Malam itu Dablo duduk bersila di antara riuhnya lingkaran manusia, dalam sebuah forum diskusi yang mengembang cakrawala di antara remang dan terang pikiran, tapi berbalut kebisuan. Udara di sekitar terasa sesak dikarenakan kipas angin baling-balingnya tak berkabel, sementara seluruh AC pun mati disebabkan sudah lama rusak. Padahal kipas angin baling-baling itu harapan satu-satunya, guna tak pengap. Ditambah kepulan asap rokok dan vape dari peserta yang mengikuti forum diskusi.
Meski demikian, setiap napas yang terlihat oleh pandangannya nampak tertahan khidmat dalam laku tubuh, kala menanti mukadimah yang dilafalkan dengan khusyuk oleh moderator. Singkatnya, ketika sesi izin bertanya dilayangkan, dan sebuah nama diminta untuk bertanya, tapi nama tersebut enggan untuk bertanya, Dablo merasa ada sebuah tangan tak kasat mata yang mengacungkan tangannya ke udara. Akhirnya terpaksa berdiri dan bertanya, setelah moderator menunjuk dan mempersilahkan dirinya.
Sebagaimana di forum-forum dalam kebiasaaanya, sebelum bertanya tentu saja harus menerangkan identitasnya terlebih dahulu: “Nama saya Dablo,” ucapnya, dengan suaranya yang ringan melayang penuh lantang dalam semangat, seperti bunga randu yang beterbangan di udara terbuka; “dari Tanjung Jaya.” Tandasnya. Fokus semua mata pada Dablo bukan lagi pada narasumber dan moderator, bahkan fokus pandangan mereka pun tertuju padanya: “Bagaimana cara menata hati?” ucapnya dengan penuh keyakinan. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya, yang merupakan sebuah ruang tak terbatas dengan kata-kata.
Sejenak, keheningan merayap, seolah kereta yang hendak lansir yang penuh dengan aroma keringat penumpang. Namun ada satu aroma yang paling kuat dalam penciuman Dablo, yaitu wangi melati yang begitu semerbak dari tubuh narasumber. Narasumber itu bangkit dari tempat duduknya, sejenak menarik napas panjang sebelum menjawab segenap pertanyaan Dablo tersebut. Bagi Dablo, sosok narasumber itu ibarat perwujudan dari simfoni warna, tak ubahnya roman bianglala di lengkung langit sore sehabis hujan—indah dalam pandangan kasat matanya.
Begitulah isi pikiran Dablo kini, kala memandang narasumber tersebut dengan jenis kelaminnya perempuan. Bagi dirinya, sososk narasumber tersebut tak ubahnya dari pewujudan Sang Dewi yang ada di film-film fiksi dengan iris mata yang memancarkan seribu danau hingga getar bibir tipisnya itu seolah beriak, seperti kelopak bunga yang ditabik angin di alam terbuka. Sebuah senyum tipisnya yang merekah, mengawali alur kisah atau sebagai ambang pembuka sebelum memaparkan isi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Dablo.
“Menata hati,” suaranya yang lembut, kian menggetarkan segenap tubuh Dablo yang masih terduduk dengan posisi sila. “Menata hati itu tak bisa lepas dari yang namamnya proses. Proses mendalam yang sangat krusial, sebab berhubungan erat dengan kesejahteraan emosional dan kedamaian hati itu sendiri.” Sambil menatap dalam ke arah Dablo berada. Suaranya yang seperti gemericik air terjun di puncak gunung yang mampu memecahkan keheningan malam.
“Menata hati itu bukan sekadar tentang mengelola emosi sesaat, tapi tentang membangun fondasi mental yang kuat dan kokoh, guna kita bisa menghadapi tantangan dan rintangan hidup yang berbeda di saban waktu dan harinya!” tandas jawabnya. Bagi Dablo, setiap suku kata yang meluncur deras dari sepasang bibir tipisnya itu bagaikan kelopak bunga yang jatuh, membentuk pola yang tak terlukiskan di lantai hatinya. Adakah ini yang bernama jatuh cinta dalam pandangan pertama, ataukah yang disebut cinta lokasi? Entahlah.
Seiring indranya yang seakan terpecah, Dablo tak hanya lagi mendengar dengan suara yang kian senyap terdengar olehnya, selebihnya Dablo kian merasakan hembusan angin sepoy yang tak nyata. Pikirannya kian melayang dihantarkan aroma melati yang semakin menyengat menusuk penciumannya, laju mengukir bait-bait puisi di udara yang kian samar dan gemetar—berganti galaksi. Dengan buku-buku jarinya merasakan seperti tengah memegang pena yang terbuat dari angin.
Ijinkan napas purbaku melangkah
memetik bunga dari tamanmu
Wahai Sang Maha Kasih
dia yang memanjakan mataku
meski duriya menancab ditanganku
jadi penanda dalam daya langkah juangku
Narasumber itu tersenyum dengan senyum khasnya yang menawan penuh dengan kehangatan, seperti kehangatan seribu musim, kala Dablo memberikan setangkai mawar, paska membacakan puisi yang tadi dituliskannya tersebut. Tanpa ragu, perempuan narasumber menerima bunga itu. Kala jari-jemarinya yang lentik hendak menyentuh kelopak mawar, galaksi kembali berpindah—seakan melebur pada segenap kulitnya Dablo yang kian merasakan dingin, sementara perempuan narasumber membalikkan badan, mulai berjalan mengelilingi taman.
Dengan setiap kali ia melangkah mampu menumbuhkan pohon-pohon zombie di tanah. Melihat hal itu, Dablo tersentak. Forum diskusi itu terasa memudar—orang-orang di sekelilingnya menjadi bayangan yang melengkung dari helaan napasnya sendiri. Aroma melati yang tadi ia cium kian memudar. Kepalanya terasa berat dengan lehernya yang merasakan kaku seketika.
Laju mengerjap, menyadari dirinya masih bersila di atas kursi yang sama. Orang-orang di sekelilingnya, satu demi satu beranjak pergi, menjauhi dirinya. Lelap tidurnya terganggu, bersama mimpi yang tak usai. “Gawat, apa yang harus aku tuliskan untuk tugas makalah? Mana dosennya killer lagi!” gumamnya. []









