TUBUH BUNYI

bazir 6

teater tubuh PostHaste karya & sutradara Rachman Sabur. aktor Nugraha Bazir Susanto DKK. Produksi Teater Payung Hitam. all dok.

Selama lebih dari 11 tahun melakukan proses kreatif bersama Rachman Sabur di teater payunghitam, saya membaca  terdapat dua gagasan konsep “ketubuhan” yang dieksplorasi. Dua gagasan ketubuhan tersebut, kami menyebutnya dengan istilah “tubuh distorsi” dan “tubuh natural”. Dua istilah ini merujuk pada ekspresi/visual tubuh yang dihadirkan pada pertunjukan-pertunjukan teater payunghitam. Tubuh yang melepaskan dari fungsi tradisinya. Kaki dilepaskan dari tugasnya sebagai alat untuk berjalan. Tangan dapat menjadi sebuah pohon yang kering. Leher dan kepala adalah sebatang besi. Bila tidak berlebihan, ini adalah proses introgasi terhadap tubuh. 

bazir 1

Fase yang tidak kurang terjadi selama 30 tahun ini melahirkan banyak karya-karya yang monumental, diantaranya : Kaspar(1994), Merah Bolong(1997, 2005,2013,2014), DOM, Genjer-GenjerPuisi Tubuh Yang Runtuh(2009, 2010), Kata Kita Mati(1999), dan beberapa karya lainnya. 

Gagasan ketubuhan selanjutnya yang coba dieksplorasi adalah bentuk-bentuk tubuh yang lebih natural, atau biasa kami menyebutnya sebagai ” tubuh natural”. Ini bisa dikatakan sebagai sebuah vaksin terhadap tubuh distorsi, dimana dalam hal ini tubuh coba dikembalikan kepada fitrahnya(walaupun tidak seutuhnya). Tidak ada pembesaran/penghancuran yang berlebihan terhadap tubuh. Tubuh diperlakukan selayaknya tubuh. Kaki untuk berjalan. Kepala bagian yang tak terpisahkan dari kesatuan tubuh. Di dalam kepala ada otak untuk berpikir, dan tangan dengan fungsi alamiahnya. Dengan kata lain, tubuh natural merupakan pengenalan ulang terhadap tubuh yang alami. Pencarian terhadap tubuh natural ini menghasilkan beberapa karya, diantaranya : “Makan-Makan” dan “Posthaste”, yang memperlakukan bunyi lebih sebagai pembangun suasana dramatik. Memberikan porsi penebalan terhadap kekuatan bunyibunyi. 

bazir 3

Bunyi dapat bersumber dari mana saja. Tubuh aktor, batu, lumpur, plastik, seng, besi, air, atau benda apapun yang dapat menghasilkan bunyi. Walaupun tetap mempertimbangkan komposisi, namun bukan dalam artian sebuah komposisi yang terbentuk secara sistematik sehingga menghasilkan keharmonisasian(enak untuk didengar). Pengkomposisian bunyi disini lebih pada upaya untuk pembentukan teks-teks yang pada kongkritisasinya dapat berupa bunyi-bunyi yang memekakkan dan menyakiti telinga para pendengarnya. Seperti yang terjadi pada pertunjukan ” Kaspar”, dimana bunyi yang dihadirkan adalah bunyi-bunyi yang menghasilkan kebisingan yang luar biasa. Walaupun bunyi diposisikan sebagai sebuah teks tidaklah dapat berdiri sendiri. Artinya oemaknaan akan bunyi sebagai teks, tidak dapat terpisahkan dari unsur lainnya, terutama unsur tubuh. 

Tubuh Bunyi

Bunyi dalam setiap harapan payunghitam memiliki posisi vital dalam membangun konstruksi teks pertunjukan secara keseluruhan. Maka dari itu kepekaan terhadap bunyi disini bukan dalam pengertian musik psda umumnya, namun lebih kepada kemampuan aktor menyatukan tubuh dan bunyi itu sendiri menjadi sebuah teks.  Kepekaan terhadap  bunyi sendiri tidak diyakini sebagai kemampuan yang dimiliki secara alamiah oleh seorang aktor. Ini merupakan hasil bentukan.  Karena itu dibutuhkan latihan untuk memahami proses penalaran yang dilakukan tubuh terhadap bunyi.

Mendengar

bazir 2

Menumbuhkan ingatan-ingatan bunyi yang dihadirkan dapat melalui media apa saja, baik itu bersumber dari tubuh aktor itu sendiri, maupun dari benda-benda lainnya. Benda apapun yang dapat mengeluarkan bunyi. Aktor dituntut untuk mengenal setiap karakteristik bunyi yang hadir dari setiap sumber bunyi yang digunakan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu mendengarkan bunyi-bunyi tersebut secara berulangkali dengan berbagai macam dinamika(tempo dan volume). 

Mengganggu Ingatan-Ingatan Pengetahuan

Cara ini yang dengan sengaja digunakan untuk mengganggu ingatan pengetahuan terhadap bunyi yang didapat melalui pendengaran. Itu dilakukan dengan menciptakan situasi chaos pada telinga. Membenturkannya dengan bunyi-bunyi, baik yang secara karakteristik memiliki suara yang sama dan sangat berbeda satu sama lainnya. Dengan demikian, selain melatih kepekaan terhadap bunyi sekaligus melatih saya konsentrasi aktor melalui media bunyi. 

Merasakan

Ini merupakan melatih respon tubuh terhadap bunyi, karena setiap bunyi memiliki karakteristiknya masing-masing. Dalam tahapan ini hal terpenting untuk dicapai aktor adalah kepekaan tubuhnya dalam merespon sekaligus memaknai setiap bunyi yang dihadirkan. Kepekaan tubuh terhadap bunyi, dalam hal ini, yaitu kemampuan setiap aktor untuk mempresentasikan setiap bunyi melalui tubuhnya. Atau dengan kata lain, pentransformasian bunyi kepada tubuh. 

bazir 4

Pada tahap merasakan bunyi bisa dilakukan dengan cara membiarkan tubuh bergerak mengikuti bunyi-bunyi yang telah dimaknai, yang dihasilkan sumber bunyi. Misalkan secara teknis, tubuh yang merespin suara batu. Karena bunyi batu dapat dikategorikan ke dalam karakteristik bunyi keras, maka tubuh dengan spontan akan membentuk ekspresi agresif dan distortif. Sebaliknya, apabila tubuh merespon bunyi-bunyi yang memiliki karakteristik lembut, maka secara spontan pula tubuh akan membentuk ekspresi yang lebih natural. 

Mengekspresikan

Dalam tahap ini, bunyi dan tubuh merupakan kesatuan yang telah membentuk sebuah narasi(teks). Artinya, baik bunyi maupun tubuh tidak dapat dilihat atau dimaknai secara terpisah satu dan lainnya. Dalam tahap ini setiap aktor telah mampu menciptakan, memberikan tawaran terhadap gagasan sutradara

Tahapan-tahapan di atas merupakan proses-proses latihan yang saya lakukan dalam mencapai apa yang disebut dengan tubuh bunyi.

DUNIA DALAM DUNIA
Baca Tulisan Lain

DUNIA DALAM DUNIA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *