DITEMUKAN DI SUNYI

essai ditemukan di sunyi karya Dom Puntila kosapoin.com

Keramaian tersisa di luar
Napasku menarik sunyi yang terlupakan
Hening meresap ke dalam jiwa

Ada saat ketika saya benar-benar merasa bisa bernapas hanya ketika pintu rumah tertutup. Bukan karena dunia luar menakutkan, tetapi karena suara, isyarat, harapan, dan keributan yang berserakan menuntut tanggapan serentak. Semua itu perlahan menguras energi saya. Di rumah, tekanan itu berhenti. Tidak ada yang menunggu jawaban, tidak ada yang harus segera dibalas. Tubuh dan pikiran akhirnya bisa rileks, napas mengalir bebas, seperti sungai menemukan jalannya sendiri tanpa terikat arus luar. Dalam pengalaman saya, momen ini bukan sekadar kesepian. Ia adalah kesadaran penuh tentang diri sendiri, tentang kebutuhan untuk memberi waktu bagi batin agar bisa menata ulang energi yang terserak di dunia luar. Bernapas di ruang pribadi menjadi cara untuk menyeimbangkan diri, memulihkan ketenangan, dan membangun ulang fokus.

Beberapa orang, termasuk saya, hidup dengan kepekaan yang mudah lelah. Bukan lelah fisik, tetapi lelah karena harus terus membuka diri. Setiap pertemuan meninggalkan jejak; setiap percakapan menyisakan residu, seperti embun menempel di daun saat fajar. Ini bukan tentang tidak menyukai manusia; melainkan menyadari bahwa terlalu lama berada di luar diri sendiri perlahan memangkas inti kehidupan. Orang-orang dengan kepekaan tinggi sering menghadapi dilema: antara memberi tanggapan yang tulus dan menjaga keseimbangan batin. Kelelahan ini muncul dari tuntutan sosial yang terus-menerus, dari harapan yang tidak selalu terlihat, dan dari kebutuhan untuk hadir secara emosional di berbagai situasi. Memahami batas-batas diri menjadi salah satu bentuk kebijaksanaan emosional.

Rumah menjadi tempat untuk menurunkan kewaspadaan. Di sana, saya tidak perlu menjalankan peran, menjelaskan diri, atau tahu harus bersikap bagaimana. Kehadiran tidak diukur dari fungsi. Seseorang boleh ada, bahkan ketika tidak sedang menjadi apa-apa. Dalam keheningan itu, batin mulai mendengar dirinya sendiri—bukan sebagai suara yang mendesak, tetapi gumam lembut yang bergerak di antara dinding sunyi, seperti bayangan cahaya menembus jendela sore. Ruang rumah memungkinkan seseorang untuk memelihara diri. Tidak semua pertumbuhan batin terjadi di tengah hiruk-pikuk sosial; sebagian membutuhkan keheningan, introspeksi, dan pengendapan diri. Rumah menjadi laboratorium pribadi untuk memahami diri, menata ulang energi, dan menemukan arah yang lebih jernih.

Kadang seseorang perlu menjauh dari keramaian untuk kembali mendengar dirinya sendiri. Bukan karena Tuhan jauh, tetapi karena diri sendiri terlalu bising. Di tengah hiruk-pikuk, doa mudah menjadi rutinitas yang dihafal. Di sunyi, doa kembali menjadi percakapan—tidak selalu rapi, tapi jujur, seperti embun menetes di daun ketika pagi menyingkap kabut. Di rumah, tanpa mata yang menilai, kita hadir apa adanya di hadapan Tuhan. Praktik spiritual menjadi lebih intim, karena bukan performa, tetapi kejujuran batin. Bagi saya, ini adalah momen di mana hubungan dengan diri sendiri dan Tuhan bersatu, menumbuhkan kesadaran dan ketenangan.

Budaya Sunda mengenal cara menjaga keseimbangan perasaan yang disebut cicing, yang berarti “diam dengan telinga dan mata terbuka”. Ini bukan kekosongan, tetapi pengendapan. Diam bukan sikap pasrah, melainkan usaha agar tidak tercecer oleh dorongan luar. Kesadaran muncul bahwa hidup yang terus-menerus ramai sering kali kehilangan arah batin. Prinsip ini memiliki relevansi universal: di berbagai budaya, kesunyian dan refleksi pribadi dihargai sebagai sarana untuk menjaga integritas diri. Rumah bukan sekadar bangunan fisik; ia menjadi simbol ruang batin di mana seseorang dapat menata kembali prioritas, memahami diri, dan menyeimbangkan tekanan sosial.

Dunia kini menawarkan jalan terlalu mudah. Segalanya tampak dekat, segalanya terasa boleh. Karena itu, batas diri mudah lelah. Banyak orang terseret bukan karena niat buruk, tetapi karena terlalu sering berada di ruang yang mengikis kehati-hatian. Kontrol diri menipis, bukan karena lemahnya iman, tetapi karena jarang diberi jeda untuk pulih. Memilih tinggal di rumah bisa menjadi bentuk perlindungan yang bijak. Bukan hanya dari dunia, tetapi dari diri sendiri yang rapuh. Di saat tertentu, tinggal di rumah adalah pilihan paling jujur, agar seseorang tidak memaksa diri tetap kuat ketika tahu sedang tidak sanggup. Ada kebijaksanaan dalam menjauh sejenak dari situasi yang terus menguji—bukan karena takut jatuh, tetapi karena menyadari bahwa menjaga diri juga bagian dari tanggung jawab kepada Tuhan.

Namun diam bukan tujuan akhir. Rumah kehilangan maknanya jika hanya menjadi tempat menghindar dari amanah. Dalam iman, mendekat kepada Tuhan tidak berarti memutus tanggung jawab hidup. Justru yang diuji bukan seberapa sering seseorang keluar, tetapi apakah kembali dengan arah lebih jelas dan kesadaran lebih utuh. Pertanyaan tentang orang yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah tidak bisa dijawab semata-mata dengan label kepribadian. Sebab yang lebih penting adalah apa yang sedang dirawat dalam kesunyian itu: apakah menata hubungannya dengan Tuhan dan mengenali dirinya sendiri, atau menunda hidup dengan halus. Jauhnya, tidak semua orang perlu keramaian untuk merasa hidup: beberapa bertahan dengan cara mengurangi agar tidak kehilangan diri di hadapan Tuhan.

Hilang dalam riuh
Ditemukan dalam hening
Sunyi menjadi arah pulang jiwa

[saung bonsai, 18 desember 2025]


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *