KELOMPOK TEATER PAYUNG HITAM

saini 1000

Zikir Bumi karya & sutradara Rachman Sabur. dok TPH

Makna suatu hal sangat tergantung kepada latar belakang (perspektif) dari mana hal itu dipandang. Teater Payung Hitam sebagai sebuah kelompok teater juga memiliki beragam makna, sesuai dengan perspektif yang digunakan. Beberapa perspektif di dalam memandang kelompok teater Payung Hitam ini dan berharap dapat menemukan makna dari kehadiran teater Payung Hitam di dalam percaturan teater di Indonesia. 

Kelompok Teater Payung Hitam. 

Teater Payung Hitam telah menjadi salah satu kelompok teater yang terpandang. Itu berkat sejumlah pementasannya. Yang merupakan afirmasi kehadirannya di dunia perteateran Indonesia(bahkan di luar negeri). Pementasan-pementasannya merupakan pernyataan diri. “Inilah saya. Inilah zaman saya”. Untuk memahami hal itu, berpaling kepada Rachman Sabur, pemimpin dan motor dari teater Payung Hitam. Melalui pemahaman terhadap pribadi Rachman Sabur kiranya kita berharap dapat memahami teater Payung Hitam. 

Rachman Sabur adalah penyair, aktor, dan sutradara. Walaupun belakangan tampaknya ia lebih memusatkan diri pada kegiatan penyutradaraan, kepenyairannya sebenarnya penting. Terdapat semacam garis merah antara sajak-sajak yang ditulisnya dimasa pertumbuhannya sebagai Seniman dengan penyutradaraannya dewasa ini. Sebagai penyair lirik, yang lebih memilih intensitas daripada ekstensi tas, di dalam penyutradaraannya. Rachman Sabur menghindarkan penggambaran kata-kata. Kecenderungan ini makin lama makin kuat dan kata-kata diganti dengan citra dan lambang visual-auditif dan kinetik. Pada adaptasinya terhadap Kaspar-lah kecenderungan ini mencapai efektivitasnya yang paling tinggi dan sejak itu teater Payung Hitam memiliki brand image-nya. 

Idiom teater Payung Hitam yang dapat dikatakan lebih seimbang secara proporsional antara lambang-lambang verbal, audio, visual dan kinetik itu, tampaknya cocok dan komunikatif bagi generasi yang memang hidup di masa teknologi informatika sangat maju. Ini adalah satu lagi di antara keberhasilan teater Payung Hitam. Namun sifat lirikal dari karya-karya teater Payung Hitam tidak mungkin terungkap seandainya para aktornya tidak terlatih dengan baik. Justru ketekunan berlatih itulah yang memungkinkan hadirnya keaktoran yang memadai pada kelompok teater Payung Hitam.

Kemungkinan ini terbuka karena Rachman Sabur sendiri adalah seorang aktor yang kuat. Salah seorang di antara yang paling kuat di Bandung. Ini pula di antaranya berkat pengalamannya di bawah arahan sutradara seperti Jorg Friedrich dari Jerman dan Suyatna Anirun alm dari Studi klub Teater Bandung, tempat Rachman Sabur mendapat tempaan sebagai Seniman. 

Sebagai sutradara, Rachman Saburpun mengambil keuntungan dari pengalamannya menyutradarai berbagai gaya sastra lakon dari pengarang-pengarang lain. Belakangan ia menulis lakon sendiri yang membuka peluang baginya untuk menemukan idiomnya sendiri, yaitu idiom teater Payung Hitam. 

saini 1
Relief Airmata karya & sutradara Rachman Sabur. dok TPH

Idiom Rachman Sabur dan teater Payung Hitam, betapapun khas dan fasih nya, tidak akan banyak artinya kalau tidak dipergunakan untuk mengungkapkan pergulatan Rachman Sabur sendiri dengan masalah-masalah bangsa dan zamannya. Di sini pula letak kekuatan kelompok teater Payung Hitam. Rachman Sabur sebagai pemimpinnya, sangat terlibat dengan masalah sosial, politik, lingkungan, dan kemanusiaan. Keterlibatannya walaupun sebatas intelektual-emosional sebagai seniman,menghindarkan Rachman Sabur dari sindrom narcisisme yang diderita banyak Seniman dan menggagalkan mereka untuk berkembang. Rachman Sabur dapat membebaskan diri dari egosentrismenya dalam menceburkan diri ke tengah-tengah arus pengalaman bangsanya. Berkat keterlibatannya itu dan dengan idiom-idiom yang segar, teater Payung Hitam mampu mengkomunikasikan kesetiaan sebagian pengalaman bangsa kita, khususnya di zaman Orde Baru.

Kendatipun begitu hendaknya kita tidak menggolongkan teater Payung Hitam ke dalam teater politik seperti jenis teater Lembaga Kebudayaan Rakyat(LEKRA) di zaman Orde Lama. Teater LEKRA memiliki misi untuk memenangkan ideologi tertentu dan merebut kekuasaan. Oleh karena itu pentas LEKRA sering memberikan kesan sebagai dramatisasi ideologi atau propaganda dramatis. 

Teater Payung Hitam, walaupun bernuansa politik sangat kuat, adalah teater. Ia adalah afirmasi pribadi Seniman dihadapan zamannya., yang kebetulan dirongrong oleh berbagai masalah yang nuansa politiknya sangat kuat 

Selama seorang seniman atau kelompok seni masih kreatif, sebenarnya kita tidak dapat memberi kata akhir bagi prestasinya. Sampai sekarang masih banyak menghasilkan karya-karya yang berarti, penilaian kita tetap bersifat sementara. Teater Payung Hitam masih terbuka pada perubahan, karena ia berhadapan dengan keadaan yang berubah-rubah, dalam tempo yang tinggi pula. Masyarakat berubah, kepedulian mungkin pula bergeser. Sedang idiom-idiom harus disesuaikan dengan baik masalah yang kita renungkan. Dalam keadaan seperti itulah teater Payung Hitam berada dewasa ini. Ia tetap berada di ambang masa depan, di ambang perubahan.


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “KELOMPOK TEATER PAYUNG HITAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *