Dua lakon teter tubuh karya dan sutradara Rachman Sabur. Kanan PUISI TUBUH YANG RUNTUH. kiri MONOTUBUH HANTU PLASTIK. Produksi Teater Payunghitam Bandung. Dok. Rachman Sabur.
Saat di Paris sekitar tahun 1980-an, saya pernah membuat film tentang Jim Adhi Limas (JimLim). Tubuh berkarakter Jim Lim mempengaruhi kehidupan satu komunitas kreatif teater berbasis morfologi susatra di Bandung, yaitu Studiklub teater Bandung yang juga didirikan oleh Suyatna Anirun. Perkembangan bentuk teater yang berawal dari susastra, kemudian melepaskan teks dan membaca alam. Sebetulnya, teater tubuh sudah menyerap sejak lama dan membentuk wacana religiusitas sebagai realitas yang menubuh, bukan sebagai label.

Tubuh merupakan medium utama yang harus dikuasai karena lebih kompleks dari kata-kata. Jim Lim telah menguasai tubuhnya. Pribadi aktor, pribadi sastra dan pribadi teater, melekat dalam kesehariannya. Saya juga teringat pada Antonin Artaud yang terkesima saat menonton pertunjukan kecak Bali di Paris tahun 1936. Proses kreatif Artaud yang didominasi oleh teks-teks Shakespeare, dikejutkan oleh tubuh yang mencipta teks. Semua jenis emosi muncul, hanya dari jari-jari tangan sang penari.
Rachman Sabur dengan morfologi teater tubuh memiliki pemahaman dasar, bahwa aktor harus bisa menguasai tubuhnya sendiri. Ia tidak bertindak sebagai “anti kata-kata”, karena kata-kata dan tubuh saling memberi stimulus. Menariknya, Rachman Sabur memiliki pengalaman personal dalam menguasai teks sastra yang tidak lagi bersifat teknis panggung. Pertunjukan monolog Racun Tembakau karya Anton Chekov dimainkannya lebih dari 40 kali, membentuk tubuh yang alami dan melampaui pertunjukan teater.
Religiusitas dan Alam, Batang Tubuh Seorang Teatrawan
Rasa, akal, dan korporealitas penguasaan tubuh. Kuasa tubuh menyentuh syaraf-syaraf utama yang menyebabkan terjadinya proses mengalirnya darah di dalam otak. Tubuh secara mandiri tidak bisa dikendalikan oleh otak yang lumpuh.

Relasi tubuh dengan ekosistem alam merupakan kerja otak yang selalu berdialog. Jika otak macet, berarti tubuh tidak menutrisi otak. Syaraf-syaraf utama otak berelasi dengan kebiasaan tubuh dalam keseharian. Kelebihan dari seorang aktor teater tubuh memiliki intuisi dan kepekaan untuk memasak otot-ototnya sendiri dengan idiom latihan. Stroke yang dialami Rachman Sabur menyebabkan ia mati rasa dan kehilangan 50 persen memorinya. Penyakit tersebut bisa disembuhkan oleh intensitas tubuh yang bersentuhan dengan batu krikil, air, dan tanah.
Rachman Sabur sangat yakin pada tubuhnya sendiri. Alat indera nya kembali aktif berkat penguasaan dan penataan emosi. Pengalaman stroke yang menjadi landasan karya “Puisi Tubuh Yang Runtuh” pun bermetamorfosa menjadi tubuh yang tidak lagi runtuh.
Perilaku keinderaan yang merespons realitas alam juga hidup dalam karya-karya Rachman Sabur, seperti “proses di Sungai Gongguan”, Taipei Taiwan(2015), ” Migration Theatre And Music Festival(2014), “Tubuh Padi” (2017), “Cak And Pohaci”, Tainan, Taiwan(2016), ” Perahu Noah”(2007) dan “Black Moon” (2005). Karya-karya tersebut tidak hanya berkutat pada teknis pertunjukan, tetapi ada persoalan baru tentang lingkungan hidup. Kesenian menjadi sangat ekologis. Tubuh memiliki relasi dengan setting alam yang teatrikal. Sisi eksentrisitas dalam karya Rachman Sabur, dapat mendorong lahirnya pendidikan seni berbasis lingkungan hidup.
Estafet Pengetahuan yang Tidak Pernah Selesai
Rachman Sabur menciptakan “Kaspar” dalam puluhan seri. Kaspar pertama(1994) bersifat general, menggambarkan penindasan oleh sistem yang sangat militeristik pada zaman Orde Baru. Perkembangan Kaspar selanjutnya diciptakan dari situasi nasional ke dalam penindasan sistem pendidikan seni. Seni seharusnya menghargai subjektivitas secara sederhana menulis kata “saya” dalam pola pendidikan seni tidak diperbolehkan dan diharuskan menulis “kami”; pertanyaannya adalah ” kami ” itu siapa? Dalam dimensi sosial, secara tidak langsung kemerdekaan telah terampas, karena tidak boleh menghargai dirinya sendiri. Larangan memiliki pribadi merupakan bentuk pikiran yang dihukum, lebih tersiksa daripada fisiknya yang dihukum.

Dengan intens ia menyelam ke dalam kehidupan yang sangat privat, ia memberi pengetahuan pribadi dalam dunia seni berdasarkan pribadi dalam dunia historis.
Masa kecil, kita sudah belajar bersama nenek moyang. Dalam penindasan pendidikan seni, yang dimatikan bukan aku sebagai sosok, namun sejarah lah yang dirampas, sehingga tidak boleh memakai kata “saya”. Padahal ” Saya” dalam kehidupan aktor adalah “saya” yang hidup 100 tahun karena ada secercah kakek dan buyut “saya” yang dominan. Secara pendidikan dan penataan religiusitas, di dalam tubuh ‘saya”ada berlapis-lapis leluhur. Apakah harus melawan leluhur? Penderitaan pun menjadi lebih panjang. “saya” hidup di dalam kultur, tetangga “saya” sebagai dalang, nenek “saya” sebagai pesinden.
“Saya” dengan tubuh yang cerdas lahir dari memori sejarah
Pengertian universitas dalam karya “Universitas Kaspar”(2019) merupakan bentuk kelangsungan pendidikan. Tony Broer sebagai aktor tetap pertunjukan ” Kaspar”, dalam perjalanan keturunannya mengalami pengalaman emosional yang sama dengan “Kaspar”. Tony Broer tidak lagi membaca naskah, ia mengalami sendiri penderitaan dalam pendidikan seni. ” Kaspar” dalam tentang waktu 25 tahun, tidak pernah menjadi karya yang selesai. “Universitas Kaspar” akan terus berlanjut karena penindasan sistem pendidikan seni hari ini, masih terjadi.
Karya “Black Out Munir” (2018) adalah sama konteksnya dengan “Universitas Kaspar”. Komunikasi kemanusiaan bukan hanya persoalan pikiran yang dikerdilkan. Tubuh Munir dirampas bahkan dibunuh karena membela penderitaan orang lain. Karya ini pun akan terus berlanjut, karena kasusnya tidak pernah dituntaskan oleh negara.

Rachman Sabur semasa Sekolah Dasar mengenal seni pertunjukan dari seorang pembantu tetangganya yang sering mengajak untuk menonton. Ingatan tersebut terseret dalam rentang waktu yang panjang dan tidak akan pernah berhenti. Hidup dalam dunia Kesenian adalah hidup yang berkesinambungan dengan sebuah arus pendidikan. Membagi knowledge bukan karena pangkat, tapi memang memiliki konsekuensi untuk bisa mengajar sampai starata-3. Predikat Profesor adalah dorongan untuk memperbarui energi terus menerus untuk tetap melakukan estafet knowledge creation tentang kemanusiaan.
Platform professorship Rachman Sabur memiliki keragaman genre, keragaman teknik, serta keragaman ruang penelitian pertunjukan. Platform dengan dimensi komunikasi teater yang bukan hanya mencakup secara horizontal, tetapi juga mendalam secara spasial yang mencakup lokal, nasional, dan internasional.
Penemuannya terhadap tubuh Jawa Barat selalu ditanggapi secara bergairah, selalu mengalami kesaksian kritikus dan selalu memiliki permintaan pentas. Ekspresi teatrikal yang tidak habis dalam pertunjukan serta diskusi dalam masyarakat yang berkelanjutan telah melahirkan wacana dalam pendidikan seni. Bahkan Rachman Sabur hari ini, membawa tubuhnya kembali menyelam ke dalam kebudayaan yang awal dalam masyarakat, yaitu suku baduy. “Tidak selesai” yang diucapkan dalam bentuk perilaku bukan sebagai semboyan. Rachman Sabur sangat mampu untuk mendekatkan pemahaman konsumsi tubuh dan budaya dengan institusi kesenian*


4 thoughts on “REFLEKSI KARYA SENI RACHMAN SABUR”