foto, dok. Doddi Ahmad Fauji
Memahami lukisan-lukisan Romo Mudji Sutrisno pada awal-awal dekade 2000, lumayan sulit dan bikin kerung kening, sama sulitnya dengan upaya memahami puisi-puisi yang ditulisnya, juga esay serta pembicaraan filosofisnya. Lukisan Romo, tampak seperti bidang-bidang ‘amorf’ (benda yang tidak utuh), sedang puisi-puisinya adalah idiom-idiom asing yang seakan datang dari kegelapan, meminta seberkas cahaya untuk diterangi agar nampak dan meneror. Bagi saya, puisi terbaik adalah yang mampu ‘meneror’.
Esay dan obrolan Romo, sungguh banyak menggunakan terminologi dan diksi yang tidak karib dalam pengupingan saya, membuat saya tertantang untuk terus belajar ‘minal mahdi ilal-lahdi, terutama di bidang filsafat yang di mana Romo memiliki wewenang ilmiah untuk berpendapat dan menarik kongklusi. Adapun kata-kata yang saya hidupkan kala itu, pada dekade awal 2000, lebih tampak sebagey asumsi.
Meski demikian, saya harus berterima kasih, karena Romo Mudji adalah orang yang mengingatkan satu hal yang cukup penting, “Hati-hati menyimak omongan orang Pemerintah, banyak dari mereka memberikan harapan palsu, meskipun kita dekat dengannya secara pribadi. Kata ‘akan’ yang mereka ucapkan, artinya ‘belum tentu’ dan ‘tidak pasti’.”
Dan benar ucapan Romo, katebelece dari Depbudpar yang berisi akan menyumbang KBA (koordinatoriat Bangkit Aceh) pasca-tsunami 2024, tidak mewujud sama sekali.
Dulu saya sering mewawancarai Romo Mudji sebagai narasumber kebudayaan, meski ia seorang alim dan ustadz dari kalangan Nasrani, namun saya menghindari bahasan tentang syariat, hakikat, dan makrifat dalam agama. Apalagi latar belakang saya yang lahir dan dibesarkan di lingkungan Wahabiyah, yang sekarang saya niley terlalu mekanis dan menimbang dengan dalil-dalil untuk banyak perkara dan urusan, sehingga kaku dan mudah bertubrukan faham dengan yang berbeda marka. Jikapun saya menyimak tuturan tentang keyakinan dari Romo Mudji, saya akan mengambil niley-niley universal yang terkandung dalam akidah maupun syariah. Membincangkan seni dan budaya, dalam hal Romo Mudji adalah pelukis dan penyair, membuat saya merasa lebih nyaman dan tolerans dalam menjalani hidup. Meskipun puisi dan lukisan bukan agama, namun terasa telah menjadi petuah ‘rahmatan Lil-alamiin’ (berkah bagi alam semesta).
Kesedihan yang segera menimpa bila ada para seniman wafat, adalah hilangnya dokumen-dokumen penting yang pernah saya miliki, baik itu berupa karya maupun sekadar foto. Dokumen-dokumen saya, rusak dan hilang karena hanyut dalam banjir bandang di Jakarta dan sebagiannya ‘terbakar’ di Cicalengka.
Saya pernah menerima buku antologi puisi yang langsung diserahkan dan tentu ditandatangani oleh Romo. Buku itu telah raib bersama ratusan katalog seni rupa yang amat penting, serta buku-buku dan foto-foto yang juga penting. Segera saya menghibur diri, “kita datang tidak membawa apa-apa, pulang pun tak akan membawa apa-apa, kecuali laku dan amal kebajikan, atau malah keburukan yang bisa menjerumuskan kita pada karma yang pedih lagi kekal.”
Apakah saya merugi dan bangkrut?
Menurut para ustadz yang sering saya simak dalam khotbah Jumat, ada orang-orang ‘hosirun’, yaitu mereka yang merugi dalam kehidupan pascakematian, yaitu mereka yang membawa ‘kebatilan’ jauh lebih besar dari darma yang pernah ditunaikannya dalam kehidupan, terutama sering melukai perasaan sesama. Di akhirat nanti, kata para ustadz, mereka yang pernah kita sakiti itu, datang mengadu dan bersaksi kepada Sang Maha Pengadil, bahwa ia pernah kita lukai. Lalu Tuhan menimbang, dan ketika terbukti kita salah, maka deposito amal baik kita di-debet, ditransferkan ke rekening orang yang pernah kita sakiti. Karena saldo kita terus menerus di-TF-kan ke yang lain, akhirnya jadi minus alias bangkrut, yang akan menimpa golongan ‘hosirun’ atau kasta yang merugi itu.
Berteman dengan Mudji Sutrisno dan juga pelukis cum penyair Made Wianta yang juga suka saya panggil Romo meski menganut Jalan Brahmin, membuat saya lebih memahami makna terdalam dari larik “bismillahi rahman-rahim,” (dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih Maha Penyayang). Sebelum mengerjakan apapun, kaum muslimin dianjurkan mengucapkan larik yang sebenarnya merupakan mantra “early warning” agar tindak-tanduk kita memendarkan partikel-partikel kasih dalam hati, pikiran, ucapan, dan perbuatan.
Dengan menjalankan bismillah, saya yakin dapat menambah saldo baik, untuk kehidupan kini maupun nanti.
Orang yang memiliki naluri kasih, maka ia tidak akan menyakiti kepada alam in, apalagi kepada manusia. Rahmatan lil-alamiin itu adalah kebaikan untuk alam ini. Jika mereka berani menghardik hak-hak manusia, apalagi hak alam ini. Sekarang saya makin paham, kenapa bumi Indonesia makin rusak dan terpuruk, karena banyak penganut agama tidak menjalankan ‘rahmatan lil-alamin’. Jika mereka berani korupsi dan tidak menjalankan konstitusi, sudah pasti mereka berani merusak lingkungan ini, merusakan tatanan sosial-budaya, dan menjadi babi buta.
Mudji Sutrisno, Made Wiana, Richard Oh (mualaf), tentu saja bukan dari golongan babi buta yang akan menjadi golongan hosirun. Saya berdoa, moga orang-orang baik yang pernah mengingatkan, mengajarkan, dan membantu saya, masuk ke dalam golongan Brahmin, yaitu pengikut jalan Ibrahim, dan meraih pahala dari Tuhannya selaras dengan makna ajaran Quran surat al-Baqarah ayat 62. Saya bersaksi, mereka adalah orang-orang baik yang menjalankan bismillahi rahman rahiim.
Terakhir bertemu dengan Romo Mudji, masih tampak sama, rambut panjang dan senyum yang selalu terulur, di gedung YPK Naripan, saat membuka pameran seni rupa berjuluk ‘Kyai Akhir Zaman’ karya dua saudara sepupu: Acep Zamzam Noor dan Ahmad Faisal Imron, itu berlangsung sekira tahun 2022.
Bismillah Romo, moga meraih pahala untuk tiap darma yang pernah Kow tunaikan, siang dan malam, seluas-luasnya, sekekal-kekalnya. Aamiin.




