Aku mengenal Arief Wibisono bukan dari baliho yang dipaku miring di tiang listrik, bukan dari spanduk murahan yang melambai-lambai seperti kain jemuran, bukan dari rapat formal yang penuh kata “siap komandan!” tapi dari tanah Madura yang aromanya seperti doa para leluhur yang tak pernah habis dilafalkan angin.
Sudah bertahun-tahun, aku melangkah dengan bersarung hitam, sepatu sandalku yang belel dan pikiranku yang gelisah ke rumah Arief Wibisono di Pamekasan, rumah yang tidak diberi papan nama “rumah budayawan”, karena ia tahu: gelar itu bukan ditempel di dinding, tapi ditempel di laku hidup.
Sejak pertama kali masuk ke halamannya, aku merasa cocok,
seperti dua gelombang radio yang tiba-tiba saling bertaut di frekuensi 98.3 “Suara Kebudayaan Tidak Menyerah”. Arief Wibisono adalah orang yang aku temui saat semua orang sibuk mengejar gaji, tapi dia malah mengejar makna. Saat semua orang berlomba-lomba masuk instansi, dia justru buka pintu lebar-lebar dan berkata:
“Tugas saya bukan duduk di balik meja. Tugas saya menjaga ruh Madura supaya tidak pindah alamat.”
Satir? Silakan.
Humor? Tentu saja.
Karena menjadi seniman marjinal itu seringnya bukan keputusan—tapi konsekuensi dari negara yang lebih sibuk membangun gedung baru daripada ruang baca di desa. Namun Arief Wibisono tetap tegak, seperti pohon siwalan yang tidak mau tumbang meski angin politik berganti arah setiap minggu.
PUSAKA YANG BERBICARA
Di kediamannya, kau akan melihat sesuatu yang membuat napasmu tercekat lebih dari melihat tagihan listrik naik 15 persen: ratusan keris, tombak, mahkota, dan benda-benda pusaka yang duduk manis seperti para tetua yang sedang menunggu giliran bicara.
Arief Wibisono tidak sekadar mengoleksi, ia berdialog. Dari bentuk bilahnya, dari pamornya,
dari guratan usianya, bahkan dari rahasia yang hanya diceritakan kepada mereka yang mau mendengarkan sejarah.tanpa mengantuk atau pura-pura sibuk mengecek notifikasi ponsel.
Pada bulan Suro, dia dipercaya mencuci keris-keris itu dengan khidmat yang tak bisa dibuat-buat.
Bukan ritual klenik, tapi pembersihan jiwa yang kadang lebih jujur daripada rapat-rapat moral di gedung pemerintahan.
Bukankah ironis?
Ketika banyak pejabat mencuci tangan, Arief Wibisono justru mencuci keris. Ketika banyak orang memoles imej, ia memoles warisan leluhur. Ketika banyak generasi muda sibuk ingin viral, ia sibuk menjaga sesuatu yang lebih penting dari viral:
identitas.
Maka aku menyebutnya salah satu tokoh Gerbang Kebudayaan di Tanah Pusaka Madura. Karena ia berdiri di antara masa lalu dan masa depan, mengatur ritme, supaya keduanya tidak saling tabrak atau saling lupa.
KABAR BADAI BAHAGIA
Lalu tersebar kabar ke seluruh penjuru Pamekasan, lebih cepat dari gosip WA grup keluarga: Arief Wibisono diamanahi menjadi Ketua Dewan Kesenian Pamekasan.
Aku spontan berteriak, bukan “astaghfirullah”, bukan “serius nih?”
tapi “YEEEES!”
Karena akhirnya.daerah yang selalu membanggakan ke-khas-an,
keberanian,
kekerabatan,
dan tradisi,
punya penjaga yang bukan sekadar pencinta seni, tapi penjaga nilai. Pamekasan butuh darah muda, bukan darah yang sekadar muda umur, tetapi muda keberanian. Yang tidak sekadar memelihara budaya seperti memelihara batu akik yang dipajang tapi tidak diapa-apakan. Yang tidak hanya mempertahankan tradisi seperti mempertahankan foto mantan di dompet. Yang tidak sibuk dengan seremoni lomba-lomba tanpa esensi yang juaranya dapat piala, tapi budaya tetap kalah. Pamekasan butuh gerakan inovasi, karena zaman ini sudah masuk era digitalisasi, globalisasi yang kadang lebih cepat dari logika manusia.
Masyarakat butuh seni yang tidak hanya hidup di panggung, tapi juga di layar, di ruang virtual, di benak generasi Z yang lebih cepat menghafal lirik K-pop daripada nama-nama pahlawan Madura.
Arief Wibisono tahu itu. Ia tahu bahwa pusaka tidak boleh hanya dipajang. Tradisi tidak boleh hanya diperingati. Kebudayaan tidak boleh hanya difoto lalu diunggah. Kebudayaan harus ditumbuhkan, seperti tunas yang tidak boleh dibiarkan kering.
PAMEKASAN PUNYA PR
Tentu, tidak semua manis. Karena kalimat demi kalimat ini, maka izinkan aku menggertak sedikit: Wahai para pemangku kebijakan, tolong jangan menganggap kebudayaan sebagai “acara tahunan untuk laporan kinerja”. Tolong jangan memotong anggaran seni lalu memindahkannya untuk proyek yang entah di mana manfaatnya.
Tolong jangan undang seniman hanya kalau ada tamu dari provinsi. Tolong jangan biarkan gedung kesenian jadi gudang kursi rusak.
Tolong jangan jadikan jabatan kebudayaan sebagai tempat parkir politik. Karena kebudayaan bukan pajangan, bukan poster, bukan konsep program yang disusun semalaman oleh tim yang bahkan tidak tahu cara membedakan keris asli dan keris souvenir yang dijual di pasar malam.
Memang, Pamekasan punya PR serius: Menjaga akar, menumbuhkan daun, tanpa kehilangan batangnya. Jika Arief Wibisono ingin membawa seni budaya Pamekasan mendunia, maka pemerintah harus berhenti membuat aturan yang membuat seniman susah bernapas. Seni tidak bisa hidup dari tepuk tangan saja. Ia perlu ruang, dana, keberanian, dan kebijakan yang tidak hanya terlihat baik di spanduk.
KEHIDUPAN SENI HARUS HIDUP
Mari kita tertawa sedikit agar kehidupan seni tidak terasa seperti rapat paripurna: Kadang ada pejabat datang ke acara seni sekadar untuk difoto, karena kamera lebih penting dari karya. Kadang ada orang yang bilang,
“Budaya Madura itu luar biasa!” tapi tidak bisa menyebutkan satu pun nama maestro lokal. Kadang ada program seni yang konsepnya seperti hasil tugas anak SD yang dikerjakan lima menit sebelum dikumpulkan. Kadang ada proposal kebudayaan yang ditolak hanya karena tidak ada “kedekatan”. Sementara proposal tidak jelas justru lolos karena punya lampiran:
“tahu sama tahu”. Itulah parodi negeri kita..Tapi Arief Wibisono tidak ikut menertawakan tanpa tindakan. Ia turun ke lapangan,
ke desa,
ke sanggar-sanggar kecil,
ke acara yang bahkan tidak ada kursinya, ke panggung sederhana tempat anak-anak latihan dengan semangat yang lebih mahal dari speaker yang dipakai.
Ia hadir bukan untuk gaya, tapi untuk menemani. Itu yang jarang dimiliki pemimpin kesenian: ketulusan yang tidak dikalkulasi.
SOLUSI BUKAN KELUHAN
Karena pamflet sejati memberi kritik
sekaligus solusi, maka aku titipkan ini untuk Pamekasan, melalui Arief Wibisono:
- Digitalkan warisan leluhur
– Buat museum virtual keris,
– dokumentasikan pencuciannya,
– buat web interaktif sejarah Madura. - Bangun ekosistem sanggar-sanggar
– Beri pendanaan kecil rutin,
– beri pelatihan manajemen seni,
– buat festival rotasi antar desa. - Buat festival internasional Madura Culture Gate
– Undang budayawan Asia,
– tampilkan tarian tradisi, pencak, musik saronen,
– biarkan dunia melihat bahwa Madura
bukan hanya terkenal karena carok,
tapi karena peradabannya yang halus. - Kolaborasi generasi tua–muda
– Master keris bertemu kaum digital,
– pencak dipadukan dengan videografi modern,
– saronen tampil bersama musik elektronik. - Pendidikan budaya di sekolah
– Bukan teori, tapi praktik.
– Anak-anak jangan hanya disuruh menggambar garuda,
tetapi juga diajak mengenal pusaka Madura. - Transparansi anggaran kebudayaan
– Supaya dana tidak hilang
seperti sandal di masjid saat tarawih. - Buat ruang kreatif gratis
– Studio kecil,
– panggung komunal,
– perpustakaan seni.
Itu bukan mimpi.
Itu bisa dilakukan.
Dan Arief Wibisono adalah orang yang bisa memulai.
LIMA TAHUN KE DEPAN
Aku percaya, bukan karena dia temanku, bukan karena aku pernah minum kopi di rumahnya, bukan karena kami satu frekuensi, tetapi karena aku melihat bagaimana ia bekerja tanpa perlu membuktikan apa-apa.
Lima tahun ke depan, jika ia diberi ruang dan dukungan, Arief Wibisono bisa membawa seni budaya Pamekasan ke tingkat nasional, bahkan internasional.
Ia bisa membuat dunia bertanya:
“Di mana itu Pamekasan? Apa itu keris Madura? Siapa itu Arief Wibisono?” dan pertanyaan itu akan dijawab oleh karya-karya yang lahir dari tanah Pamekasan.
Duhai Pamekasan, beruntunglah engkau punya penjaga gerbang kebudayaan yang tidak hanya paham sejarah, tapi juga paham arah.
Duhai Madura,.engkau tidak kekurangan tokoh, tidak kekurangan seniman, tidak kekurangan roh budaya yang kurang hanyalah kesempatan.
Duhai Indonesia, belajarlah dari seorang Arief Wibisono: Kadang menjadi sarjana bukan berarti bekerja sesuai gelar. Kadang menjadi manusia berarti bekerja sesuai panggilan jiwa. Dan panggilan jiwa itu telah membawa Arief Wibisono ke tempat yang seharusnya:
memimpin, menjaga, dan menyalakan kembali obor kebudayaan Pamekasan. Semoga lima tahun ke depan engkau bukan hanya memelihara tradisi, tetapi memajukan peradaban. Bukan hanya menjaga warisan, tapi menghadiahkannya kembali kepada dunia. Karena Pamekasan tidak ditakdirkan untuk menjadi pengikut.
Ia ditakdirkan untuk menjadi Gerbang Kebudayaan Nusantara,
dan ARIEF WIBISONO adalah salah satu penjaganya.
Dari Timur Bekasi
Kamis, 20 Nov 2025
23.22








