MEMBACA TRADISI TOPENG DALAM KETUBUHAN KONTEMPORER

fx 1

PUISI TUBUH YANG RUNTUH karya & sutradara Rachman Sabur. dok TPH

Ada kejutan baru dari Rachman Sabur setelah mengalami “laku asketik” selama enam bulan dalam kegundahan tidak pasti dari tubuhnya. Ia didera serangan stroke yang “untungnya” mampu dilawan dengan sebuah kemauan keras untuk sembuh yang dilakukannya dengan berbagai cara, sehingga tradisi kreatifnya dalam kelompok teater Payung Hitam terus berlangsung memberikan apresiasi bagi komunitas penonton yang telah dibangunnya bertahun-tahun. 

fx 2
PUISI TUBUH YANG RUNTUH karya & sutradara Rachman Sabur. dok TPH

Pada tanggal 4-5 Agustus 2010 lalu, di Gedung Kesenian Dewi Asri STSI Bandung, teaternya tampil unik dengan judul, : “Puisi Tubuh Yang Runtuh” sebuah karya yang membaca kembali potensi genre Topeng Cirebon, yang ia interpretasi kan, ia olah dalam sebuah laku gerak tubuh yang jauh dari aslinya, tetapi menawarkan empowering isi yang justru sangat kuat dan tak terduga, dalam konsep spatial yang mengguncang sisi tatapan visual penontonnya. Sajian bentuk topeng Cirebon biasanya diawali dengan topeng Panji yang geraknya “nyaris’ diam dan berkesan lambat dengan karakter lungguh seperti halnya tokoh Arjuna dan berakhir dengan tokoh Kelana yang serba keras, cepat, dengan representasi warna merah yang penuh dengan nafsu dan gairah lahiriah. Hal ini bertentangan dengan tokoh panji yang berwarna putih, yang bisa ditangkap sebagai tahap awal kehidupan yang mesti diisi dengan warna-warni yang berbeda antara lain hijau, merah muda, dsbnya, yang manifestasinya ada pada tokoh Pamindo, Rumyang,Tumenggung, Jingga Anom. Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam tradisi kreatif di antara dalam Topeng Cirebon ini esensinya adalah spektrum perwatakan manusia dari energi yang paling halus sampai dengan paling kasar. Manifestasi bentuknya adalah berkisar pada watak kinestetik yang terungkao dalam pola-pola gerak tubuh dari masing-masing karakter yang diusungnya.

fx 3
PUISI TUBUH YANG RUNTUH karya & sutradara Rachman Sabur. dok TPH

Ya, pengelolaan tubuh manusia pada suatu saat harus mengalami jeda. Dan itu juga merupakan keniscayaan yang kadang tak terduga oleh pelakunya, yang bisa terus berlanjut dalam dinamika tempo kehidupan sehari-hari, atau sebaliknya. Disini kontribusinya bisa masuk dalam kompilasi enegi tanah yang abadi, yang memberikan hidup dalam kematiannya, yang secara asalnya memang memberikan spirit kesuburan dalam manifestasi proses cultura. Disinilah kekuatan universal Topeng Cirebon sebagai sesuatu yang mampu memberikan inspirasi bagi para pecinta lingkungan, dimana tubuh dalam perspektif lokal memang disadari terdiri dari : anasir tanah, air, api, dan angin. Penghormatan akan tanah sebagai energi abadi yang terus menghidupi manusia. Kemudian banyak dilakukan orang, dari kebo-keboan di Banyuwangi sampai Metaekologinya Sardono W Kusumo pada dekade akhir tahun 1970-an.

Payung Hitam dengan Rachman Sabur sebagai mesin kreatifnya terus menelurkan berbagai karya yang menghentak dengan ciri dan orisinalitasnya terasa ada siklus kembali ke local genius milik masyarakat Cirebon. Dekonstruksi yang dilakukannya memberikan, sekali lagi, konsistensi sikapnya yang keras pada kepeduliannya dengan lingkungan namun sekaligus ditengah kesadaran kerapuhan tubuh yang sedang dihadapinya. Tiada kata lain yang mampu menggambarkan proses keras yang dihadapinya, selain “militansi kreativitasnya” yang didasari dengan destination addict. Sebuah kecanduan pada proses kreatif tisda henti serapuh apapun kondisi ketubuhan demi “ketubuhan” yang diruntuhkan nya demi energi Abadi.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *