IRONI MASA DEPAN JURUSAN TEATER ISI PADANGPANJANG DAN KOMUNITAS TEATER DI SUMATERA BARAT,  INKUBASI ATAU HIBERNASI ?

tamat3 1000

Pertunjukan “Nata Sukma” Karya & Sutradara; Tatang R. Macan  Pada Pekan Seni Nan Tumpah, di Fabriek Padang; 27 Agustus 2025, Dokumntasi Tatang R. Macan.

tamat 1
Pertunjukan “Pintu” Karya dan Sutradara; Yusril Katil Dan Juruasan Teater ISI Padang Panjang pada GALA TEATER,2025 Di Teater Arena Mursal Esten; 11 Oktober 2025 Dokumntasi Tatang R. Macan

Minangkabau dahulu (dan kini Sumatera Barat sebagai warisan kolonial), secara historis kerap diposisikan sebagai salah satu “tanah subur” bagi perkembangan intelektualitas. Bahkan Minangkabau dahulu banyak melahirkan tokoh pemikir, salah satunya pemikiran dalam bidang seni pertunjukan (teater) di Indonesia. Sebut saja Asrul Sani tokoh awal realisme Indonesia, setelah masa hijrah ke Jakarta, hingga kini ia dikenang sebagai motor penggeraknya ATNI (IKJ sekarang), menjadi pelopor perkembangan teater realis setingkat akademis bersama Usmar Ismail, dan D. Djaja Kusumah banyak dirujuk dalam kertas kerja teater realis yang terukur. Pemikirannya ini, kemudian telah menjadi inspirasi berdirinya Jurusan Teater di perguruan tinggi seni di Bandung dan Yogyakarta. Kontribusi pemikirannya kemudian dijadikan stimulus juga oleh akademisi seni dan budayawan Minangkabau dengan kehadiran Jurusan Teater di ASKI/STSI/ISI Padang Panjang sejak tahun 1997 hingga sekarang. Tradisi Minangkabau yang dialektis—ditopang oleh budaya lisan, musyawarah, dan ketegangan antara adat, agama, serta modernitas—telah melahirkan sejumlah pemikir dan seniman teater yang bukan hanya terampil mengolah panggung, tetapi juga kritis dalam membaca realitas sosial. Namun, dalam rentang waktu 2021–2025, geliat konseptual dan pemikiran di Jurusan Teater ISI Padangpanjang tersebut justru menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah teater di Sumatera Barat hari ini dan ke depan tengah berada dalam fase inkubasi menuju ledakan kreatif baru, atau sebaliknya mengalami hibernasi panjang yang berisiko mematikan daya hidupnya? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan, ketika dinamika institusi pendidikan seni di Indonesia khususnya Jurusan Teater dan komunitas teater lokal menunjukkan gejala kontradiktif antara ketersediaan sumber daya, animo mahasiswa yang ambil minat teater makin menurun tiap tahunnya, fasilitas yang tidak tersedia (missal; kasus renovasi Gedung Pertunjukan  Taman Budaya Sumatera Barat yang mangkrak hampir 15 tahun, Teater Arena Mursal Esten di ISI Padang Panjang yang tidak kunjung dibenahi dengan segala kerusaknanya), dan stagnasi produksi karya bermutu baik dari tingkat akademisi atau pun komunitas sudah tidak tampak.

Ironi Laboratorium di Tengah Krisis Regenerasi

Kegelisahan tersebut menemukan titik krusialnya pada Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, khususnya Jurusan Teater masa sekarang. Sebagai institusi pendidikan seni tertua di Sumatera, ISI Padangpanjang memegang peran strategis sebagai “laboratorium” penciptaan dan pengembangan estetika teater regional. Secara material, institusi ini relatif mapan: sebagian fasilitas panggung modern tersedia (GP. Hoerijah Adam), tenaga pendidik hampir banyak memiliki latar akademik dan praktik yang memadai setingkat DR, serta agenda rutin per-dua tahunan seperti Pekan Apresiasi Teater (PAT) yang telah diselenggarakan hingga PAT-7 tahun 2024 (secara eksplisit mengusung tema reflektif “Teater Pasca Inkubasi”).

Ironisnya, terutama dalam periode 2022–2025, mungkin juga kedepannya, Jurusan Teater ISI Padangpanjang justru menghadapi penurunan signifikan jumlah peminat mahasiswa. Fenomena ini tidak dapat dibaca semata sebagai persoalan administratif atau demografis, melainkan sebagai indikasi krisis regenerasi yang lebih struktural. Minat generasi muda terhadap teater melemah seiring dengan merosotnya daya tarik institusi sebagai pusat produksi gagasan dan karya yang berwibawa. Hal itu tidak pernah terolah dalam pemahaman tata kelola seni, dalam lingkup akademis, yang seharusnya mampu melahirkan pengelola manajemen produksi pertunjukan yang bisa menjadi bagian dari pembelajaran “wira usaha seni pertunjukan”.

Kondisi tersebut semakin telanjang ketika ajang berskala internasional seperti Gala Teater 2025 digelar. Perhelatan ini cukup elitis menghadirkan karya-karya apresiasi dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA), pertunjukan kolaborasi Jurusan Teater ISI Padangpanjang dengan UPSI dan ASWARA, serta sejumlah nomor pertunjukan seperti The Ballad of Sumarah Sutradara; Enrico Alamo, Migrasi Perempuan karya dan sutradara; Wen Hendri, Pintu karya dan sutradara; Yusril Katil, serta Terbuang Dalam Waktu, adaptasi dari Nyanyian Angsa karya Anton Chekhov, disutradarai oleh Ravi Razak.

tanat 2 1000
Photo bersama Para Pendukung Pasca-Pertunjukan Kolaborasi UPSI, ASWARA, Dan Juruasan Teater ISI Padang Panjang pada GALA TEATER Di Teater Arena Mursal Esten; 12 Oktober 2025 Dokumntasi Tatang R. Macan.

Namun, alih-alih menjadi panggung afirmasi atas vitalitas dan kepemimpinan estetika teater lokal, perhelatan ini justru memperlihatkan keterbatasan produksi karya baru yang lahir dari rahim institusi pendidikan itu sendiri. Minimnya representasi karya segar yang mampu menembus standar kurasi. Menyingkap persoalan yang lebih mendasar, yakni terjadinya kemacetan proses kreatif di tengah kelimpahan hibah seni. Kekosongan untuk mencari karya yang berdaya estetis itu, pada akhirnya untuk pengisi materi pada GALA TEATER’2025, melahirkan kompromi artistik yang problematis, sekaligus memunculkan pertanyaan kritis: mengapa sebuah institusi dengan fasilitas memadai, tenaga pengajar kompeten, dan jaringan internasional justru mengalami kegagapan dalam melahirkan karya yang kuat secara estetis dan konseptual?

Habitus Komunitas: Antara Adaptasi dan Kemalasan

Di luar pagar kampus, geliat komunitas teater di Padang, Pariaman, Padang Panjang hingga Payakumbuh, kerap menggunakan istilah “masa inkubasi” untuk menjelaskan minimnya produksi pertunjukan. Padahal, dinamika adaptasi masih dapat dilacak melalui program berkelanjutan seperti Alek Teater yang diselenggarakan rutin oleh Taman Budaya Sumatera Barat setiap tahun (meskipun kontribusi nyatanya tidak terlihat), serta konsistensi komunitas seperti Teater Hitam Putih, Indonesian Performance Syndicate (IPS), Teater Sakata, Komunitas Seni Kuplet, dan Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT). Selain itu, muncul pula komunitas baharu dan beberapa unit kegiatan mahasiswa seperti; Teater Balai, Komunitas Payung Sumatera, Komunitas Sembilan Ruang, serta berbagai UKM seni teater pada perguruan tinggi di Sumbar. Inisiatif mandiri kebetulan ada spirit hibah anggaran Indonesiana—mulai dari Pekan Seni Nan Tumpah di Fabriek Padang hingga Indonesia Performance Camp (IPC) 2025—menunjukkan upaya generasi muda untuk mengaitkan metodologi lokal dengan wacana global. Mereka telah berusaha membuat kehadiran panggung alternative yang bersifat swastaan.

Namun demikian, istilah “inkubasi” sering kali bergeser menjadi eufemisme bagi hibernasi kreatif. Aktivitas komunitas cenderung muncul hanya ketika ada stimulus eksternal berupa hibah seni, proyek pemerintah, atau undangan festival. Ketergantungan ini melahirkan kecenderungan estetika instan yang dapat disebut sebagai fenomena “teater rasa tari”: pertunjukan yang mengandalkan kolase visual dan komposisi gerak eksotis, tetapi miskin dramaturgi dan refleksi konseptual. Jalan pintas ini menjadi bentuk pelarian dari disiplin riset keaktoran, penggalian teks, dan kerja dramaturgis serta kertas kerja Sutradra yang seharusnya menjadi fondasi teater.

Krisis Kredo dan Standar Artistik

tamat4
Pertunjukan “Perburuan” adaptasi dari lakon “Perguguruan” Karya Wisran Hadi Sutradara; Wendy HS, Indonesian Performance Syndicate (IPS), Bersama Indonesia Performance Camp (IPC) 2025 Di Fabriek Padang; 10 November 2025, Dokumntasi Tatang R. Macan.                                                           

Persoalan mendasar lainnya adalah kelesuan dalam merumuskan kredo kesenimanan yang jelas. Banyak kelompok dan individu tampak enggan menetapkan standar metodologi yang ketat, seolah disiplin artistik justru menjadi beban. Padahal, teater tanpa kredo hanya akan menjelma sebagai tontonan yang “indah dipandang namun tidak mengganggu pikiran”. Dalam konteks Minangkabau, teater seharusnya berfungsi sebagai medium yang mempertanyakan realitas sosial dan mengolah batin penonton secara mendalam. Ketika aspek visual dijadikan satu-satunya panglima, aktor tereduksi menjadi sekadar elemen dekoratif. Kehilangan kedalaman ini membuat banyak pementasan terjebak pada kulit luar estetika, tanpa “nyawa” yang mampu menggetarkan ruang pertunjukan. Padahal, kekuatan teater Sumatera Barat justru terletak pada kemampuan menyinergikan teks, tubuh, bunyi, dan simbol secara simultan dalam satu kesatuan makna.

Menuju Titik Balik: Menggugat Peran Laboratorium

Jika Sumatera Barat tidak ingin kehilangan identitas teaternya, fase hibernasi ini harus segera diakhiri. Sebagai contoh, Penurunan minat mahasiswa Jurusan Teater di ISI Padangpanjang merupakan sinyal bahwa marwah teater hanya dapat dipulihkan melalui kualitas karya yang tak terbantahkan. Panggung tidak semestinya diisi oleh karya yang sekadar memenuhi syarat administratif, melainkan harus menjadi medan pembuktian kredo artistik dan keberanian estetik. Dinamika komunitas muda—dari UKM kampus hingga kolektif independen—seharusnya dipandang sebagai energi baru. Namun energi tersebut memerlukan penyiraman metodologi yang sistematis dari lembaga pendidikan seperti para inventor di Jurusan Teater. Jurusan Teater ISI Padangpanjang perlu kembali memosisikan diri sebagai laboratorium yang “panas”: ruang di mana teknik keaktoran, artistic, dan penyutradaraan diuji secara ketat, naskah dibedah secara radikal, dan spektakel diciptakan melalui kecerdasan multidisiplin, bukan sekadar efek visual dan ingin cepat menjadi “bintang”.

Memilih Jalan Pulang ke dalam habitus Teater Yang Idealis

tamat5
Pertunjukan “The Ballad of Sumarah” Sutradara; Enrico Alamo Dan Juruasan Teater ISI Padang Panjang pada GALA TEATER,2025 Di Teater Arena Mursal Esten; 11 Oktober 2025. Dokumntasi Enrico Alamo.

Inkubasi menuntut kerja keras, riset mendalam, serta keberanian untuk dievaluasi secara kritis. Sebaliknya, hibernasi hanyalah penundaan menuju kematian kreatif. Masa depan teater Sumatera Barat tidak ditentukan oleh kemegahan gedung atau banyaknya festival, melainkan oleh kembalinya gairah riset di kantong-kantong komunitas dan laboratorium kampus. Sutradara muda dan aktor dari Jurusan Teater dan UKM, hingga para senior di berbagai komunitas perlu bersinergi untuk meruntuhkan kemalasan kreatif. Hanya melalui kedisiplinan proses dan kedaulatan kredo artistik, teater Sumatera Barat dapat bangkit dari tidurnya dan kembali berfungsi sebagai kompas bagi seni pertunjukan Nusantara. Jika tidak, istilah “inkubasi” hanyalah judul indah bagi perpisahan panjang antara intelektualitas dan panggung pertunjukan.

Daftar Pustaka

Bandem, I Made. (2015). Pengembangan Seni Pertunjukan dalam Konteks Pendidikan Tinggi. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

Brook, Peter. (1968). The Empty Space. London: Penguin Books.

Kayam, Umar. (1981). Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

Navis, A. A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Press.

Schechner, Richard. (2006). Performance Studies: An Introduction. New York: Routledge.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *