TRANSENDENSI

jaeni 3

Airmata Air karya & sutradara Rachman sabur. dok TPH

Ketika memasuki dunia teater dan berkenalan dengan kelompok teater Payung Hitam, saya hanya sebagai apresiator dan pada tahun 1990 an pertama kali saya menyaksikan pertunjukan “Metateater” karya Rachman Sabur yang identik dengan militansi etos kerja kreatif teater Payung Hitam saat ini, sejak saat itulah saya merasakan kekuatan artistik teater Payung Hitam menuju kekuatan estetik teater modern Indonesia. 

jaeni 5
Genjer-Genjer / Lagu yang Dikuburkan karya & sutradara Rachman Sabur. dok. TPH

Saya berpikir, dari pengamatan saya selama ini terhadap dunia teater ada konsep primus inter pares bagi hampir seluruh kelompok teater di Indonesia, konsep ini mengharuskan pimpinan sebuah kelompok teater “kuat” segala-galanya. Kekalahan dan kelelahan seseorang sebagai primus inter pares dalam sebuah kelompok, tak terkecuali kelompok teater akan juga meruntuhkan kelompok tersebut. Ini sebuah pelajaran dari kehidupan budaya di dunia, maka untuk mengantisipasi kekurangan konsep primus inter pares dibutuhkan krkuatan daya “meregenerasi” (to regenerate). 

Kelompok teater memiliki daya “meregenerasi” tersebut, yang terbukti dengan usianya yang sudah menginjak 40 tahun lebih. Sulit bagi kelompok-kelompok teater untuk tetap konsisten dan eksis dengan produktivitas kekaryaan yang berkelanjutan. Dari waktu ke waktu berikutnya tetap berkarya. Perjalanan ini bisa kita lacak dari kebutuhan kerja seni kelonpok teater Payung Hitam, yang setidaknya satu karya pertunjukan dalam setahun, bahkan bisa lebih dari satu karya. “Mengagumkan”, Kira-kira demikian decak pujian yang harus dilontarkan kepada kelompok teater Payung Hitam.

jaeni 1
Mantra Tubuh karya & sutradara Rachman Sabur. dok. TPH

Yang lebih mengagumkan bagi saya, selain dari libido kekaryaan seni teater yang sangat produktif, yaitu perjalanan Rachman Sabur sendiri sebagai pendiri sekaligus manager kelompok teater Payung Hitam, sebagai sosok Seniman teater yang juga disibukan dengan profesinya sebagai akademisi teater. Saya mencatatkan adanya sebuah bentuk transformasi kesenimanan dalam diri Rachman Sabur yang fenomenal. Transformasi kesenimanannya sampai hari ini masih terus berlangsung laksana sebuah proses kehidupan dengan indikator karya-karya teaternya. Saya menyebut proses tersebut dengan “perjalanan fenomenologi menuju transendensi”. Istilah ini saya kutip dari sebuah tulisan tentang Ideas Pertaining To A Pure Phenomenology And To A Phenomenogical Philosophy(Husserl, 1982).Dalam Fenomenologi murni, seorang Alfred Schutz(1967) dalam Phenomenology Of The Social World, memberikan pemahaman atas tindakan, ucapan dan interaksi sebagai prasyarat bagi eksistensi sosial siapapun. Teater dalam perspektif ini menspesialisasikan pada bagaimana terbentuknya dunia keseharian manusia lewat kesadaran Inter subjektif melalui pertunjukan teater itu sendiri. Namun secara filosofis, sebuah peristiwa fenomenologi bisa terkait dengan bentuk-bentuk perilaku dan tindakan manusia yang dalam prosesnya melalui reduksi eidistis, fenomenologis, dan transendensi. 

Konsep-konsep fenomenologi yang saya sebutkan dapat kita lihat pada karya-karya teater yang disutradarai Rachman Sabur. Sejak berdirinya kelompok teater Payung Hitam, Rachman Sabur, betul-betul melakukan reduksi eidistis dengan membawakan karya-karya dramawan dunia maupun lokal Indonesia. Proses ini sesungguhnya dalam sebuah fenomenologi adalah proses membanding-bandingkan fenomena dengan meminjam naskah-naskah penulis drama. Sejak tahun 1990 an hingga awal tahun 2000 an kita bisa lihat kerja penyutradaraan Rachman Sabur, seperti : Para Penjudi, Inspektur Jendral, Mak Comblang, Lysistrata, Macbett, Menunggu Godot, Labyrinth, Antigone, Pembunuhan di Katedral, Deirdre, Pesta Pencuri, Orkes Madun, Darim Mencari Darim, Aduh, Dagdigdug, Aum, Bila Malam Bertambah Malam, Ben Go Tun, Ciung Wanara, Bebek-bebek, Nyanyian Angsa, Orang Kasar, Anak Bapak Kapak, Orang Asing, Kanon, Pinangan, Titik-Titik Hitam, Biduanita Botak, Pelayan, Kidung Malam Tahun Baru, Terorris, Siapa takut pada Virginia Wolf, Terdampar, Lawan Catur, Hanya Satu Kali, Kursi-Kursi, Pelajaran, Pantai Baile, Pacar, Nyanyian Angsa, Cermin dan lain-lain nya. Karya-karya dramawan dunia dan karya-karya dramawan Indonesia digelutinya secara intens dipenyutradaraan Rachman Sabur.

jaeni 2
Mantra Tubuh yang Runtuh karya & sutradara Rachman Sabur. dok. TPH

Perjalanan Rachman Sabur dan kelompok teater Payung Hitam sebagai sebuah fenomena tidak tersangkut pada proses reduksi eidtis yang berujung pada stagnisasi berkarya. Justru dari pengalaman proses sebelumnya, ia mendapatkan ke tahap proses fenomologis. Proses ini dimulai dari hasil reduksi eiditis yang ia alami, tepatnya pada tahun 1994 dengan mendekontruksi naskah Peter Handle melalui pertunjukan Kaspar. Dekontruksi bagi Rachman Sabur adalah “mengganti teks verbalitas dengan komposisi tubuh, erangan, lengkingan, desah nafas, menjahit dan menabraknya dengan berbagai benda kekerasan, kesakitan yang menantang bahaya, menyakiti diri secara garang dan riuh”. Sejak saat itu sebagai sosok fenomenologis, Rachman Sabur memomentumkan karya-karya sendiri. Karya-karya itu mewakili pengetahuannya, representasi dari pemahamannya tentang dunia, dan pikiran kritisnya terhadap sebentuk situasi negara, dunia yang menelikung ‘lingkungan” hidupnya. 

Perjalanan fenomenologis kelompok teater Payung Hitam ia tunjukkan dengan karya-karya yang mengisyaratkan genuinitas dan identitas estetik nya melalui aksi artistik teater. Karya-karya Rachman Sabur yang menunjukkan fenomena itu, antara lain : Senandung Adinda, Blackmoon(bersama Koos Hogeweg), Merah Bolong,Relief Airmata, Opera Karung Beras, Kata Kita Mati, Awas-Awas, Anzing, TITUS Pohaci, DOK Dan Orang Mati, Bersama Tengkorak, Airmata Air, Etalase Tubuh Yang Sakit, Ritus topeng Ritus, Dunia Tony, Biografi Bunga, Zikiran Bumi, S. O. S, Tiang 1/2 Tiang, O, Tubuh Tanah Air, Bangkai Bingkai, Requim Antigone, Puisi Tubuh Yang Runtuh, Tanah-Batu-Air, C 19,Genjer-Genjer(Lagu Yang Dikuburkan), Ayam Kampus, Membaca Tanda-Tanda, Masbret, Masbro, Max Havelaar Dan Para Petani, Sangkuring, Cak Dan Pohaci, Kuda Lumping Urban, Perahu Noah, Blackout Munir, Margin, Hantu Plastik, Semua Sakit Juga, Teater Musik Kaleng, Tubuhku Ingin Menjelma Padi Merunduk, Palsu, adalah genuinitas karya teaternya. Rachman Sabur dan kelompok Teater Payung Hitam dapat dibaca sebagai sosok fenomenal. Situasi demikian mengantarkannya membawa pertunjukan ke Asia, Eropa, Amerika, hingga Audtralia. Sampai hari ini, spirit fenomenologis teater Payung Hitam dan Rachman Sabur masih tetap memancarkan auranya.

jaeni 4
Merah Bolong karya & sutradara Rachman Sabur. dok. TPH

Pancaran aura perjalanan fenomenologis teater Payung Hitam dan sosok Rachman Sabur mungkin akan terus diuji oleh ruang dan waktu hingga menunjukkan transformasi kesenimanan yang transenden. Perjalanan transformasi kesenimanan ini pada gilirannya sosok Seniman meyakini keindahan dalam kesejatian. Tahap transendensi pada pengalaman keindahan seni oleh individu merupakan sebuah fenomena keindahan sejati yang terwujud jika terhubung dengan yang lain di luar diri, namun tetap dalam sebuah kesadaran. Praktik-praktik seni termasuk juga praktik-praktik teater yang masih sebatas hubungan dengan alam fisik dan dunia fana, diharapkan praktik-praktik tersebut menyentuh tahap transenden.

Lalu bagaimana dengan Rachman Sabur dan kelompok teater Payung Hitam? Kiranya ulasan sebelumnya menunjukkan jawaban, bahwa transformasi fenomenologi menuju transendensi kesenimanan dan seluruh kekaryaannya akan memungkinkan dapat ditempuh dengan syarat konsisten dan eksisten. Syarat tersebut dapat menjadi keyakinan dalam melakukan praktik-praktik teater untuk menuju kesejatian keindahan. Jika kesejatian keindahan itu didapatkan, mungkin saja akan mengubah perilaku, ucap, laki, dan tindakan seseorang(seniman) baik dalam karya-karya dunia seni maupun dalam dunia kehidupan sehari-hari. 

Semoga tulisan ini menjadi spirit bagi teater Payung Hitam dan Rachman Sabur untuk menuju keindahan sufistik, keindahan transenden.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *