Dalam Menyambut Hari Guru 25 November 2025, Bukan aku melupakan siapa saja yang pernah menjadi guru bagiku. Dari Ibu bapakku, mereka guru pertama bagi kehidupanku di dunia, sampai guru-guru sekolah. Entah bagaimana? Yang ada dalam benakku untuk kali ini, aku hendak mengingat ulang kehikmahan saatmana aku pernah berguru dengan seorang maestro berjuluk si ‘Burung Merak.’
Di ujung malam, di Aula Bengkel Teater Rendra, dengan suara tenang, guru berpesan, “Kelak apabila saatnya aku dipanggil Tuhan untuk berpulang, maka Bengkel Teater Rendra sudah tidak ada lagi, dan setiap murid melangkahlah ke depan berjuang untuk menentukan nasib dalam berkesenian.”
Namamu Guru,
takkan pernah pergi
menepi dari kalbu
…
Selama aku bermukim di ‘Bengkel Teater Rendra’ yang engkau istilahkan sebagai kampus kehidupan, aku belajar bahwa manusia bisa hidup tanpa ijazah, tapi tidak bisa hidup tanpa kesadaran. Bahwa bangun pagi bukan sekadar membuka mata, tapi membuka batin. Dan bahwa seorang seniman sejati bukan orang yang sibuk melukis kata, tetapi sibuk melahirkan makna. Di sana, di Bengkel Teater itu, dunia seperti diputar ulang dari awal: segalanya tidak ditata seperti sekolah negeri penuh aturan, tetapi seperti warung kopi spiritual, tempat pikiran mendidih, ruh digodok, ego dikukus sampai habis uapnya. Kau menyebutnya tempat “penempaan daya hidup”.
Aku menyebutnya kerajaan tanpa pagar tempat setiap orang ditelanjangi bukan oleh hukum, tetapi oleh kejujuran.
KAMPUS TANPA GERBANG
Hanya beberapa tahun aku melebur di sana, menyerap sukacita sekaligus derita yang anehnya tidak pernah ingin kutinggalkan. Aku belajar bukan dari kurikulum, melainkan dari kebiasaanmu yang tak mengenal ampun pada waktu. Bagi orang luar, itu gila: menjelang dini hari, ketika jin saja sedang rebahan, engkau memanggil kami dengan suara berat:
“SEKETIKA.”
Bukan nanti.
Bukan sebentar.
Bukan setelah ngopi.
Bukan setelah menelan alasan.
Kata itu, Guru, adalah tamparan lembut tapi keras, pelajaran pertama bahwa hidup tidak menunggu siapa pun, kecuali mereka yang siap menubruknya. Dan di tengah kantuk teler, mata menyerah, badan hampir tumbang, kami tetap merangkak bangkit. Bukan karena takut, tapi karena kami tahu: di setiap detik yang kau rebutkan itu, ada ilmu yang tak dibagikan dua kali.
DARI KANTUK, HIDUP
Kami pernah tidur hanya dua jam dan itu pun sudah mewah. Sebentar saja kami terlena, tiba-tiba engkau muncul:
punggung tegap, rambut mengembang, mata seperti bara api, dan suaramu yang menggema:
“BANGUN. ADA ILMU.”
Ilmu apa, Guru?
Ilmu apa yang datang jam tiga?
Ilmu apa yang kabur kalau tidak segera ditangkap?
Dan kau menjawab tanpa suara karena caramu menjawab adalah dengan memulai pelajaran, bukan menjelaskan alasan.
Di Bengkel Teater, kantuk adalah musuh, tetapi bukan musuh yang harus dibenci, melainkan disadari keberadaannya. Kau ajarkan bahwa melawan kantuk bukan soal memenangkan perang, tetapi soal memahami batas diri. Seorang seniman, katamu, harus berani merasakan kapasitasnya, bukan hanya keberaniannya.
Kami pun belajar, dalam lingkaran duduk bersila, ditemani vitamin murahan yang kau bilang sebagai “penyemangat biologis” sebuah humor khasmu yang membuat kami tertawa meski mata nyaris jatuh ke lantai.
Di luar sana, orang menyebutnya tidak manusiawi. Bagimu, itu adalah cara untuk menjadi manusia secara utuh—manusia yang mengenali dirinya, bukan hidup sebagai mesin yang memproduksi karya tanpa nyawa.
