Gerimis tipis di pagi hari—di lereng Gunung Agung bukanlah gerimis biasa, melainkan sepasukan kabut yang mencair dari adanya sinar matahari pagi. Darma yang masih tertidur. Avieka yang sudah mulai beraktifitas dan Dom yang masih nyantai menikmati aroma pagi dengan secangkir kopi dan sebatang rokok—disepuh suara-suara alam yang merayap-datang dari balik hutan lindung—memberikan nuansa simfoni lain dalam menyambut hari.
“Ternyata membuat bonsai itu tak semudah yang aku pikirkan!”
“Seperti itulah proases penciptaan dan orang hanya melihat dari hasil, tanpa pernah ingin tahu apakah nilai yang diberikannya itu layak atau tidak!”
“Ngomong-ngomong tentang nilai, bagaimana kabar media online yang kau kelola?”
“Selama ini berjalan dengan baik. Antusias pengunjung meningkat, meski belum dapat iklan.”
“Maksudku apa kau tak pernah mengecek perihal semua tulisan yang masuk?”
“Tentu saja dibaca, sebelum dimuat!”
“Bukan itu Dom, maksudku inikan jamannya teknologi. Cek plagiat lebih mudah dan membuat tulisan itu hanya hitungan menit saja!”
“Detektor dan Ai, maksudnya?”
“Yups! Menurutmu, apakah ada yang terindikasi virus instan dari tulisan yang masuk?”
“Jujurnya sih … Saya tidak diribetkan perihal itu!”
“Why?”
“Tentu kau sudah mendengar kabar di berita-beritakan, bahwa karya lama Pramoedya pun dikatakan plagiat. Hal ini jelas sudah, apakah alat detektornya yang error atau memang Pramoedya yang plagiat? Sementara kita semua tahu, bahwa karya-karya sastra Pramoedya itu tidak ada hasil dari plagiasi—itu sebabnya beliau bisa jadi kandidat Nobel!”
“Itukan Pramoedya … jelaslah kelasnya beda. Maksudku penulis-penulis yang masuk!”
“Jika pun ada, hal itu bagian dari proses. Sebagaimana kali pertama di itu waktu kau yang membuat bonsai bunjin, meniru konsep yang sudah saya buat, meski bahan pohonnya beda, tapi secara gambar sama!”
“Tapi hal itu akan meruntuhkan reputasi media online yang kau gawangi!”
“Di sisi lain, ya. Di sisi lainnya lagi—berdasar hemat saya, hal itu kembali lagi pada penulisnya!”
“Hem … apa kau masih percaya pada kejujuran di ini zaman?”
“Kita hidup di zaman kesempurnaan agama. Gambaran kasarnya itu begini: Baik dan buruk tak perlu lagi dalam repot-repot untuk mengingatkan, toh nurani mana yang bisa membohongi dirinya sendiri? Dan di sisi lain, kita jangan pernah melupakan esensi dari baik itu buruk. Buruk itu baik!”
“Artinya kau membiarkan hal itu terjadi? Eeeeu … maksudku bilamana ada karya hasil dari kloning digital?”
“Tidak juga!”
“Terus, dengan pernyataanmu tadi?”
“Begini … pada dasarnya, semua karya yang terlahir itu hasil dari perenungan meskipun bermula dari terinspirasi, adaptasi atau plagiat sekalipun!”
“Itu artinya kau membiarkan hal itu terjadi!”
“Tidak juga!”
“Tidak bagaimana?”
“Kau masih ingat pada kisah Darma yang pernah kau ceritakan pada saya?”
“Yang mana?”
“Ketika itu kau pernah berkata … pernah satu bangku di sekolah dasar. Di kelas lima, dalam pelajaran materi mengarang, ia menulis cerita yang alurnya mirip dengan sebuah buku yang sudah terbit, hanya tempat dan tokohnya saja yang berbeda, tapi gaya penuturannya hampir mirip. Padahal karangannya itu langsung ditulis di ruang kelas bersama-sama dengan murid yang lain? Dan di itu waktu, wali kelas kalian mengirimkan karangan itu untuk dilombakan. Terbongkarnya paska pengumuman dari hasil penilaian dewan juri. Sampai akhirnya semua dewan juri merasa terpukul bahwa alur kejadian yang dituliskan oleh Darma, murni dari hasil liburan sekolahnya yang dihabiskan di kampung halaman neneknya—artinya, terkadang ada kisah yang sama yang dialami oleh lain orang, tapi lain tempat dan waktu. Sebagaimana kita pernah melihat sebuah lokasi yang terasa mirip dengan lokasi yang baru kita tapaki, di luar dejavu!”
“Tapi itu seribu satu!”
“Ya. Sejuta kurang satu rupiah pun tidak bisa dikatakan sejuta!”
“Haduh, kok jadi ribet begini?”
“Ribet bagaimana?”
“Intinya mengaku sajalah bahwa kau membiarkan hal itu terjadi?”
“Bagi tafsirmu ya, tapi bagi prinsif saya itu tidak dan tak!”
“Terakhir … tegasnya?”
“Ai itu bisnis. Bisa lolos dari semua detector plagiat, asal dibayar. Bisa lolos dari detector mesin, asal dibayar. Lucunya, kini para juri lomba ikut-ikutan ngecek hasil karya peserta lomba pakai alat detector, tanpa mengingat lagi jejak baca atau pustaka yang masih diingat dengan baik di dalam memori ingatannya!”
“Ya wajarlah … Kan daya ingat manusia itu terbatas!”
“Betul! Dan masalahnya itu di sini: Kenapa pula menyanggupi jadi dewan juri kalau hanya baru baca buku masih bisa dihitung oleh jari? Satu hal yang selalu dilupakan dalam format penilaian: Ada banyak orang dengan gaya penulisan yang sama, katakanlah lirih, tapi rasa yang terlahir tak bisa dipukul ratakan. Bahayanya sentimental hadir dengan memfonis, tulisan ini meniru gaya si penulis anu, tak orsinil. Gugur!”
“Hem … bolehlah. Ada lagi?”
“Katakanlah penulis a dan b membaca sebuah kitab agama yang penulisnya sama dan pentahiknya pun sama. Kemudian mereka terinspirasi untuk menuliskannya jadi karya sastra dalam format pusi misalkan. Penulis a, karya-karya yang dilahirkannya itu sudah terbiasa terinspirasi dari kitab klaisk dan penulis b baru memulai. Bertemulah karya keduanya di lomba, otomatis penulis b dicap pengekor dengan alasan gaya bahasa sama, tapi jejak rasa pasca selesai membaca karya yang jelas berbeda senantiasa diabaikan!”
“Terus?”
“Kita adalah sisa-sisa! Ya … Sebaiknya kembali fokus ke bonsai saja!”
“Kehabisan bahan?”
“Tidak … Saya hanya berpikir sederhana saja, bahwa percakapan kita sedari tadi itu berada pada ranah sensitive; bilamana percakapan kita ini—katakanlah dipublis, tentu saja menjadi bola panas yang liar!”
“Jika dunia kehilangan wacana, ya kiamat!”
“Betul, tapi ini tentang rasa. Bukan apa dan mengapa laju bagaimana. Sebaiknya kita tutup saja percakapan ini, kembali ke fokus: Bonsai! Vie, hari ini kau mau pilih pohon apa untuk praktik?”
“Pohon bahasa saja dengan akar rumputnya … ehehehehe … ups! Satu lagi, apakah Ai bisa dikata sebagai pesaing editor senyap atau jokie?”
“Pagi semua bagi yang bangun terlambat!” ucap Darma yang baru kembali dari dunia kembang lelap. []









