1 |
Ngabungbang caang bulan di Tatar Sunda adalah tradisi leluhur masyarakat Sunda untuk membersihkan diri lahir batin, biasanya dilakukan pada malam tanggal 14 Mulud (Rabiul Awal) saat bulan purnama terang benderang, di sumber air seperti sungai atau mata air, dengan tujuan memohon ampunan, membersihkan diri dari sifat buruk, dan meningkatkan kualitas spiritual, menggabungkan unsur budaya lokal dan keislaman. Ritual ini sering diisi dengan doa, zikir, kesenian Sunda seperti pencak silat dan tari buhun, serta sajian tradisional.
Pelaksanaan Tradisi
Waktu: Malam tanggal 14 Mulud (bulan purnama), sering juga dilakukan di bulan lain.
Tempat: Sumber air suci seperti mata air (Cikahuripan) atau muara sungai (Cisukawayana).
Prosesi: Mandi suci, doa bersama (tawasul), zikir, pertunjukan kesenian Sunda (gondang buhun, kacapi suling, tari ronggeng), serta penyiapan sesajen berupa hasil bumi dan makanan tradisional.
Variasi dan Perkembangan
Secara historis, ada yang melakukan untuk tujuan pribadi (kekayaan/ilmu), namun kini lebih fokus pada spiritualitas. Beberapa kelompok seperti Suku Baduy Luar punya ritual yang berbeda, mandi 12 kali setahun tanpa dilihat orang.
Tradisi ini memadukan unsur religius Islam dengan budaya Sunda lokal, menjadikannya bagian penting dari warisan budaya. Tradisi Ngabungbang adalah ritual budaya masyarakat Sunda yang dilakukan dengan cara tidak tidur semalam suntuk pada saat bulan purnama (biasanya tanggal 14 atau 15 bulan Maulud).
Berikut adalah poin utama mengenai tradisi Ngabungbang:
Makna Etimologis: Berasal dari kata nga (proses) dan bungbang (suasana terang benderang atau pembersihan). Secara filosofis, ini melambangkan pembersihan diri dari hal-hal negatif.
Waktu Pelaksanaan: Dilakukan saat caang bulan (bulan terang/purnama). Momen ini dianggap sebagai waktu yang penuh energi positif dan keberkahan.
Aktivitas:
Tafakur: Merenung dan mengintrospeksi diri di tempat terbuka di bawah sinar rembulan.
Silaturahmi: Berkumpul bersama warga atau komunitas untuk mempererat persaudaraan.
Mandi Suci: Di beberapa tempat, warga melakukan mandi di sungai atau tujuh sumber mata air pada tengah malam sebagai simbol penyucian.
Lokasi Terkenal: Salah satu tempat yang masih sangat kuat menjalankan tradisi ini adalah di Batutulis, Bogor dan beberapa wilayah di Sukabumi..
Bagi masyarakat Sunda, Ngabungbang bukan sekadar begadang, melainkan sarana untuk menyelaraskan diri dengan alam (mikrokosmos dan makrokosmos) demi mendapatkan ketenangan batin.
2 |
Adat tradisional: “ngabungbang caang bulan” di tatar sunda mayoritas dilupakan masyarakat sunda di. jaman era globalisasi
Tradisi Ngabungbang Caang Bulan di Tatar. Sunda, ritual penyucian diri saat bulan purnama untuk membuang aura negatif dan memohon ampunan, memang sebagian besar mulai terlupakan di era modern karena kesibukan, pergeseran nilai, serta pengaruh budaya luar, namun masih dilestarikan di beberapa daerah seperti Banjar, Bogor, dan Cianjur sebagai upaya melestarikan budaya Sunda dan karakter bangsa melalui nilai religius, kebersamaan, dan penghormatan alam. Meskipun ada yang menganggapnya mistis, kini lebih diarahkan pada nilai spiritual dan kebersamaan, bukan lagi untuk tujuan pesugihan atau ilmu gaib.
Apa itu Ngabungbang?
Makna: Berasal dari kata “nga” (menyatukan) dan “bungbang” (membuang/membersihkan), artinya mandi suci atau membersihkan diri secara lahir batin di sumber air (sungai./mata air) saat bulan purnama (biasanya tanggal 14 Mulud).
Tujuan: Membuang sifat buruk, memohon ampunan, mendekatkan diri kepada Tuhan (Allah SWT), dan meningkatkan kualitas diri serta keharmonisan hidup.
Pelaksanaan: Melibatkan kesenian Sunda (pencak silat, gondang, kacapi suling), doa, dzikir, dan berkumpul bersama, menjadi wadah silaturahmi.
Kenapa Mulai Terlupakan?
Pergeseran Budaya: Kesibukan modern dan masuknya budaya baru menggeser kebiasaan lama.
Persepsi Negatif: Beberapa aspeknya dianggap mistis atau musyrik, menyebabkan sebagian orang meninggalkannya, walau ada upaya revitalisasi menjadi lebih Islami.
Hilangnya Perhatian: Kurangnya regenerasi dan sosialisasi menyebabkan banyak yang tidak lagi memahami atau mempraktikkannya.
Upaya Pelestarian
Beberapa komunitas dan pemerintah daerah (seperti di Banjar, Bogor) terus mengadakan acara ini, memadukan unsur budaya dan agama.
Menjadikannya atraksi wisata budaya atau media promosi budaya lokal. Fokus pada nilai-nilai positif seperti bersyukur, silaturahmi, dan karakter bangsa.
Jadi, walau banyak yang lupa, tradisi Ngabungbang masih hidup sebagai bentuk kearifan lokal Sunda yang berusaha diselaraskan dengan nilai-nilai modern dan agama.
Tradisi Ngabungbang (berasal dari kata bungbang yang berarti membuang atau membersihkan) merupakan ritual adat Sunda yang dilakukan pada malam bulan purnama, biasanya pada tanggal 14 atau 15 Maulud. Meskipun benar bahwa di era modern tradisi ini mulai terlupakan, beberapa daerah di Jawa Barat masih berupaya melestarikannya sebagai bagian dari identitas budaya.
Berikut adalah kondisi terkini mengenai tradisi Ngabungbang di era globalisasi:
Makna Spiritual dan Psikologis: Ngabungbang secara tradisional dilakukan dengan begadang semalam suntuk di luar rumah untuk merenung, menyucikan diri dari sifat buruk, dan mensyukuri keindahan alam di bawah cahaya bulan.
Wilayah yang Masih Melestarikan: Tradisi ini masih terjaga di beberapa wilayah, seperti di Batutulis (Bogor) dan Cisolok (Sukabumi), Kampung adat kasepuhan Cipta Gelar/Gelar Alam (Sukabumi), Kampung Kanekes Baduy (Banten Kidul).
Di Sukabumi, Ngabungbang sering dikaitkan dengan ritual mandi di pertemuan tujuh muara sungai untuk pembersihan diri
Penyebab Penurunan Popularitas: Modernisasi, perubahan gaya hidup urban, serta kurangnya regenerasi informasi membuat mayoritas masyarakat Sunda kini lebih mengenal hiburan modern daripada ritual kontemplatif seperti Ngabungbang.
Upaya Pelestarian: Saat ini, beberapa komunitas budaya berusaha menghidupkan kembali tradisi ini dengan mengemasnya melalui pertunjukan seni budaya agar lebih menarik bagi generasi muda.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal atau lokasi pelestarian budaya ini, Anda dapat memantau dari agenda kegiatan di laman resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.
3 |
Tradisi Ngabungbang di Cimande
Ngabungbang Cimande adalah tradisi tahunan di Desa Cimande, Bogor, yang menggabungkan ziarah leluhur, ritual pembersihan diri (lahir-batin) dengan air suci, dan perayaan Maulid Nabi, bertujuan untuk membersihkan diri dari sifat buruk, memohon ampunan, serta mempererat silaturahmi komunitas Cimande, yang juga erat kaitannya dengan asal-usul pencak silat Cimande.
Asal-usul dan Makna:
Secara harfiah: Berasal dari kata “Nga” (menyatukan) dan “Bungbang” (membuang), artinya menyatukan cipta, rasa, karsa untuk membuang sifat buruk.
Konteks Sejarah: Dipercaya dimulai oleh Mama H. Hasan yang sering mandi di mata air Cikahuripan setiap 14 Mulud saat bulan purnama untuk membersihkan diri.
Makna Spiritual: Simbol pembersihan diri, tolak bala, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan lagi untuk tujuan pribadi seperti ilmu gaib.
Prosesi Tradisi:
Puasa: Keturunan Kasepuhan Cimande biasanya puasa 7 hari sebelum acara puncak untuk melatih diri.
Ziarah Makam: Mengunjungi makam leluhur Cimande seperti Eyang Somad, Abah Khair, dll.
Pembersihan Pusaka: Membersihkan pusaka, terutama Gobang Karancang, menggunakan air dari sumber mata air.
Mandi Suci (Ngabungbang): Mandi di mata air dengan niat membersihkan diri, seringkali bertepatan dengan bulan purnama 14 Maulid.
Doa & Munajat: Bermunajat kepada Allah SWT, memohon ampunan, dan kekuatan.
Tujuan dan Manfaat:
Spiritual: Pembersihan diri, pertobatan, peningkatan kualitas pribadi.
Budaya & Sosial: Memperkenalkan, menjaga, dan melestarikan budaya Cimande, ajang silaturahmi antar umat beragama dan pesilat.
Ekonomi: Memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar melalui penyewaan tempat dan peningkatan permintaan jasa pijat patah tulang.
Hubungan dengan Silat Cimande:
Ngabungbang adalah perpaduan Maulid Nabi, haul leluhur, dan juga memperkuat identitas komunitas pesilat Cimande, yang mengajarkan keselarasan tubuh dan jiwa.
4 |
Tradisi Ngabungbang: “di Kampung Adat Kasepuhan CiptaGelar”
Tradisi “ngabungbang” (atau lebih dikenal Ngalalakon) di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar (kini juga disebut Gelar Alam) adalah ritual adat pemindahan pusat pemerintahan dan kehidupan masyarakat dari lokasi lama ke lokasi baru secara berkala, berdasarkan petunjuk leluhur dan siklus kehidupan, seperti kepindahan ke Gelar Alam yang merupakan prosesi ke-20, menegaskan identitas, tradisi padi huma, dan kepemimpinan Abah, serta menjaga harmoni dengan alam dan leluhur, ditandai dengan membawa padi dan mengikuti adat istiadat seperti menyimpan hasil bumi di leuit.
Aspek Penting Tradisi Ngabungbang (Ngalalakon) di Kasepuhan Ciptagelar/Gelar Alam:
Ngalalakon (Pemindahan): Merupakan prosesi kunci, di mana pusat Kasepuhan pindah secara bertahap ke tempat baru (seperti dari Ciptagelar ke Gelar Alam), mengikuti perintah gaib dan siklus abad/babad, bukan karena alasan modern, melainkan untuk menjaga keberlangsungan adat.
Siklus Padi Huma: Kehidupan di Kasepuhan sangat bergantung pada pertanian padi huma (ladang), dan ritual ini juga terkait dengan siklus panen serta penyimpanan hasil bumi di lumbung padi (leuit) sebagai bentuk penghormatan pada Dewi Sri.
Identitas & Kepemimpinan: Ritual ini menguatkan identitas sebagai masyarakat adat yang setia pada leluhur, dipimpin oleh “Abah” sebagai keturunan Prabu Siliwangi, yang menjadi perwakilan spiritual dan pemimpin adat.
Harmoni dengan Alam: Menekankan hidup selaras dengan alam, termasuk penggunaan teknologi sederhana (seperti listrik turbin mini) dan larangan penggunaan mesin giling padi, serta aturan berpakaian ketat bagi pengunjung.
Prosesi: Melibatkan gotong royong warga membawa peralatan rumah tangga dan padi ke lokasi baru, menandai kelanjutan kehidupan adat yang telah berlangsung ratusan tahun.
Secara ringkas, “ngabungbang” atau lebih tepatnya “Ngalalakon” adalah cara Kasepuhan Ciptagelar/Gelar Alam mempertahankan eksistensi dan nilai-nilai adat mereka melalui perpindahan fisik dan spiritual yang teratur, berpusat pada padi sebagai sumber kehidupan dan penghormatan pada leluhur.
5 |
Suasana anak-anak bermain saat bulan purnama di Sunda
Suasana anak-anak bermain saat bulan purnama dulu sangat meriah dengan permainan tradisional seperti sondah, ucing sumput, gobak sodor, engklek, dan oray-orayan di halaman rumah atau lapangan desa, di bawah terangnya cahaya bulan yang menggantikan lampu listrik, menciptakan kebersamaan yang erat dengan orang tua sambil mengobrol, namun kini tradisi ini mulai memudar karena pengaruh listrik dan gadget, meskipun ada upaya untuk membangkitkannya kembali dengan acara “Nyawang Bulan”.
Ciri Khas Suasana Bermain Saat Bulan Purnama:
Penerangan Alami: Langit malam lebih terang karena bulan purnama, menjadi penerangan alami untuk bermain di luar rumah.
Permainan Tradisional: Anak-anak aktif bermain congklak, sondah, ucing sumput (petak umpet), gobak sodor (galah asin), engklek, egrang, dan oray-orayan.
Kebersamaan: Suasana penuh kebersamaan, orang tua mengawasi sambil bersosialisasi, menciptakan ikatan kuat antar warga.
Lingkungan Desa: Seringkali di halaman rumah atau lapangan desa, memanfaatkan keindahan alam sekitar.
Perubahan dan Upaya Kebangkitan:
Pudar karena Listrik & Gadget: Terang lampu listrik dan godaan gawai membuat anak-anak lebih sering di dalam rumah, membuat tradisi ini jarang terlihat.
Inisiatif Pemerintah & Komunitas: Beberapa inisiatif, seperti di Purwakarta, pernah mendorong pemadaman listrik saat purnama agar anak-anak bermain di luar, atau acara “Nyawang Bulan” yang diadakan komunitas untuk mengenalkan kembali budaya ini dengan seni dan kuliner
tradisional.