PENEMPAAN BATIN
Orang luar melihat kami seperti sekumpulan prajurit yang dihukum tanpa dosa. Padahal kami sedang merayakan hidup dengan cara yang tak bisa dipahami manusia serba nyaman.
Ya, kenyamanan adalah racun. Kami baru menyadarinya setelah berkali-kali menelan kerasnya tempaan. Di Bengkel Teater, kenyamanan tidak diberi kursi—karena ia musuh kreatifitas. Kau tak pernah mengajarkan kami bagaimana menjadi terkenal. Kau mengajarkan kami bagaimana menjadi bermakna dan itu jauh lebih sulit daripada sekadar tampil di layar kaca. Ada saatnya aku bertanya dalam hati:
Mengapa harus seberat ini?
Mengapa harus melawan kantuk?
Mengapa harus belajar saat orang lain sedang mimpi indah?
Lalu aku temukan jawabnya: Karena hidup tidak selalu datang pada jam kerja. Dan engkau membuat kami mengerti: orang yang hanya siap belajar pada jam nyaman adalah orang yang hanya siap menjadi penonton hidupnya sendiri.
KERTAS BIRU MUDA
Suatu hari, di masa lalu, setelah engkau basuh kedua kakiku dengan air kembang tujuh rupa, kau bersihkan setiap kuku jemari kakiku, lalu tubuhku dibalut kain putih tanpa jahitan, dan hati dan suara bergetar, aku mengucapkan ikrar Sumpah ‘Panca Prasetya’ di depan guru dan para saksi melingkar.
Suasana terhening.
Tanganmu memegang selembar kertas biru muda—kertas yang tampak biasa, tapi warnanya seperti dipetik dari senja yang belum selesai. Di atas kertas itu, kau menggambar garis horizontal, lalu setengah lingkaran. Rembulan menggantung di langit kertas itu. Di atasnya, dengan tulisan tangan yang keras tapi halus, tegas tapi lembut, kau tuliskan:
“MAKNA HIDUP PADA MUTUNYA.” Dan di bawahnya, tanda tanganmu: Rendra. 1991.
Aku memandangnya lama, seolah sedang membaca ayat yang belum turun. Kau hanya tersenyum:
“Itu untukmu. Suatu saat engkau mengerti.”
Kini aku mengerti.
Makna hidup tidak tunggal. Ia berubah, bergeser, menua, membesar, bahkan menyusut dengan mutunya. Setiap orang memiliki mutu hidup yang berbeda—dan tugas kami adalah meningkatkan mutu itu, bukan sekadar memperpanjang umur.
Engkau tidak meminta kami menjadi hebat. Engkau meminta kami menjadi bertumbuh. Karena hebat bisa usang, tapi tumbuh selamanya relevan.
TAK PUTUS NAFAS
Guru, andai kau masih berdiri di panggung kayu itu hari ini, mungkin kau akan menggebrak meja sambil berkata:
“Mengapa manusia makin pintar, tapi makin malas berpikir?” Kau akan tertawa mengejek melihat banyak orang lebih sibuk membuat konten daripada membuat kejujuran. Kau akan menepuk jidat melihat generasi yang bangga punya banyak pengikut, tetapi tidak punya banyak pemikiran. Kau akan menulis pamflet baru, judulnya:
“MANUSIA MASA KINI: CANGGIH KULITNYA, MUDAH RETAK BATINNYA.”
Dan kau pasti akan menyindir dengan senyum senjata:
- bahwa kritik lebih mudah dilontarkan daripada kontribusi,
- bahwa demo lebih ramai daripada aksi nyata,
- bahwa bangsa ini sering kaya wacana tapi miskin pelaksanaan,
- dan bahwa kita terlalu sering mengeluh pada negara padahal kita sendiri malas merapikan kamar.
Itu satir, Guru.
Satir yang menyengat seperti cabe rawit yang kau sebut “pembuka kesadaran”.
ANTI MENGGERUTU
Tapi yang selalu kau tekankan adalah ini:
“BERI SOLUSI, JANGAN CUMA BERKOAR.”
Maka izinkan aku merumuskan ulang ajaranmu, Guru, menjadi pamflet kecil untuk zaman ini:
- Bangun kesadaran, bukan sekadar citra.
Citra hanya foto; kesadaran adalah film panjang. - Giatkan disiplin pribadi sebelum menuntut disiplin bangsa.
Negara besar dibangun oleh manusia yang mau membereskan hal kecil. - Jangan menunggu inspirasi; ciptakan kondisi batin untuk menerima inspirasi.
Dalam Bengkel Teater, inspirasi itu hasil keringat, bukan keajaiban. - Kreatifitas lahir dari keberanian mengakui kekurangan diri.
Tanpa kejujuran personal, seni hanya teater kosong. - Belajar sepanjang hari—bahkan saat dunia tidur.
Hidup tidak sopan pada orang yang malas berkembang. - Seni adalah panggilan, bukan pelarian dari kenyataan.
Seniman bukan penghindar, melainkan pembawa cahaya. - Makna hidup muncul ketika kita mengolah mutu diri.
Mutu itu kerja batin, kerja pikir, kerja rasa. Itulah rumusan hidup yang kau ajarkan tanpa buku, tanpa kurikulum, tanpa modul bimbingan teknis.
PEDAS, PENYEMBUH.
Engkau sering mencela sambil tertawa:
“Kalian ini ingin jadi seniman, tapi malas membaca. Mau jadi penyair, tapi takut berlatih. Mau jadi tokoh, tapi tak berani ditempa.”
Kami tertawa karena tersindir.
Kami tersindir karena kebenaran itu pahit tapi lucu.
Suatu malam, ketika salah satu muridmu menguap seperti singa lapar, kau lemparkan sandal jepit sambil tertawa:
“JANGAN MENGUAP BESAR-BESAR, NANTI MALAM MASUK ANGIN!”
Semua meledak tertawa.
Tapi setelah tawa itu hilang, kami sadar: engkau sedang mengajarkan kami untuk mengendalikan diri. Bahkan menguap pun harus disadari. Begitulah humormu, Guru: tidak pernah sekadar lucu—selalu ada pisau tipis yang mengiris ego.
MAKNA HIDUP
Kini, bertahun-tahun setelah semua itu berlalu, aku menatap kembali kertas biru muda itu. Tulisanmu tetap sama. Rembulan itu tidak pudar. Garis horizontal itu masih tegas seperti horizon yang membelah siang dan malam.
“Makna hidup pada mutunya.”
Makna hidup bukan soal umur panjang, pencapaian megah, penghargaan prestisius, atau viral di mana-mana. Makna hidup adalah sejauh mana kita meningkatkan mutu diri—mutu moral, mutu mental, mutu spiritual, mutu keberanian, mutu karya..Mutu itu seperti benih: dibiarkan, ia membusuk. Dirawat, ia tumbuh menjadi pohon. Dan engkau, Guru, adalah pekebun yang mengajari kami cara menanam diri sendiri.
WASIAT TAKKAN USANG
Kini, ketika bangsa ini sering terpecah oleh perdebatan kecil, oleh kebisingan media, oleh klaim benar sendiri, oleh komentar kosong, oleh saling ejek tanpa bangun, aku teringat gaya ngajarmu yang keras tapi lembut, sengak tapi pengasih. Mungkin bangsa ini perlu satu kelas Bengkel Teater: kelas yang membangunkan kita jam tiga pagi untuk belajar mengenali diri sendiri. Mungkin bangsa ini perlu satu pamflet baru yang kau titipkan dari balik arwahmu:
“HIDUP ADALAH TANGGUNG JAWAB PRIBADI. BANGSA ADALAH CERMINAN MUTU WARGANYA.”
Dan ketika aku menutup mata, aku merasa kau berbisik:
“Teruskan. Jangan berhenti. Mutu hidupmu akan memandu arahmu.”
Kertas biru muda itu masih kubawa seperti kitab kecil. Dan setiap kali aku membacanya kembali, aku merasa: engkau tidak pernah pergi.
Engkau hadir dalam setiap detik yang kutempa, setiap waktu yang kutangkap, setiap kesadaran yang kutumbuhkan.
Makna hidup pada mutunya, Guru.
Dan aku terus belajar—seketika, seperti perintahmu.
Dari Desa Singasari
Jumat, 7 Nov 2025
02.07









