EPILOG PARA AHLI KATA

tanah harapan

Syahdan, di sebuah negeri yang ditimpa malapetaka, di mana setiap hari adalah pertarungan yang mencekam dalam melawan keputusasaan, terbentanglah sebuah jurang yang amat dalam. Saking dalamnya hingga dasar gelapnya menelan cahaya pun menguburkan setiap bisikan harapan yang menganga, seperti luka busuk di tanah tandus yang tak bisa lepas dari bayang-bayang maut.

Di seberang jurang itu, hiduplah sebuah desa kecil bernama Naparah, yang terisolasi dan merintih dalam kelaparan. Masyarakat yang hidup di sana bagai jiwa-jiwa yang tertawan di limbo; menari bersama bayang-bayang masa lalunya, yang terus di daur ulang oleh sang waktu.

Pecah jerit tangis pilu anak-anak membelah keheningan yang sesak dalam gelisah ketakutan para ibu, yang disembunyikannya dari anak-anaknya, tapi terasa seperti hembusan napas terakhir yang menusuk-tusuk liang nyawa. Meski demikian adanya, jerit tangis pilu anak-anak itu terus merayap pelan, tak bisa ditahan; seolah melayang menyeberangi jurang, mengetuk pintu hati mereka—kaum para bijak yang berada di sisi terang; menuntut hak atas penderitaan yang tak berkesudahan.

Akan tetapi, alam sendiri seolah ikut balik menuduh, bahwa; jurang kelaparan dalam bisikan kematian adalah ulah manusia itu sendiri yang tak puas dalam memetik ragam keinginan: “kenapa memilih tinggal di sana?” Penting mana leluhur dengan kesehatan?” “Pandemi di mana-mana. Generasi harus tetap hidup, tapi kalian tetap memilih tinggal dan berumah di sana!”

“Sumber daya alam kian memburuk, imbas dari iklim politik!” Bagi mereka, semua pertanyaaan dan pernyataan itu bukanlah hal baru. Mereka hanya tahu tentang tanah merdeka para leluhurnya yang bebas dari ragam intimidasi. Bebas dari suhu politik. Merdeka dari migrasi paska iklim.

Meski demikian, segera berkumpullah Para Ahli Kata dan Pena, para penjaga kebenaran doktriner, di sisi jurang. Mereka menggelar pertemuan besar, di bawah retakan langit yang suram oleh esok hari, dan seperti biasanya—mereka tetap mengkaji kitab-kitab tebal, laju berdebat sengit tentang cara paling benar untuk menyeberangi jurang. Roman mereka tegang diliputi keyakinan masing pribadi pada mutlak kebenaran yang mereka temukan, seolah narasi mereka itu merupakam benteng terakhir dalam melawan kehancuran.

“Kita harus membangun jembatan dengan balok dari pohon yang suci!” teriak seorang ahli, mengutip naskah kuno. Suaranya yang lantang tak tergoyahkan itu merupakan gambaran yang penuh dengan otoritas. “Jika tidak, jembatan ini akan runtuh ditelan murka langit!” tandasnya. Melebihi kuasa Tuhan.

“Tidak! Desain jembatan harus mengikuti arsitektur leluhur kita, yang telah terbukti keampuhannya di masa lalu!” bantah yang lain, bersandar pada sejarah panjang. Disepuh dengan notasi menuduh; “Melanggar tradisi berarti mengandung kutukan!” tegasnya. Seolah setiap penyimpangan adalah pengkhianatan fatal.

“Ini semua percuma jika warna benang pengikatnya salah! Apakah kalian tidak tahu ada benang yang dilarang?” sela seorang Ahli Fiqih, dengan penuh ekspresif, laju menunjuk pada perbedaan detail. “Ingatlah, kesalahan sekecil apa pun akan membatalkan seluruh upaya!” tukasnya. Seolah kesucian jembatan terletak pada sehelai benang, bukan pada nyawa yang tergantung di ujungnya.

Perdebatan berlarut-larut, memenuhi udara dengan gema argumen dan fatwa, hingga menciptakan kontras yang tajam, dengan melupakan keheningan yang mencekam di seberang jurang. Seperti itulah kehadiran mereka yang terlalu sibuk mencari kesesatan pada gagasan orang lain, terlalu asyik mengklaim diri sebagai yang paling benar.

Perang pendapat yang hanya menciptakan badai retorika, kian menjauhkan dari solusi. Ironisnya, ada yang mulai berdagang, menjanjikan “investasi” di tepi jurang, seolah penderitaan di seberang adalah ladang dalam peluang bisnis. Lupa pada esensi kemanusiaan, kala bayang-bayang kematian melayangkan gambar di udara terbuka.

Di antara congkak dalam badai argumen di tepi jurang itu, ada seorang Kakek Tua dengan wajah penuh kerutan, ia tak bersuara sedari tadi. Tetiba saja ia berdiri tegak, sambil membawa karung usang yang berisi batu-batu sungai dan gulungan tali sederhana. Dari sinar romannya, ia tak memiliki gelar keagamaan, hanya memiliki kisah panjang penderitaan yang dibalut dengan ketabahan laku dirinya. Ia pun tak fasih berpidato, bahkan wajahnya terlihat “berbeda” di mata sebagian besar Ahli Kata, tak ada yang istimewa dalam sosok utuh dirinya.

Dengan tenang, ia mulai menumpuk batu demi batu, mengikat tali demi tali, di tepi jurang. Tanpa bicara. Tanpa meminta pujian. Akan tetapi, buku-buku jarinya yang tua dengan telapak tangannya yang kasar, begitu cekatan bergerak dalam diam. Denyut nadinya bak melawan arus kecongkakan mereka, seolah waktu berhenti, kecuali untuk dirinya semata. Kakek tua itu seperti bayangan yang tak diinginkan alias seperti sosok asing di tengah keramainan yang penuh klaim, tapi membawa segudang harapan dengan tekad sekuat baja.

Para Ahli Kata sesekali meliriknya dengan cibiran. “Lihatlah si Tua itu, ia tidak mengikuti kaidah kita! Dia pasti sesat! Dia tidak pantas menjadi bagian dari kita!” sinis cibir mereka, seperti desis ular beracun yang penuh muslihat dalam superioritas, dengan mencoba meracuni setiap tetes harapan yang tengah dibangunnya tersebut.

Hari demi hari berlalu. Perdebatan Para Ahli Kata semakin panas, kini mereka membahas siapa yang “lebih Islam” di antara mereka, seakan iman bisa diukur dari kedalaman argumen. Di satu sisi, napas-napas di seberang jurang kian meredup. Sementara itu, Kakek Tua terus bekerja dengan tangan kasarnya, berat suara napasnya seirama dengan gerakannya yang konsisten, seperti detak nadi yang tak pernah berhenti, sebelum maut menjemput.

Jembatan kecil dari batu dan tali itu perlahan memanjang, sedikit demi sedikit, melintasi jurang keluh-kesah. Sehelai benang harapan yang terjalin dari laku ketulusan dalam rupa kerja keras, mampu menyingkap tabir kegelapan yang menguasai suasana: Ketekunan yang membisu di tengah badai verbal.

Hingga suatu senja, saat Para Ahli Kata sedang beristirahat dari perdebatan sengit mereka, sebuah suara pelan—tapi jelas— dari seberang jurang. Suara itu bukan lagi tangis, melainkan notasi riang yang panjang, yang mampu menggetarkan sekujur badan, seperti melodi pertama di musim penghujan, yang mampu menembus keheningan kemarau dalam bisikan kematian.

Sebuah jembatan sederhana telah menyentuh tanah Desa Naparah. Dan di atasnya, seorang anak kecil dengan baju compang-camping, berjingkat hati-hati, menyeberang. Diikuti anak-anak lain, dengan mata berbinar-binar, memancarkan cahaya generasi bangsa yang telah lama padam di saban ruang dan peristiwa. Kini cahaya itu kembali bersinar, mengusir kegelapan.

Anak pertama itu sampai di tubir jurang tempat Para Ahli Kata berkumpul. Ia tak menanyakan, “Apakah Anda dari mazhab yang benar?” atau “Apakah cara Anda membangun jembatan sesuai syariat?” Ragam pernyataan dalam tanya itu tak lagi kontekstual dalam fakta nyata yang kini ada di hadapan. Ia hanya menatap Kakek Tua yang berdiri di ujung jembatan, dengan mata berair penuh syukur. Lalu ia memeluk kaki Kakek Tua begitu erat, dan berbisik, “Terima kasih, Kakek… Siapa yang datang?” sapa-tanyanya dengan intonasi suara yang menahan tangis haru.

Para Ahli Kata terdiam. Pidato-pidato mereka, fatwa-fatwa mereka, perdebatan sengit mereka tentang kebenaran dan kesesatan, semuanya lenyap di hadapan pertanyaan sederhana itu, menghantam mereka seperti tamparan ombak yang telanjang; menelanjangi kesia-siaan dari setiap rupa kata yang mereka rangkai dalam ucap. Jembatan itu tidak terbuat dari batu suci, tidak mengikuti desain leluhur, bahkan mungkin warna talinya “salah” di mata sebagian mereka. Terang dan jelas; jembatan itu ada. Jembatan itu menghubungkan. Jembatan itu menyelamatkan.

Jembatan itu adalah bukti nyata bahwa kebaikan sejati tidak membutuhkan legitimasi, tidak butuh argumen. Pada akhirnya, regenerasi itu lebih tahu; hanya aksi nyata yang mampu mengalahkan setiap kebisingan ego dalam debat kusir: cahaya di ujung jembatan dan kebungkaman yang menusuk melahirkan ketekunan yang membisu di tengah badai verbal: badai argumen di tepi jurang: jurang kelaparan dan bisikan kematian.

Siapa membaca siapa? []

DONGENG DI ATAS MEJA
Baca Tulisan Lain

DONGENG DI ATAS MEJA


Apakah artikel ini membantu?

2 thoughts on “EPILOG PARA AHLI KATA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *