Hutan gundul di Indonesia senantiasa hadir sebagai statistik: Angka kehilangan, luasan keruskan, dan grafiknya fluktuatif dari tahun ke tahun. Dalam bahasa kebijakan—menjadi laporan. Dalam bahasa publik—menjadi keluhan. Dan yang jarang dibicarakan itu bagaimana ruang-ruang telanjang tersebut dimaknai pasca kerusakan. Apakah hal tersebut bisa dikata sebagai symbol kegagalan, atau masih mungkin bisa dimaknai sebagai ruang refleksi bersama?
Katakanlah atau bilamana pemanfaatan kembali (repurposing) hutan gundul di Indonesia menjadi pusat seni dan budaya merupakan langkah transformatif untuk memulihkan ekosistem sekaligus memberdayakan masyarakat. Maka, mengubah fungsi (repurposing) hutan gundul di Indonesia menjadi ruang kreatif dan budaya merupakan pendekatan inovatif yang menggabungkan restorasi ekosistem dengan ekspresi artistik. Di tahun 2026, tren ini semakin menguat melalui berbagai inisiatif seni lingkungan dan festival yang berfokus pada keberlanjutan.
Berikut adalah beberapa bentuk imajinasi dan realisasi dari pemanfaatan hutan gundul tersebut:
Hutan Kolektif dan Desain Artistik: Salah satu model pionir adalah proyek Perhutanan di Jatiwangi, Majalengka, yang melibatkan kompetisi desain untuk menciptakan “hutan kolektif” pertama di dunia, di mana seniman dan masyarakat berkolaborasi dalam menata kembali lahan melalui pendekatan budaya lokal.
Festival Seni Lingkungan: Festival seperti Bandung Arts Festival 2026 menunjukkan bagaimana ruang publik dan lingkungan menjadi panggung untuk pertunjukan seni rupa, musik, dan aktivasi kreatif yang mempertemukan kesenian nusantara dengan isu lingkungan.
Workshop Arsitektur Bambu dan Konservasi: Di Sumatra, inisiatif seperti Bamboo Unboxed Workshop 2026 di Orangutan Haven mengintegrasikan edukasi arsitektur berkelanjutan dengan restorasi habitat, di mana peserta belajar membangun struktur estetis menggunakan material alam di tengah upaya konservasi.
Isu Lingkungan dalam Program Kebudayaan: Lembaga budaya seperti Taman Budaya Sumatra Barat telah mengarahkan program kerja tahun 2026 mereka untuk berfokus pada film dan isu-isu lingkungan, yang dapat menjadi media kampanye untuk pemulihan hutan yang gundul.
Kampanye Daur ulang dan Seni: Inisiatif dari kementerian seperti Festival Warna oleh KLHK memanfaatkan karya seni sebagai sarana kampanye daur ulang dan kesadaran lingkungan, yang secara simbolis dapat diterapkan di area-area yang sedang dalam proses reboisasi.
Kebijakan “Membeli Pohon” untuk Estetika Alam: Strategi baru di Jawa Barat pada tahun 2026 mulai bergeser dari reboisasi konvensional menuju kebijakan menjaga pohon yang sudah ada, dengan tujuan mempertahankan lanskap alam yang kokoh sebagai warisan budaya dan ekologi yang lebih efisien.
Tujuan Utama dari Pendekatan ini:
Meningkatkan Kesadaran: Menggunakan festival seni untuk menghargai warisan budaya sekaligus memulihkan ekosistem yang hampir punah.
Pemulihan Jiwa dan Alam: Melalui acara seperti SCARS 2026, seni digunakan sebagai media penyembuhan trauma, yang secara metaforis sejalan dengan “penyembuhan” lahan hutan yang rusak.
Diplomasi Budaya: Festival seni bertaraf internasional seperti BIRF 2026 di Buleleng menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan cara Indonesia menjaga kelestarian alam melalui budaya di tingkat global.
Zelche Zollverein salah satu situs warisan dunia Unesco yang paling terkenal di lembah Ruhr di Jerman(Contoh: Repurposing kreativitas).
Zeche Zollverein adalah salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang paling terkenal di wilayah Ruhr, Jerman. Situs ini merupakan bekas kompleks pertambangan batu bara dan pabrik kokas yang kini telah diubah menjadi pusat seni, budaya, dan desain. UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2001 karena nilai signifikannya sebagai “katedral industri” dan simbol perubahan struktural di wilayah Ruhr.
Zeche Zollverein (Kompleks Industri Tambang Batu Bara Zollverein) di Essen adalah salah satu situs warisan dunia UNESCO yang paling terkenal di Lembah Ruhr, Jerman, ditetapkan pada tahun 2001 karena arsitektur industrinya yang monumental, kini menjadi pusat budaya, seni, dan desain, serta museum yang memamerkan sejarah Ruhrgebiet. Situs ini dulunya merupakan tambang batu bara terbesar dan menjadi simbol kemakmuran industri Jerman.
Poin-poin Penting tentang Zeche Zollverein:
Status UNESCO: Menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2001.
Lokasi: Terletak di kota Essen, bagian dari wilayah Ruhrgebiet.
Sejarah: Beroperasi selama 135 tahun sebagai tambang batu bara, menjadi salah satu simbol industrialisasi Jerman.
Transformasi: Setelah ditutup pada tahun 1986, kompleks ini diubah menjadi pusat budaya, museum, dan ruang desain, menjadikannya contoh sukses revitalisasi industri.
Daya Tarik: Menawarkan arsitektur industri yang unik (seperti gaya Bauhaus), Museum Ruhr, dan Red Dot Design Museum, serta berbagai aktivitas budaya.
Julukan: Sering disebut sebagai “tambang terindah di dunia”.
Singkatnya, Zeche Zollverein adalah contoh ikonik bagaimana situs warisan industri dapat dilestarikan dan diubah menjadi destinasi budaya yang hidup.
Hutan gundul disulap menjadi tempat pusat budaya, kreatifitas dan festival
Transformasi lahan kritis atau hutan gundul menjadi pusat budaya dan kreatif merupakan bagian dari tren Pariwisata Regeneratif 2026 di Indonesia, yang bertujuan memulihkan ekologi sekaligus memperkuat identitas budaya.
Berikut adalah beberapa contoh dan proyek strategis terkait transformasi tersebut:
Hutan Kota Palu (Sulawesi Tengah):
Mulai tahun 2026, kawasan ini dijadwalkan untuk direvitalisasi menjadi ruang publik estetik yang berfungsi sebagai pusat rekreasi, edukasi, dan titik kumpul kreatif bagi warga.
Hinoki Village (Desain Budaya Kehutanan): Sebuah model taman budaya dan kreatif bertema “Budaya dan Kreativitas Hutan” yang membagi lahan menjadi zona-zona seperti Zona Seni Kayu dan Inovasi Gaya Hidup untuk mendukung industri kreatif berbasis hasil hutan.
Hutan Konservasi Baru di Wonosari (Yogyakarta): Lahan yang sebelumnya gundul telah dipulihkan dengan penanaman lebih dari 100.000 pohon. Saat ini, lokasi tersebut tidak hanya menjadi area konservasi, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan karya seni yang mengisahkan sejarah pemulihan lahan tersebut.
Hutan Bowosie (Labuan Bajo): Melalui program Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), kawasan hutan gundul diselamatkan melalui pengembangan destinasi wisata ecotourism yang mengintegrasikan pelestarian alam dengan aktivitas pariwisata.
Festival Pariwisata Hutan (Cikole, Bandung): Pemanfaatan kawasan hutan pinus untuk acara besar seperti LaLaLa Fest menunjukkan bagaimana ekosistem hutan dapat menjadi pusat festival internasional yang meningkatkan nilai ekonomi dan daya tarik kreatif wilayah tersebut.
Dengan Upaya ini sejalan dengan fokus pemerintah pada tahun 2026 untuk memperbaiki cara pandang terhadap alam dan mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif di kawasan hutan melalui investasi cerdas pada sumber daya manusia dan lingkungan.
Di titik inilah seni dan budaya bisa dikata menemukan relevansinya—bukan sebagai jalan pintas pemulihan ekologis; apalagi pembenaran atas eksploitasi, melainkan sebagai medium kritik dan ingatan. Festival, instalasi seni, dan praktik budaya di ruang hutan gundul—tanpa disadari dapat mebuka percakapan yang tidak disediakan oleh laporan teknokratis: Tentang relasi manusia dengan alam, tentang tanggung jawab yang tertunda. Dan tentang keberanian untuk tidak menormalisasi kerusakan, sebab seni bekerja bukan dengan janji, tetapi dengan pertanyaan—justru karena itulah media tawar ini penting.
Sekian Terimakasih..
Salam Budaya Nusantara indonesia
Bandung, 09.Januari.2026