Intinya, suasana bermain saat bulan purnama di Sunda adalah tentang kesederhanaan, alam, permainan tradisional, dan kebersamaan, sebuah memori indah yang kini berusaha dihidupkan kembali di tengah modernitas.
Lirik kakawihan Sunda di dalam kurung ini (Cicika maling minyak, toroktok embe janggotan, pa kuwu kariaan, lauk na lauk bilatung, kejona kejo gandrung, tingtung bedog rampung, trong trang bedog rompang, het het embe janggotan) adalah bagian dari kakawihan anak-anak Sunda yang populer dengan judul “Hét-Hét Embé Janggotan,” sering dinyanyikan dalam permainan tradisional yang juga suka muncul di terangnya Bulan Purnama Ngabungbang, untuk suasana mengiringi gerakan atau “tatarucingan” (tebak-tebakan), dengan cerita jenaka tentang Pak Kuwu yang mengadakan hajatan dengan lauk ikan sepat, nasi gandrung, dan keseruan lainnya yang diakhiri dengan suara bedog dan “Hét-hét embé janggotan” sebagai penutup yang khas.
Berikut adalah lirik lengkapnya:
Cicika maling minyak
Toroktok embé janggotan
Pa Kuwu kariaan
Laukna lauk bilatung
Kéjona kéjo gandrung
Tingtung bedog rampung
Trong trang bedog rompang
Hét-hét embé janggotan.
Arti Singkat:
Cicika maling minyak: Seseorang (mungkin anak-anak) mencuri minyak.
Toroktok embé janggotan: Suara kambing berjanggut.
Pa Kuwu kariaan: Pak Lurah (Kepala Desa) mengadakan hajatan.
Laukna lauk bilatung: Ikannya ikan sepat (bilatung).
Kéjona kéjo gandrung: Nasi (kebanyakan/banyak) yang enak.
Tingtung bedog rampung: Suara bedog (golok) selesai/berhenti.
Trong trang bedog rompang: Suara bedog tumpul.
Hét-hét embé janggotan: Seruan mengusir kambing berjanggut (penutup).
Kakawihan ini mencerminkan kehidupan pedesaan Sunda dengan bahasa yang lucu dan ritme yang ceria, sering digunakan untuk permainan seperti: ucing sumput (petak umpet), galah asin, atau kegiatan anak-anak lainnya, (permainan ini juga sering muncul sewaktu Ngabungbang Bulan Purnama, cahaya bulan terang benderang).
Ngabungbang di Bulan Purnama waktu nya bulan bersinar terang, adalah wujud adat tradisi masarakat Sunda yang dilaksanakan waktu bulan purnama, biasanya dalam tanggal 14 bulan Mulud atau Rabiul Awal. Di dalam waktu tersebut, anak-anak jaman dulu sering melakukan sagala macam rupa bentuk permainan anak-anak di halaman rumah, ketika sinar bulan terang benderang untuk mengisi waktu sepanjang malam.
Ada beberapa permainan anak-anak Sunda yang sudah biasa dimainkan saat waktu bulan purnama “ngabungbang:
Oray-orayan: Permainan yang dilakukan dengan cara saling pegang bahu tangan atau pinggang antar teman-temannya sambil berbaris seperti Ular serta sambil nyanyi menembangkan lagu “Oray-orayan”.
Galah Santang (Galah Asin): Permainan kelompok yang mengandalkan ketangkasan untuk bisa melewati garis yang dijaga oleh lawan.
Cing Ciripit: Permainan untuk menentukan siapa yang akan jadi “ucing” (Kucing) dengan cara menunda jari tangan di telapak tangan untuk dibuka sambil nyanyi atau nembang.
Perepet Jengkol: Permainan yang menguji kekuatan kaki dengan cara saling mengaitkan kaki tiga orang atau lebih sambil berputar dengan sesuai irama tembang/nyanyi lagunya.
Pacublek-cublek Suweng: Permainan menebak barang (biasanya batu kecil) yang dipegang oleh salah seorang dalam waktu bersamaan menundukkan kepala.
Ucing-ucingan: Segala macam jenis permainan “ucing-ucingan” saperti “ucing sumput” atau “ucing 25”, yang lebih seru dimainkan malam hari oleh sebab keadaan yang agak gelap walaupun ada sinar cahaya bulan.
Permainan anak-anak ini bukan hanya sekedar hiburan, akan tetapi juga memiliki manpaat untuk membangun karakter semacam kekuatan sosial sportivitas, gotong royong, serta kecerdasan komunikasi sosial anak-anak.
Sekian dulu terimakasih…
Salam Budaya Kearifan lokal Jati Diri Bangsa…
Bandung, 16.Januari.2026









