Opini Arus Tengah: Guru Beban Negara

huha7

Dalam wacana pendidikan, viralnya ungkapan “guru beban negara” memicu perdebatan publik. Jika dicermati secara netral, istilah kata “beban” tidak selalu bernuansa negatif. Dalam konteks ini, kata beban dapat dipahami sebagai tanggung jawab negara terhadap profesi guru, sebuah aspek penting dalam pembangunan sumber daya manusia.

Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, menerima gaji, tunjangan, dan fasilitas dari negara. Dari sisi itu, memang benar bahwa guru menjadi salah satu tanggungan Negara, sebuah “beban” dalam arti netral, yaitu sesuatu yang harus diperhatikan. Namun, tanggungan ini sejatinya adalah investasi strategis. Guru yang terdidik dengan baik mampu mencetak generasi penerus bangsa yang kompeten, kreatif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Menariknya, pernyataan yang memprovokasi ini justru membuka ruang diskusi yang sehat. Maka, saya pribadi menyatakan terima kasih kepada Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani, atas ungkapannya yang provokatif ini. Meskipun media-media mainstream mengisukan bahwa pernyataan tersebut adalah deepfack, namun tanpa pemicuan seperti ini, kemungkinan besar banyak pihak, termasuk para guru, akan tetap diam dan peran mereka sebagai pilar pendidikan tidak akan dibahas secara serius.

Semakin tingginya penggunaan media sosial dan semakin besarnya arus digitalisasi, membuat setiap pernyataan publik mudah tersebar dan menimbulkan reaksi luas. Minim sekali kasus yang muncul secara alamiah ke permukaan, tetapi banyak isu di negara ini justru cikal bakalnya berasal dari media sosial, selebihnya merupakan konsekuensi dari takdir atau kehendak sang pencipta. Gara-gara pernyataan tersebut, kebanyakan guru tak senang mendengar kata “beban” dalam konteks yang dilontarkan. Karena kata itu dianggap menyakitkan, sehingga menjadi buah bibir dan menimbulkan persepsi negatif di kalangan masyarakat.

Memahami guru sebagai beban negara dalam kerangka tanggung jawab membantu masyarakat melihat pentingnya kesejahteraan dan profesionalisme tenaga pendidik. Negara yang serius menanggung guru secara layak akan mendorong kualitas pendidikan yang lebih tinggi, memperkuat sumber daya manusia, dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi seluruh warga negara.

Dengan demikian, ungkapan “guru beban negara”, bila dipahami secara netral, bukanlah kritik merendahkan, melainkan refleksi terhadap tanggung jawab Negara (para petinggi Negara) dalam mendukung profesi vital ini. Menjadi “beban” berarti menjadi bagian dari investasi bangsa yang harus dirawat dengan sungguh-sungguh, apalagi di era digital di mana setiap kata bisa cepat menyebar dan memengaruhi opini publik. []

TITIK BALIK
Baca Tulisan Lain

TITIK BALIK


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *