GENJER2, STATUS, DOSA BERPIKIR

ilustrasi dramatik ab asmarandana kosapoin.com

Sejak menyukai lagu Genjer-genjer, hidup Slobodon tak lagi sederhana.
Bukan karena melodinya.
Bukan karena liriknya.
Tapi karena negara punya alergi kronis pada ingatan.
Awalnya cuma iseng.
Slobodon menyanyikannya sambil masak mi instan.
Nada naik, air mendidih, sejarah ikut berdesis.
Ia tak sedang berpolitik.
Ia cuma lapar dan bernostalgia.
Tapi di negeri ini, nostalgia sering dianggap niat jahat.
Besoknya, notifikasi masuk.
Bukan dari kawan.
Bukan dari pinjol.
Tapi dari rasa diawasi.
Ia merasa langkahnya diikuti bayangan yang tak punya badan.
Teng-teng… tukang bakso…
Warung kopi mendadak terasa seperti ruang interogasi imajiner.
Orang yang diam terlalu lama tampak seperti intel magang.
Yang terlalu ramah, lebih mencurigakan lagi.
Slobodon dituduh ke kiri-kirian.
Padahal ia ke mana-mana naik motor, bukan naik ideologi.
Kesalahannya cuma dua
Suka lagu yang terlalu tua untuk dilupakan.
Menulis status yang terlalu jujur untuk dimaafkan.
Di status terakhirnya ia menulis:
“Negara ini aneh.
Yang lapar disuruh sabar,
yang kenyang disuruh bicara stabilitas.”

Sejak itu, algoritma berubah.
Timeline-nya sepi.
Like menghilang.
Tapi rasa was-was meningkat.
Slobodon mulai curiga pada dirinya sendiri.
Jangan-jangan benar, ia kiri.
Ia cek dompet: kosong.
Cek rekening: nihil.
Cek masa depan: loading…
“Kalau ini kiri,” gumamnya,
“berarti kanan isinya apa?

Di tengah kebingungan itu, muncul kabar baru.
Seorang komedian ..viral.
Bukan karena leluconnya gagal.
Tapi karena leluconnya kena.
Katanya menghina gibran
Padahal yang ia lakukan cuma satu dosa besar
bercanda sambil berpikir.

Di negeri ini, stand up comedy sering salah paham.
Yang berdiri dianggap melawan.
Yang lucu dianggap melecehkan.
Yang kritis dianggap tidak tahu diri.
Slobodon menonton potongan videonya.
Ia tertawa sebentar.
Lalu diam lama.
Karena ia sadar:
bukan Panji yang diadili,
tapi kemungkinan bahwa humor masih boleh jujur.
Lucu itu berbahaya.
Karena tawa membuka jarak antara rakyat dan kekuasaan.
Dan kekuasaan tak suka dijadikan punchline.

Suatu malam, Slobodon bermimpi didatangi intel.
Intel itu tidak galak.
Hanya bingung.
Matanya cekung, perutnya kosong, pikirannya penuh aturan.
“Kang,” kata si intel,
“kenapa suka Genjer-genjer?”
Slobodon menjawab tenang,
“Karena lagu itu jujur.
Dan kejujuran sekarang terdengar seperti ancaman.”
Intel itu mencatat.
Lalu berhenti.
Menangis sedikit.
Karena ia juga lapar,
tapi tak boleh mengkritik.
Tak boleh menertawakan.
Tak boleh bingung terlalu lama.
Saat bangun, Slobodon sadar:
negara ini bukan takut pada lagu,
bukan takut pada status,
bukan takut pada komedian.
Negara ini takut pada rakyat
yang masih bisa tertawa sambil berpikir

Sejak itu Slobodon tetap menyanyikan Genjer-genjer.
Volumenya kecil.
Kesadarannya besar.
Ia tahu, di negeri ini
berpikir keras bisa dianggap makar,
bernyanyi bisa dianggap ideologi,
bercanda bisa dianggap penghinaan,
dan diam terlalu lama
bisa dianggap setuju.
Maka Slobodon memilih jalan tengah yang paling berbahaya
tetap hidup,
tetap menertawakan negara,
tetap waras di tengah kewarasan yang diawasi.
Karena kadang,
yang paling subversif
bukan aktivis,
bukan seniman,
bukan komedian,
tapi orang biasa
yang menolak jadi bodoh
meski ditertawakan,
ditakuti,
dan dipantau
oleh negara
yang terlalu serius
menghadapi lelucon.


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *