Dialog Tulisan Dody dan Bli Komang Kusuma Adi:
Assalamualaikum WrWb.
Om Swastyastu Pun Tabe Sampurasun…
Bli…punten maaf, mo tanya…
Makna Panca Maya Kosha ini Tatwa nya, etika, estetika dan teknik nya dalam Seni Gamelan Bali di Pulau Dewata bagaimana?
Matur Suksma..
Om Namahshiwaya Swaha…Rahayu

Panca Maya Kosha: adalah konsep filosofi yoga Hindu tentang lima lapisan (selubung) spiritual yang membungkus jiwa (Atman), dari yang paling kasar (fisik) hingga yang paling halus (kebahagiaan), yaitu Annamaya Kosha (makanan), Pranamaya Kosha (energi vital), Manomaya Kosha (pikiran), Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan), yang membantu manusia memahami diri dan mencapai kesadaran spiritual lebih tinggi.
Lima lapisan Panca Maya Kosha:
1. Annamaya Kosha: Lapisan terluar, tubuh fisik yang terbentuk dari sari makanan (anna).
2. Pranamaya Kosha: Lapisan energi vital (prana) yang menggerakkan tubuh, terdiri dari napas dan jaringan energi (nadi, cakra).
3. Manomaya Kosha: Lapisan pikiran biasa (manah) yang terkait dengan emosi, persepsi, dan perasaan.
4. Vijnanamaya Kosha: Lapisan kebijaksanaan atau intelek yang lebih halus, tempat kesadaran dan pemahaman terjadi.
5. Anandamaya Kosha: Lapisan terdalam dan paling halus, selubung kebahagiaan murni atau ekstasi spiritual.
Fungsi dan Tujuan:
Sebagai model untuk memahami diri secara komprehensif, dari fisik hingga spiritual.
Membantu mengatasi ketidakseimbangan fisik, mental, dan energi.
Memberikan jalan untuk kesempurnaan dan pembebasan spiritual melalui keselarasan kelima lapisan ini.
Penjelasan Essensi kontekstual dari
Bli Komang Kusuma Adi:
Walaikum Salam WrWb.
Om Swastyastu, Rahayu Rampes…
Mungkin pas nanti ketemu di kampus harus kita bahas lagi di depan Mahasiswa ISBI Bandung
Essensi Mantra I Panca Sembah adalah “Berhenti berpikir dengan otak dan dalil logika, tetapi berkoneksi melalui Atma menuju keheningan”.
Lanjutan,,,,,,
Mantra II
Om Adityasya param jyoti, Rakta tejo namo’stute, Sweta pankaja madyasthe, Bhaskara ya namo stute >>> Hyang Widhi, bagaikan Sang Hyang Surya yang bersinar amat terang. Sinar merah hormat pada-Mu, Berada (berdiri) di-tengah² teratai berbunga putih, Pembuat/penyebab sinar/cahaya hormat pada-Mu.
Menurut Orkuras,,,, Matahari itu bukanlah Dewa Surya atau sebaliknya, Dewa Surya itu bukanlah Matahari??? Matahari hanyalah planet sebagai bagian dari tata surya. Sedangkan, Sang Hyang Surya adalah dewanya matahari dan bukan mataharinya. Sang Hyang Surya (Saura) pemberi kehidupan atas alam ini. Simbol pemberi kehidupan adalah matahari.
Biasanya yang menjadi polemik adalah sarana (bunga) sembahyang pada Mantra II ini. Klo ditinjau dari sastra mantranya, maka Raktelah atau bunga warna Merahlah yang dipakai >>> Rakte Teja. Sementara, ada yang memaknai dengan bunga warna Sweta atau Putih. Yang berwarna putih itu bunga dari “Pankaj* atau tanaman yang hidup di lumpur atau Teratai. Ada juga yang memaknai, bahwa boleh memakai bunga lain, silakan …. (matahari memiliki 7 sinar/kereta yang ditarik 7 ekor kuda). Sementara, pada Bhagawadgita menyatakan, bahwa persembahan itu ada 4 yaitu Patram, Puspam, Palam dan Toyam. Tidak ada disebutkan Puspam warna Merah, Putih dstnya. Ketentuan bunga yang boleh/tidak boleh dipakai, juga telah diatur dalam Kitab Agastyaparwa, Lontar Kunti Yadnya, Lontar Aji Yanantaka dan Lontar Siwagama. Jadi,,,, sebaiknya tidak perlu mempertentangkan warna bunga yang dipakai, asalkan didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang dalam (Bhagawadgita IX.26) serta Katulusan Pikayunan Suci (Lontar Yajna Prakerti).
Sikap sembahyangnyapun berbeda dengan Mantra I. Ujung jari² tangan berada di atas diantara kening (Mahasabha VI tahun 1991). Kenapa??? Di sini yang disembah adalah Sang Hyang Surya, bukan Hyang Widhinya/Brahman.
Jadi,,,, pada Mantra II ini memakai sarana bunga. Asal jangan pakai Bunga Desa atau Kampung. Boleh tanpa bunga??? Selama status masih menjadi umat yang menganut agama, tetap …. Jawaban Boleh, bila sudah paham dan melampui agama.
Salam waras.
Essensi Mantra II Panca Sembah adalah “Berhenti berpolemik tentang warna bunga, tetapi gunakan ketulusan, keindahan, keharuman dan kesucian hati”.
Lanjutan,,,,,,
Mantra III
Om, Namo Dewa Adisthanaya, Sarwa Wyapi Wai Siwaya, Padmasana Eka Prasthitaya, Ardenareswari Namo Namah >>> Hyang Widhi, Hormat pada Dewa yang berada pada Tempat yang Utama/Luhur, Sesungguhnya Siwa itu berada di-mana² (meresap di segala hal), Bersthana di singgasana yang tunggal dengan sikap Padmasana, Ardenareswari (Siwa-Parwati) hormat setinggi-tingginya.
Menurut Orkuras,,,, pada Mantra III ini, sangat jelas ditujukan kepada Dewa Siwa (Siwaya dan Ardenareswari) sebagai manifestasi dari Brahman (Siwa Sidhanta). Arde (setengah), Nari (perempuan), Iswara (Dewa Iswara/laki) >>> ½ laki dan perempuan (laki sebelah kanan dan perempuan sebelah kiri).
Hal ini mengingatkan Orkuras dengan Lontar² yang berkaitan dengan Sanggah Kamulan/Rong Tiga, seperti;
Lontar Usana Dewa:
“ring kamulan ngaran ida sang hyang atma, ring kamulan tengen bapa ngaran sang paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang sivatma, ring kamulan tengah ngaran raganya, tu brahma dadi meme bapa, meraga sang hyang tuduh…”
Lontar Gong Wesi:
“… ngaran ira sang atma, ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa, ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nungalang raga…”
Lontar Purwa Bhumi Kamulan:
“riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring sanggah kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya ngun…”. Bila disimpulkan antara Mantra III Panca Sembah dan juga lontar² tersebut di atas, maka yang bersthana di Sanggah Kamulan/Rong Tiga adalah Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa). So,,,,,, sudahi saja polemik tentang Atmane Pekak Anu, Dadong Anu, Bapan Anu,,,, sane melinggih di Sanggah Kamulan/Rong Tiga. Atma nenten meduwe rupa lan nami (Acintya/tak terpikirkan).
Namun, mungkin perlu diingat bahwa Mantra III Panca Sembah dapat ditambahkan/dilanjutkan mantra² lainnya yang disesuaikan dengan hari² raya tertentu.
Adapun sarana yang digunakan, seringkali kita memakai Kwangen. Kwangen sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti Wangi atau Harum. Orkuras belum menemukan dasar penggunaan kwangen secara spesifik pada lontar². Lontar Sri Jaya Kesunu hanya ada menyebutkan “Canang Lunga Wangi dan Burat Wangi”. Tentu ini berbeda dengan kwangen itu sendiri.
Menurut Orkuras, bahwa yang disembah adalah Dewa Siwa/aspek Brahman (Mantra III Panca Sembah) dan atau para dewa lainnya yang disesuaikan dengan hari² raya tertentu. Bukan Sang Hyang Widhi atau Brahman. Oleh karenanya, sikap tangan sesuai dengan Mantra II Panca Sembah. Manakala tidak membawa kwangen atau kwangen habis, maka penggunaan bunga juga tidak masalah (Bhagawadgita IX.26). Namun, perlu diingatkan, bahwa janganlah mengambil kwangen punya teman, karena dia juga barusan mengambil kwangen punya teman di sebelahnya.
Essensi Mantra III Panca Sembah adalah “Berhenti berpolemik tentang Siwa, Wisnu, Kali (Durga), Ganesha dan Surya (Saura), semuanya menuju Sang Hyang Widhi/ Brahman/Sang Hyang Ekataya/Sang Hyang Licin/Sanghyang Tunggal/Sang Hyang Paramakawi/Sang Hyang Tuduh”. “Kita pasti akan menuju ke sana, yakinilah itu,,,, seperti kita semua meyakini Brahman”.
Essensi Mantra IV Panca Sembah adalah “Janganlah ragu dan bimbang dengan omongan orang (patung bisa apa???) >>> Sarvaṃ Khalvidaṃ Brahman. Jalan awal menuju tahap kesadaran selanjutnya. Segala anugerah-Nya merupakan yang terbaik dan sangat indah”.
Lanjutan,,,,,,
Mantra V
Om, Dewa Suksma Paramacintya Ya Namah Swaha >>> Hyang Widhi, Dewa yang Halus (Gaib) Tak Terpikirkan dan Tertinggi Homat, Semoga terjadi demikian.
Menurut Orkuras,,, pada Mantra V Panca Sembah, kiranya terjadi salah pemaknaan. Kata Suksma ini dimaknai sebagai ucapan Terima Kasih (Suksma= Bahasa Bali). Sejak kapan ya, bahasa Bali bisa masuk menjadi Mantra yang berbahasa Sanskerta??? Setahu Orkuras, bila ada mantra berbahasa Bali, disebut Sesontengan. Dewa Suksma,,,, kata Suksma itu bermakna Halus atau Gaib. Mungkin masih ingat dengan Tri Sarira yaitu Sthula Sarida/Badan Kasar, Suksma Sarira/Badan Halus dan Antakarana Sarira/Badan Penyebab.
Jadi,,, Dewa Suksma itu dewa yang halus atau goib. Siapa yang dimaksud dengan Dewa Suksma??? Menurut Orkuras, yang dimaksud Dewa Suksma itu adalah Dewa Siwa (Siwa Sidhanta). Dalam Siwa Sidhanta, yang diagungkan (Dewata Nawa Sangha) adalah Dewa Siwa yang berada di tengah². Dewa Siwa sebagai manifestasi Hyang Widhi/Brahman yang tak terpikirkan dan tertinggi (Paramacintya). Jadi,,,, pada hakekatnya, Mantra V Panca Sembah adalah menyembah Hyang Widhi/Brahman. Posisi tangan kembali seperti pada Mantra I Panca Sembah. Kita menyembah diawal dengan Sembah Puyung (Kosong) dan diakhiri dengan Sembah Puyung (Kosong) kembali. Bukan menyembah Kosong yang melompong ya, tapi Kosong yang Maisi >>> Brahman. Brahman disembah tanpa bunga, sedangkan para Dewa disembah memakai bunga/kwangen. Nyen ngelah gumine???.
Orkuras memang sédéng,,,, Begini … klo di-pikir², kita kurangajar sebenarnya kepada Hyang Widhi/Brahman. Pada waktu mantra I Panca Sembah yaitu Sembah Puyung, sesungguhnya kita menipu Brahman, se-olah² tidak ada apa² yang mesti kita persembahkan. Sekuntum bunga kek atau bunga akebes kek. Sama sekali tidak ada. Padahal semuanya diciptakan oleh Brahman. Brahman tetap sabar. Namun, pada mantra II, III, IV, kita persembahkan bunga atau kwangen yang miik² kepada para Dewa. Bahkan, sampai berpolemik harus memakai bunga merah atau putih atau kuning,,, Sedangkan, kembali mantra V untuk menyembah Brahman, eehhh … dikasih tangan kosong lagi. Itupun Brahman masih tetap sabar. Sepertinya kita, se-olah² nguluk² anak kecil dengan menawarkan permen, tapi malah orang lain yang diberikan. Brahman marah, tidaaaakk,,,, Brahman maha pengasih dan penyayang.
Menurut Orkuras,,,, menyembah dengan tangan kosong itu >>> menembus 6 loka dan berakhir di Saptaloka (Sunia). Sedangkan menyembah memakai bunga atau menghormati memakai materi dunia, meliputi 6 loka lainnya. Contoh; menghormati Bhuta Kala dengan memberikan segehan pada alam Bhur. Demikian seterusnya ke atas, memakai bunga. Itu semua benda atau materi dunia (maya). Alam Bhur sampai dengan Alam Maha sesungguhnya sudah terkontaminasi oleh maya dengan kadar yang ber-beda². Dalam Lontar Bhagawan Garga dikatakan, bahwa Bhagawan Bergu diciptakan (hasil yoganya Sang Hyang Ekataya), menempati Alam Maha (Mahaloka) yang sudah terkena maya. Bagaimana dengan kalimat; Sarwam Khalvidaṃ Brahman??? Makna di sini adalah Kemahakuasaan Brahman itu ada di mana², karena semuanya berasal dari Brahman.
Essensi Mantra V Panca Sembah adalah “Kembali berhenti berpikir dengan otak dan dalil logika serta sadar bahwa Sembah Puyung itu terkoneksi melalui Atma menuju keheningan/Kosong Maisi (Satyaloka).”
Dalam perspektif Paca Maya Kosa, praktik gamelan Bali dapat dipahami sebagai laku musikal berlapis: penabuh hadir terlebih dahulu melalui Annamaya Kosa, yakni tubuh jasmani dengan segala kelengkapan busana dan ornamen yang menata sikap, disiplin, dan kesiapan fisik; dari sana bergerak ke Pranamaya Kosa, ketika tenaga hidup diolah secara sadar melalui dinamika ngees dan nguncab, bukan sekadar keras–halus, tetapi sebagai pengaturan aliran energi; lapisan berikutnya, Manomaya Kosa, tampak dalam tanggung jawab bahasa musikal antar instrumen, ketika setiap penabuh mendengar, merespons, dan menjaga dialog bunyi dalam satu barungan; kesadaran ini kemudian diperdalam pada Vijnanamaya Kosa, saat rasa, struktur gending, dan keputusan musikal diolah secara reflektif sehingga permainan tidak hanya tepat, tetapi bermakna; dan ketika seluruh lapisan tersebut bekerja selaras, muncullah Anandamaya Kosa sebagai taksu, yaitu pancaran daya hidup dan kebahagiaan estetik yang lahir bukan dari satu individu, melainkan dari kesatuan tubuh, tenaga, pikiran, rasa, dan kesadaran kolektif dalam gamelan.
Cukup Sekian Terimakasih
Salam Budaya Lokal Jati Diri Bangsa…
Bandung, 31.Januari.2026








