirnya memicu Revolusi Belgia yang mengarah pada kemerdekaan negara itu dari Belanda.
Eksperimen musik lain yang memicu kontroversi adalah Pierrot Lunaire karya Arnold Schoenberg (1912) di Berlin, Jerman. Teknik vokal Sprechgesang—antara bicara dan menyanyi—menjadi sangat asing dan disonan bagi telinga penonton kala itu. Premiere ini diwarnai dengan teriakan, ejekan, dan siulan sebagai bentuk protes terhadap radikalisme musiknya.
Tak hanya di Eropa, karya minimalis Four Organs karya Steve Reich (1973) juga memicu reaksi ekstrem di Carnegie Hall, New York, dan dalam tur Eropa. Musik yang mengulang satu akord selama lebih dari 20 menit membuat beberapa penonton berteriak menyuruh musisi berhenti, bahkan seorang wanita dilaporkan berlari ke panggung dan memukulkan kepalanya ke arah musisi demi menghentikan pertunjukan.
Selain kontroversi musik, konser di Eropa juga sering menjadi target terorisme. Seperti dialami Taylor Swift di Wina, Austria, Agustus 2024, pembatalan konser terjadi setelah terungkap rencana serangan. Tersangka utama berusia 19 tahun mengaku berniat membunuh “sejumlah besar orang” dengan bom bunuh diri, sementara seorang remaja 17 tahun ditahan terkait kasus yang sama. Sejak beberapa bulan sebelumnya, polisi Austria telah memperingatkan adanya peningkatan risiko terorisme.
Insiden teror lain terjadi pada Maret 2024 di Balai Konser Crocus, Moskow, Rusia. Lebih dari 140 orang tewas ketika empat pria bersenjata menembaki pengunjung dan membakar kompleks bangunan. ISIS mengklaim bertanggung jawab, meskipun pemerintah Rusia menuding Ukraina sebagai dalang. Ironisnya, serangan itu terjadi tepat sebelum band rock Piknik menyanyikan lagu mereka Nothing to Fear.
Kericuhan dan tragedi juga tidak jarang terjadi dalam festival musik, terutama ketika ribuan orang berkumpul. Beberapa peristiwa paling memilukan antara lain:
- Altamont Speedway Free Festival (1969, California) – Festival gratis yang diprakarsai The Rolling Stones ini menewaskan Alan Passaro, seorang sekuriti Hells Angels, ditikam oleh Meredith Hunter, 18 tahun. Dua orang tewas karena kecelakaan tabrak lari dan satu lainnya karena insiden lain.
- Monster of Rock (1988, Inggris) – Festival ini dihadiri 10 ribu fans, namun lumpur akibat cuaca buruk menewaskan dua orang yang terinjak saat Guns N’ Roses tampil.
- Woodstock (1999) – Seharusnya festival membawa pesan cinta dan damai, namun tahun itu diwarnai kekerasan, kebakaran, dan pelecehan seksual.
- Pearl Jam – Roskilde (2000, Denmark) – Penonton tak terkendali saat band tampil, menewaskan 9 orang. Band sempat meminta ketenangan, namun terlambat, dan kemudian menciptakan lagu Love Boat Captain untuk mengenang tragedi.
- Glastonbury (2005, Inggris) – Hujan terus menerus dan angin kencang merobohkan 600 tenda portable, menyebarkan bakteri, dan menyambar panggung dengan petir.
- Love Parade (2010, Jerman) – Akses masuk terowongan membuat 21 orang tewas dan lebih dari 500 terluka akibat desakan penonton.
- Indiana State Fair (2011, AS) – Angin merobohkan panggung konser Sugarland, menewaskan lima orang dan melukai puluhan lainnya.
- Pukkelpop (2011, Belgia) – Lima hari setelah insiden Indiana, angin besar merobohkan panggung festival ini, menewaskan lima orang dan melukai 70 lainnya. Eminem dan Odd Future batal tampil.
- The Who (1979, Cincinnati, AS) – 11 penonton tewas dan 26 cidera sebelum konser berlangsung. Penonton berebut kursi, atau memaksa masuk dari luar venue. Band baru diberi tahu setelah konser berlangsung.
- Damageplan (2004, Columbus, AS) – Gitaris Dimebag Darrell ditembak saat manggung oleh Nathan Gale. Motif pembunuhan masih misterius, diduga terkait kekecewaan atas pecahnya band Pantera dan masalah kejiwaan pelaku.
Sejarah musik dan konser Eropa menunjukkan bahwa seni, inovasi, dan hiburan tidak selalu berjalan mulus. Kontroversi, kericuhan, dan bahkan tragedi terkadang muncul sebagai dampak dari eksperimen artistik maupun faktor eksternal, mulai dari cuaca hingga ancaman terorisme. Namun, semua peristiwa ini juga menunjukkan betapa musik dan budaya memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi masyarakat—baik dalam hal emosi, politik, maupun keselamatan publik.
Sekian. Terima kasih.
Salam Sehat, Bahagia, Senang, Gembira
Bandung, 25 Februari 2026









