RUWATAN AGEUNG GUNUNG MANGLAYANG 2026 : “Ngarekés – Ngawangkong – Balakécrakan”

ruatan 6

Ruwat Ageung yang dilaksanakan di Gunung Manglayang di Tahun 2026 berakar pada upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk refleksi mendalam untuk menghadapi ancaman kerusakan alam.

ruatan 1

Poin-poin utama secara filosofinya adalah Pembersihan Diri dan Alam, dimana Ruwatan Ageung ini bertujuan untuk “membersihkan” energi negatif atau marabahaya (sial) baik dari diri manusia maupun lingkungan sekitar.

Refleksi Ekologinya dalam Upacara ini berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya merawat ekosistem (ruwat-rawat). Gunung dipandang sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dari ketamakan manusia.

Di dalam Kearifan Lokal (Local Wisdom), dengan melalui simbolisme seperti sesajen dan mantra, masyarakat diingatkan akan nilai-nilai luhur leluhur dalam menjaga keserasian lingkungan di kaki Gunung Manglayang.

Doa Keselamatan dalam Ritual ini, merupakan wujud syukur dan doa kolektif agar masyarakat dijauhkan dari bencana serta mendapatkan keberkahan hasil bumi untuk bisa hidup Makmur Sejahtera.

Kegiatan Upacara Ruwatan ini sering dipusatkan di area sakral seperti
Batu Kuda, yang secara historis memiliki nilai spiritual kuat bagi masyarakat Bandung Timur.

Urutan prosesi adat atau makna simbolis sesajen yang digunakan dalam ritual

ruatan 2

Ruwatan Ageung Gunung Manglayang adalah ritual adat Sunda yang sakral, bertujuan untuk membersihkan alam (ekosistem) dan manusia dari energi negatif serta marabahaya. Prosesi ini merupakan bentuk refleksi spiritualitas dan pengingat akan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dengan lingkungan alam semesta.

Urutan Prosesi Adat

Secara umum, tahapan ritual yang sering dilakukan di kawasan Situs Batu Kuda meliputi:

  1. Mitembeyan: Tahap persiapan awal yang menjadi pembuka rangkaian acara.
  2. Arak-arakan (Pawiwahan): Masyarakat membawa seserahan atau hasil bumi menuju lokasi utama ritual sebagai simbol kebersamaan.
  3. Ngarekes atau Tawasul & Doa Bersama: Pembacaan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada leluhur untuk memohon keselamatan wilayah.
  4. Ritual Utama (Ngaruat): Inti dari pembersihan diri dan alam, sering kali melibatkan pembacaan mantra atau rajah oleh sesepuh adat.
  5. Pementasan Seni Budaya: Biasanya diiringi oleh kesenian tradisional (seperti karawitan atau wayang) yang memiliki pesan moral tentang keseimbangan alam

Makna Simbolis Sesajen

Sesajen dalam Ruwatan Ageung bukan sekadar persembahan fisik, melainkan simbol ekologis dan spiritual yang mendalam:

ruatan 3

Hasil Bumi (Sayur & Buah): Melambangkan rasa syukur atas kesuburan tanah Manglayang dan ketergantungan manusia pada alam.

Air Suci: Simbol penyucian diri (membersihkan “sukerta” atau kesialan) dan harapan agar sumber mata air di gunung tetap terjaga.

Kemenyan/Dupa: Bermakna sebagai pengantar doa (keharuman) agar niat baik para peserta ritual sampai kepada Sang Pencipta.

Nasi Tumpeng/Nasi Kuning: Representasi dari rasa terima kasih dan hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhan.

Ritual ini diselenggarakan oleh komunitas lokal seperti LMDH dan Padepokan Bumi Ageung Saketi (PBAS) untuk memastikan Gunung Manglayang tetap menjadi pelindung bagi masyarakat sekitarnya.

Waktu pelaksanaan di lokasi spesifik di Gunung Manglayang untuk prosesi secara langsung

ruatan 4

Ruwatan Ageung Gunung Manglayang dilaksanakan setahun sekali pada bulan Pebruari di kawasan wisata Batu Kuda, Kampung Cikoneng, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Pada tahun 2026, prosesi ini diselenggarakan pada 2 Pebruari untuk membersihkan diri dan alam.

Prosesi Ruwatan Ageung Gunung Manglayang tahun 2026 secara spesifik dilaksanakan dengan detail sebagai berikut:

Waktu Pelaksanaan:
Senin, 2 Pebruari 2026, dimulai 07.00 hingga 12.00 WIB.

Lokasi Spesifik: Wanawisata Batu Kuda, yang terletak di kaki Gunung Manglayang, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Penyelenggara: Kegiatan ini umumnya diprakarsai oleh Padepokan Bumi Ageung Saketi bekerja sama dengan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan)
Cibiru Wetan.

Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, doa keselamatan (tolak bala), dan upaya menjaga harmoni ekosistem alam di kawasan Gunung Manglayang.

Sekian Terimakasih
Salam Budaya Lokal Jati Diri Bangsa…

Bandung, 03 Pebruari 2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *