Alasan Pelajar Kudus Tolak MBG, JPPI: Tamparan bagi Pemerintah

ilustrasi surat mbg

JAKARTA — Surat seorang pelajar SMK NU Miftahul Falah Kudus menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Surat itu ditujukan kepada Prabowo Subianto, berisi permohonan untuk menolak penerimaan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi dirinya serta mengusulkan agar alokasi anggaran tersebut dialihkan untuk kesejahteraan guru.

Dilansir dari Tempo, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai langkah pelajar tersebut sebagai bentuk kepekaan terhadap persoalan pendidikan. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menyebut tindakan itu sebagai “tamparan keras” bagi pemerintah.

“Apa yang dilakukan pelajar di Kudus ini adalah tamparan keras bagi pemerintah. Seorang anak saja punya kepekaan melihat bahwa ada hal yang jauh lebih darurat daripada sekadar MBG, yaitu kesejahteraan gurunya,” kata Ubaid saat dihubungi pihak Tempo, pada hari Jumat, 3 April 2026. Ia juga mengapresiasi keberanian pelajar tersebut. “Dia telah menunjukkan pelajaran karakter yang sesungguhnya,” ujarnya. Ubaid menilai, kondisi ini sekaligus memperlihatkan adanya persoalan mendasar yang dihadapi tenaga pendidik, terutama guru honorer yang masih menerima upah di bawah standar.

Pelajar tersebut adalah Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa kelas XI di SMK NU Miftahul Falah Kudus. Dalam suratnya, ia menyatakan menolak menerima manfaat MBG untuk dirinya dan berharap anggaran tersebut dapat dialihkan untuk membantu para guru. “Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya,” kata Rafif saat dikonfirmasi oleh pihak Tempo pada Kamis malam, 2 April 2026. Ia mengaku miris melihat kondisi sebagian guru saat ini, terutama guru di sekolahnya yang tetap mengajar dengan dedikasi meski kesejahteraannya belum memadai.

Rafif juga menghitung secara sederhana nilai manfaat MBG yang akan diterimanya hingga lulus sekolah, yakni sekitar Rp6,75 juta. “Saat ini saya masih memiliki sekitar satu setengah tahun masa belajar di SMK. Jika dihitung secara sederhana, (18 bulan x 25 hari x Rp 15 ribu = Rp 6.750.000),” ujarnya. Menurut dia, jumlah tersebut mungkin tidak berdampak besar bagi dirinya, tetapi bisa menjadi bentuk penghargaan bagi guru.

tangkapan layar surat
Surat dari Muhammad Rafif Arsya Maulidi, untuk Presiden Prabowo Subianto. foto hasil tangkapan layar dari ig @arsya_graph

Melalui akun Instagram pribadinya, @arsya_graph, Rafif mengunggah surat tersebut yang kemudian menjadi viral, dengan lebih dari 41.800 tanda suka dan 1.471 komentar hingga saat ini yang didominasi dukungan dari warganet. Dalam unggahan itu, ia juga menautkan sejumlah akun, antara lain milik Tiyo Ardianto, serta menandai Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ahmad Luthfi, Taj Yasin Maimoen, Bupati Kudus Sam’ani, dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton.

Surat tersebut memicu beragam respons publik, mulai dari apresiasi terhadap empati pelajar hingga perhatian pada isu kesejahteraan guru dalam kebijakan pendidikan. Aksi Rafif tersebut dinilai mencerminkan empati pelajar terhadap kondisi guru, sekaligus menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan mengenai pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. Terkait surat tersebut, pihak Tempo telah berupaya meminta tanggapan kepada Prasetyo Hadi dan Dadan Hindayana. Namun, hingga berita ini ditulis, keduanya belum memberikan respons. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *