Kalau kita perhatikan kehidupan sehari-hari, sebenarnya ada banyak hal kecil yang sering kita lakukan tanpa sadar. Kita ngobrol di rumah, di sekolah, di tempat kerja, atau sekadar nongkrong di lingkungan sekitar. Dari situ, muncul satu kebiasaan yang kelihatannya sepele, tapi sebenarnya cukup mengganggu kalau dipikir-pikir. Kebiasaan itu adalah berbicara dengan mengatasnamakan orang lain. Misalnya, kita pernah dengar orang berkata, “Dia tadi bilang begini,” atau “Menurut dia, kamu seperti itu.” Yang menarik, kadang kalimat seperti ini justru diucapkan saat orang yang dimaksud sedang ada di situ juga. Dia dengar, orang lain juga dengar, bahkan kadang jadi bahan tontonan ramai-ramai. Di situ, kalau dipikir lagi, rasanya agak janggal juga.
Awalnya memang terlihat biasa saja. Bahkan sering dipakai untuk bercanda, supaya suasana jadi cair. Banyak orang melakukannya tanpa berpikir panjang, karena merasa ini hal ringan. “Ah, cuma bercanda,” begitu biasanya alasan yang muncul. Tapi kalau kita berhenti sebentar dan merenung, sebenarnya kebiasaan ini bisa jadi masalah. Kenapa bisa jadi masalah? Karena setiap orang itu punya hak untuk bicara atas dirinya sendiri. Sederhananya, kalau saya punya pikiran, ya biar saya sendiri yang menyampaikan. Ketika orang lain tiba-tiba mewakili saya tanpa izin, apalagi dengan kata-kata yang belum tentu sama, di situ sebenarnya sudah mulai ada yang tidak beres.=
Sering kali, apa yang disampaikan itu tidak persis sama dengan maksud aslinya. Dari sinilah muncul yang namanya salah paham. Pesan yang tadinya sederhana bisa berubah, bahkan kadang jadi lebih tajam atau menyudutkan. Ini yang disebut informasi jadi “belok”, atau kalau bahasanya lebih mudah, pesan sudah tidak lagi sama seperti awalnya. Belum lagi soal perasaan. Kita ini manusia, dan setiap orang punya perasaan yang berbeda. Apa yang menurut satu orang lucu, belum tentu lucu bagi orang lain. Bisa jadi malah bikin tidak nyaman. Bahkan dalam beberapa situasi, mencatut nama orang lain seperti ini bisa terasa seperti tidak dihargai.
Kalau kita lihat dari sisi yang mendengarkan, reaksinya juga macam-macam. Ada yang santai saja. Mereka menganggap itu cuma candaan dan tidak perlu dipikirkan. Biasanya, orang seperti ini cukup paham situasi dan tidak mudah terbawa suasana, tapi ada juga yang lebih hati-hati. Mereka tidak langsung percaya. Mereka cenderung ingin memastikan dulu, “Benar nggak sih dia bilang begitu?” Lalu mereka tanya langsung ke orangnya. Nah, sikap seperti ini sebenarnya sangat baik, karena bisa mencegah salah paham yang lebih besar.
Masalahnya, tidak semua orang seperti itu. Ada juga yang langsung percaya begitu saja. Apa yang didengar langsung dianggap benar. Tanpa dicek, tanpa dipikir ulang. Dari sinilah biasanya gosip mulai menyebar. Lama-lama, yang tadinya cuma obrolan kecil bisa jadi masalah besar di lingkungan. Kalau terus dibiarkan, suasana pergaulan bisa jadi tidak sehat. Orang jadi mudah curiga, mudah tersinggung, dan hubungan bisa rusak hanya karena ucapan yang sebenarnya tidak jelas asalnya.
Lalu bagaimana dengan orang yang sering melakukan ini, yang istilah sederhananya “begal nama”? Risikonya juga tidak kecil. Yang paling terasa adalah hilangnya kepercayaan. Orang lain akan mulai berpikir, “Kalau dia ngomong, benar nggak ya?” Sekali kepercayaan hilang, susah untuk dikembalikan.
Selain itu, hubungan dengan orang lain juga bisa rusak. Orang yang namanya disebut-sebut tanpa izin bisa merasa tidak nyaman, bahkan tersinggung. Apalagi kalau yang disampaikan tidak sesuai. Dari situ, konflik bisa muncul, padahal awalnya mungkin hanya bercanda. Di titik ini, kita jadi sadar bahwa menjaga ucapan itu penting. Bukan berarti kita tidak boleh bercanda, tapi ada batasnya. Kita perlu tahu kapan harus berhenti, dan kapan harus memberi ruang orang lain untuk bicara sendiri.
Sebagai pendengar, kita juga punya peran. Jangan langsung percaya pada setiap “katanya”. Coba tahan sebentar, pikirkan dulu. Kalau perlu, tanya langsung ke orang yang bersangkutan. Cara sederhana ini bisa menyelamatkan kita dari banyak kesalahpahaman. Selain itu, kita juga sebaiknya tidak ikut menyebarkan cerita yang belum jelas kebenarannya. Kadang tanpa sadar, kita ikut memperpanjang masalah hanya karena meneruskan ucapan orang lain.
Akhirnya, kalau dipikir-pikir lagi, komunikasi yang baik itu sebenarnya sederhana: jujur dan saling menghargai. Biarkan setiap orang berbicara atas dirinya sendiri. Itu adalah bentuk penghargaan yang paling dasar. Kalau kita bisa lebih hati-hati dalam berbicara dan lebih bijak dalam mendengar, hubungan antar manusia pasti akan terasa lebih nyaman. Mungkin perubahan ini kecil, tapi dampaknya besar. Jadi, mulai sekarang, mungkin kita bisa pelan-pelan mengurangi kebiasaan “begal nama” ini. Bukan karena dilarang keras, tapi karena kita sadar dampaknya. Dan yang paling penting, kita belajar untuk memberi ruang kepada setiap orang agar bisa berbicara atas dirinya sendiri, dengan jujur dan apa adanya. []









